Rasain Kamu - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Sabtu, 01 Maret 2014

Rasain Kamu

Penampilannya meyakinkan tiap orang yang memandangnya. Kesan pertama orang yang berkenalan dengan dia, pasti menyangka sebagai seorang pengusaha, atau salah seorang pejabat penting di daerah. Pakaiannya selalu parlente, dandy, dan rapi, didukung posturnya yang lumayan besar dan tegap.

Namanya Sony, orang lain akan kesulitan menebak apa pekerjaan dia sebenarnya. Sekali waktu ia mengaku sebagai seorang trader hasil tambang, di lain kali ia mengatakan sebagai seorang pemerhati lingkungan dari sebuah LSM, dan terkadang ia juga mengaku sebagai wartawan dari sebuah media yang terdengar masih asing di telinga yang mendengarnya.

Sony selalu membawa sebuah tas hitam yang tampaknya cukup berat penuh berbagai berkas. Ia pun memiliki 2 ponsel merk terkenal, yang masing-masing kegunaannya berlainan. Sayangnya Sony kemana mana mengendarai sepeda motor. Inilah poin minus agaknya yang masih meragukan penampilannya. Andaikan dia mengendarai sebuah mobil, maka dipastikan penampilannya perfect.

Aku sudah cukup lama memang kenal Sony. Kami tinggal satu kota, dan aku pun mengetahui siapa sebenarnya sosok Sony. Bila ketemu Sony biasanya di warung minum yang banyak terdapat di kotaku.

Dan  biasanya lagi Sony memilih mampir di warung minum yang terdapat pelayannya cukup cantik. Nah, disinilah nantinya Sony memulai aksinya untuk menarik perhatian si pelayan warung minum. Sony biasanya berlagak seolah seorang pengusaha yang amat penting yang selalu diperlukan orang. “Kapan uangnya bisa ditransfer ke rekening saya ? Batubara yang kami muat sudah hampir selesai,”  kata Sony berbicara melalui ponsel. “Saya minta dana yang Rp. 500 juta itu dibayar cash melalui rekening saya, oke,” ujar Sony pula masih lewat ponsel dengan suara yang dikeraskan.

Suatu kali Sony akan berlagak sebagai seorang wartawan yang disegani bila diantara pengunjung warung minum terdapat pengunjung yang tampak seperti pengusaha sungguhan atau aparat. “Saya sudah investigasi sebuah lokasi tambang ilegal, tunggu saja dalam minggu ini data beserta foto-fotonya akan saya kirim ke redaksi,” kata Sony melalui telpon dengan muka serius. Bila sudah begitu, maka mata para pengunjung warung semua akan tertuju ke Sony.

Aku yang mengetahui siapa Sony sebenarnya hanya diam membiarkan tingkahnya itu.

“Mas ini temannya, ya ?” tanya seorang pengunjung warung di sebelahku dengan suara hampir tak terdengar. “Nggak juga sih, cuma sering ketemu dia aja,” jawabku. “Wartawan Koran mana sih dia ? tanya di sebelahku lagi. “Entahlah, coba tanyakan langsung ke orangnya,” sahutku. “Malas, lihat lagaknya aja sudah bikin sebel,” cetus tetangga minumku itu.

Sementara Sony asyik menggoda pelayan warung yang tampak tertarik dengan tingkah polah dan omongan Sony. “Namanya siapa dik supaya enak memanggilnya ?” Tanya Sony ke pelayan warung yang masih belia, berkulit kuning bersih, lumayan semok, dan tingginya sedang. “Panggil saja Mita,” singkat jawaban gadis itu. “Bisa minta nomer HP-nya, dik ?” pinta Sony. “Untuk apa mas ?” balik tanya si pelayan. “Yah buat disimpan aja, siapa tahu nanti bisa diperlukan,” ujar Sony sekenanya.

Entah terpaksa atau tidak, gadis warung itu akhirnya mau memberikan nomer HP-nya ke Sony.

Cukup lama aku dan Sony di warung minum itu. Aku sudah menghabiskan 2 gelas kopi, 1 bungkus mie instant, dan beberapa penganan ringan. Aku sengaja agak berlama-lama untuk mengetahui tingkah dan polah si Sony. Dan jujur saja, aku pun sebenarnya tertarik dengan gadis pelayan warung minum itu. Hanya saja aku tak seatraktif Sony.

Meski aku pun sebenarnya agak sebel melihat Sony berbicara dengan gadis itu, aku biarkan saja. “Biar aja habiskan semua omonganmu, baru nanti giliranku,” aku membatin.

“Oke bro, aku pulang duluan. Oh ya, tolong dibayarkan dulu minumanku,” cetus Sony yang sudah beranjak dari tempat duduknya. Aku cuma mengangkat jempol mendengar  permintaannya. Aku sudah hapal betul kelakuan Sony bila ketemu teman di warung minum. Ia tak akan mau mengeluarkan uang untuk membayar, tapi menyuruh teman yang keluar uang. Ada saja selalu alasannya supaya tak keluar uang di warung ; buru-buru pulang karena ada urusan penting, atau tak ada uang kecil.

“Abang kok nggak ikut pulang ?” tanya Mita sepeninggal Sony. “nanti aja, aku masih betah disini lihat kamu,” jawabku yang membuat Mita agak tersipu. “Ah abang bisa aja. Dari tadi abang kok kelihatannya cuma diam ?” tanya Mita lagi. “Lagi malas ngomong aja, kan tadi Mita sudah asyik banget ngomong sama temanku ?” ujarku memancing. “Namanya juga kerja di warung bang, mesti melayani orang sebaik mungkin termasuk melayani ngomong, nanti dikira sombong,” balas Mita. “Oh ya !” cuma itu yang keluar dari mulutku.

Jam menunjukkan pukul 9 malam waktu setempat ketika Sony menelponku. “Halo, lagi dimana ?” tanya Sony. “Aku masih di rumah,” jawabku. “Ini aku di tempat karaoke, kesini temani aku,” pinta Sony. “Iya, nanti aku kesana, aku ngajak teman lainnya,” sahutku.

Kemudian aku pun menelpon 2 temanku yang juga merupakan temannya Sony, yaitu Busro dan Slamet. Keduanya kuminta datang ke rumahku supaya pergi bareng ke tempat ke karaoke gabung dengan Sony. Tak berapa lama keduanya pun tiba di rumahku. “Gimana nih rencananya ?” tanya Busro yang merupakan seorang wartawan dari sebuah Koran Mingguan terbitan Kota S di pulau Jawa. “Aku curiga nih, paling-paling nantinya kita lagi yang bayar karaoke dan minuman disana,” timpal Slamet yang juga adalah seorang wartawan Koran Mingguan.

Aku pun mengungkapkan rencana dan strategi untuk member pelajaran kepada Sony, yang sudah sering mengerjai kami. “Nanti disana biarkan aja si Sony yang kita suruh nyanyi. Bila dia pesan minuman, masing-masing kita minum 1 kaleng. Setelah kita anggap cukup lama, nanti satu persatu secara bergiliran kita pamitan keluar ruangan sebentar. Langkah selanjutnya kita main SMS aja nanti,” ungkapku.

Kedua temanku paham dan setuju rencanaku.

Setiba di tempat karaoke, tampak Sony sedang menyanyi ditemani seorang pelayan (ledis). Kami pun masuk dan bergabung. “Kok nggak ada minumannya ?” tanyaku ke Sony. “Nunggu kalian dulu, nggak enak bila belum kumpul,” sahut Sony. “Pesan berapa kaleng bir nih ?” Tanya Sony lagi. “Terserah kamu lah,” ujarku singkat.

Sony meminta Ledis untuk menyediakan 12 kaleng bir berikut makanan ringan.

Sesuai rencana kami bertiga hanya duduk membiarkan Sony terus menyanyi sambil memeluk Ledis yang menemaninya. Masing-masing kami hanya mengambil 1 kaleng bird an meminumnya.

Beberapa lama kemudian sebuah SMS masuk ke ponselku bunyinya, “ayo kita keluar, sudah cukup lama ini,” SMS dari Busro. Aku balas, “kamu yang duluan keluar, baru Slamet, aku belakangan.”

Busro pun mendekati Sony yang terus asyik menyanyi, “aku keluar sebentar ada yang mau ketemu, ini penting urusan duit,” pamit Busro. “Ya, jangan lama-lama, nanti balik kesini lagi, ya,” pinta Sony.

Seperempat jam kemudian giliran Slamet yang pamitan, “Son, si Busro tuh minta aku menemui dia. Nanti aku balik sama-sama dia deh kesini,” ujar Slamet sambil beranjak.

Busro dan Slamet sudah cukup lama meninggalkan ruang karaoke. Aku sebenarnya sudah gelisah hingga ada SMS dari Busro yang masuk ke ponselku. “Ayo cepetan, kami nunggu di warung minum depan Hotel F,” tulisan di ponselku. “Oke bro, aku kesama,” balasku.

Dengan sikap pasti aku pun bicara ke Sony. “Son, kayaknya Busro dan Slamet perlu bantuanku menghadapi urusannya disana, mereka minta aku,” ujarku kalem supaya Sony tidak curiga. “Urusan apa sih mereka pakai minta kamu yang mesti kesana ?” tanya Sony. “Kata mereka sih urusan menyangkut duit,” sahutku. “Okelah kalo begitu, tapi bila sudah selesai cepat kembali, aku nggak cukup duit nanti bayar semua ini,” kata Sony. “Siap bro, kami kembali,” kataku sambil tos tangan.

Aku pun melaju dengan sepeda motorku menemui Busro dan Slamet di sebuah warung minum. “Rasain kali ini kena kau !” cetus Slamet sambil tertawa. “Orang seperti itu memang sekali-sekali harus dikasih pelajaran biar mikir kalo mengerjai teman dan enak sendiri,” tambah Busro.

Aku tak menanggapi omongan keduanya, hanya senyum ke arah mereka yang tampak puas bisa mengerjai Sony.

Kami bertiga minum-minum di warung yang memang tempat biasa kami kumpul, sambil menunggu reaksi dari Sony.

Sekitar lebih sejam Sony menelpon ke ponselku, tapi kubiarkan, tidak ku angkat. Ada beberapa kali dia menelpon tetap kubiarkan. Karena tak kuangkat, Sony menelpon ke ponsel Busro. “Biarkan, jangan diterima,” cegahku ke Busro.

Akhirnya Sony menelpon ke ponsel Slamet. “Angkat met !” pintaku. Slamet tak juga mau menerima telpon dari Sony. “Angkat saja met. Kamu bilang aja sudah di rumah, dan kami berdua juga sudah pada pulang,” ujarku dan Busro berbarengan.

Slamet pun menerima panggilan telpon berikutnya dari Sony. “Kalian dimana, ini aku sudah mau selesai,” ujar Sony terdengar di ponsel Slamet yang speakernya dibuka. “Aku sudah di rumah, bro,” jawab Slamet. “Terus yang 2 orang itu kemana ?” tanya Sony. “Tadi kata mereka sih pulang ke rumah,” sahut Slamet. “Mati aku ! Gimana bayarnya, padahal aku cuma bawa duit nggak banyak,” sungut Sony. “Sudahlah, bayari saja. Kamu kan bisa narik sebentar di ATM,” kata Slamet. “Mana ada duit di ATM-ku,” suara Sony bergetar. “Masa sih nggak ada duitnya, bukannya kemaren kamu habis memberangkatkan batubara 1 tongkang,” balas Slamet pula.

Sony memutuskan hubungan telpon sesudah mendengar perkataan Slamet terakhir. Rupanya perkataan Slamet cukup telak menghantamnya. Kami bertiga malam itu sangat puas sudah memberi pelajaran ke Sony.

Beberapa hari kemudian seorang teman cerita, menurutnya si Sony sangat kesal sehabis kami kerjai bertiga. “Dia terpaksa ninggal KTP dan SIM C sebagai jaminan untuk bayar karaoke, Ledis beserta minumannya,” ujar teman itu.

“Itulah bila orang mau enak sendiri, selalu teman yang disuruh keluar duit, sedangkan duit sendiri disimpan,” kataku. (Spicesland, Feb 7th’ 2011)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.