Islam - Kristen; Cuma Nabinya yang Berbeda - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Selasa, 11 Maret 2014

Islam - Kristen; Cuma Nabinya yang Berbeda

Ketika itu hari pertama puasa ramadhan sekitar 16 tahun lalu. Aku sedang berada di sebuah pemukiman etnis Dayak di kaki pegunungan Meratus, pegunungan yang berada di wilayah propinsi Kalimantan Selatan.
Keberadaanku di pemukiman etnis Dayak yang dihuni oleh sekitar 150-an kepala keluarga itu, dalam rangka mencari hasil hutan seperti damar, kayu manis dan madu lebah hutan.

Aku ditemani seorang pria dari etnis Dayak yang menjadi anak buah iparku yang mana memberiku pekerjaan mencari dan membeli hasil-hasil hutan tersebut.
Kami pun diterima di sebuah keluarga etnis Dayak yang merupakan kerabat dari teman seperjalananku. Rumah tempat kami menginap terbuat dari papan dan kulit kayu dengan atap daun aren, tanpa kamar, los seperti barak kecil.

Mataku menangkap hiasan di dinding rumah; poster beberapa artis terkenal Indonesia. Namun yang menarik perhatianku adalah sebuah kalender yang bergambar kaligrafi ayat=ayat al qur’an. Pikirku tentu saja penghuni rumah ini merupakan penganut Islam.
Kepada tuan rumah dengan hati-hati aku bertanya, berapa jumlah penganut Islam di pemukiman tersebut. Namun alangkah kagetnya aku ketika tuan rumah mengungkapkan tak satupun Muslim di pemukiman mereka, termasuk tuan rumah sendiri yang ternyata beragama Kristen Protestan.

Aku pun bertanya seputar tuan rumah yang memasang kaligrafi ayat-ayat al qur’an. Tuan rumah menjawab secara panjang lebar bahwa menurut guru mereka (sebutan untuk para penginjil/evangelis), antara Islam dan Kristen itu sama saja; cuma nabinya yang berbeda, sedangkan Tuhan yang disembah sama; satu, Allah.

Menurut tuan rumah, kalau Islam nabinya adalah Muhammad, sedangkan Kristen nabinya yaitu Isa.
Aku cuma manggut-manggut mendengar penjelasan tuan rumah yang cukup fasih. Sedikitpun aku tak bermaksud membantah penjelasan tuan rumah itu, karena kupikir jika aku membantahnya, maka akan jadi perdebatan yang panjang, khawatir tuan rumah akan tersinggung, apalagi bukan kapasitas aku untuk mendebat kepercayaan dan keyakinan tuan rumah.

Yang kutanyakan kemudian adalah, berapa jumlah penganut Kristen di pemukiman itu. Sejak lebih 6 bulan lalu menurut tuan rumah sejak kedatangan para evangelis dari luar daerah, 25 persen warga etnis Dayak yang semula memegang keyakinan Kaharingan (agama asli leluhur etnis Dayak), berpindah menjadi Kristen.
Para evangelis itu menurut tuan rumah pula, mereka berasal luar daerah, diantaranya terdapat orang asing yang masih terbata-bata berbahasa Indonesia.

Para evangelis mula-mula ketika datang ke pemukiman itu, menggelar pengobatan gratis terhadap warga. Kemudian mereka mengajarkan baca tulis sambil membagikan bahan bacaan tentang pengenalan terhadap Tuhan. Aku masih ingat salah satu buku yang dibagikan itu berjudul “siapakah Tuhan itu”.
Selanjutnya para evangelis itu menunjuk salah seorang warga yang sudah beragama Kristen menjadi semacam penghubung antara warga dengan para evangelis. Dan para evangelis itu secara berkala sebulan sekali mengunjungi pemukiman sambil membawa keperluan warga setempat seperti bahan makanan, obat-obatan dan bacaan. Atau bisa juga penghubung mereka yang keluar dari pemukiman untuk pergi menemui para evangelis, menembus belantara hutan yang cukup lebat dengan kondisi jalan yang masih belum beraspal dengan jarak ratusan kilometer.

Dalam benakku salut terhadap kegigihan para evangelis tersebut. Untuk sebuah misi keagamaan, mengenalkan Tuhan berikut ajaran-Nya, rela bersusah payah memberikan pelayanan terhadap mereka yang belum beragama, masih berfaham animisme dan dinamisme.
Jika dalam kurun waktu 6 bulan sebanyak 25 persen warga disana berpindah keyakinan menjadi Kristen, maka dengan kegigihan para evangelis itu, berarti dalam kurun waktu 2 tahun seluruh warga menjadi Kristen, salut.
Kegiatan para evangelis tersebut patut diacungi jempol, karena mereka menyebarkan agama terhadap yang belum beragama, sehingga tak satu agama lainnya pun yang komplain.

Hampir sebulan selama bulan puasa aku berada di pemukiman mereka. Hanya aku seorang yang berpuasa, terasa berat memang berpuasa diantara mereka yang tak berpuasa. Ada yang sangat berkesan selama aku berpuasa di lingkungan mereka, sikap yang mereka tunjukkan kepadaku sangat mengerti, bahkan istri tuan rumah dengan sukarela melayaniku saat waktunya sahur dan saat berbuka puasa.

Menjelang lebaran aku pun pamit untuk pulang sambil meminta maaf dan menyampaikan terima kasih yang tak terhingga. Namun seminggu kemudian setelah lebaran, aku kembali ke pemukiman tersebut. Tak lupa aku membawakan kue-kue lebaran. Dan kedatanganku kali ini tidak lama, karena pekerjaanku sudah selesai. Iparku menyatakan pekerjaan mencari hasil hutan dihentikan, karena pembeli yang berada di pulau jawa membayar hasil kerja kami dengan harga yang relatif rendah.
Aku pun pamit, kami saling bermaaf-maafan dengan perasaan sedih masing-masing. Selama puluhan hari kami berkumpul, makan dan tidur, serta bercengkerama bersama. Meski ada yang berbeda, tapi kami merasa sudah seperti saudara, apalagi antara mereka yang etnis Dayak dan etnisku Banjar masih merupakan kerabat etnis terdekat.
Aku tak tahu lagi keadaan mereka nun jauh di tengah belantara itu, sesudah aku meninggalkan pemukiman tersebut, aku tak pernah lagi kembali kesana. Sedangkan teman seperjalananku yang juga berasal dari etnis Dayak yang menganut kepercayaan Kaharingan, menurut iparku, ia menikah dengan gadis dari etnis Banjar, dan menjadi mualaf.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.