Pelacur Itu Tak Tanya Agama - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Sabtu, 15 Maret 2014

Pelacur Itu Tak Tanya Agama

Beberapa hari lagi lebaran tiba. Wanita berumur sekitar 30 tahunan itu tampak galau, mengingat uang simpanannya belum cukup untuk pulang kampung berkumpul bersama keluarga pada hari lebaran nanti. Apalagi hari ini, wanita yang menjadi penghuni salah satu “wisma” di komplek pelacuran terbesar di sebuah kabupaten itu, sejak pagi tadi belum juga memperoleh tamu.

Beberapa hari lalu 3 orang temannya sesama penghuni wisma, sudah mudik pulang ke pulau Jawa. Kini di wisma itu tertinggal ia bersama 2 teman lainnya yang sekaligus adalah saingannya dalam memperoleh tamu. Di beberapa wisma lainnya pun sudah banyak penghuninya yang mudik pulang untuk berlebaran bersama keluarga.

Wanita penghuni itu galau; memikirkan apakah Tuhan masih menyisakan sedikit rejeki buatnya. Galau; membayangkan kekecewaan anak semata wayangnya yang ia tinggal bersama neneknya di sebuah daerah perdesaan di pulau Jawa sana. Dan banyak perasaan galau lainnya yang menghunjam perasaan wanita yang sudah hampir setahun berada di pelosok pulau Kalimantan itu.

Selama bulan puasa ini, wanita itu tak sehari pun berpuasa. Ia tahu berdosa bila tak berpuasa. Tapi apalah gunanya berpuasa jika pekerjaannya seperti ini ? Ia hanya menerka-nerka saja apakah Tuhan mau mengerti dengan keadaannya, ataukah memang tak ada keringanan ataupun dispensasi apapun bagi dirinya.

Kalau banyak orang mempermasalahkan agama diluar sana, di komplek pelacuran ini, tak ada yang mempermasalahkannya. Para pria hidung belang yang datang ke setiap wisma, tak seorangpun yang ditanya agamanya apa. Disini agama tak berlaku. Disini mereka yang datang untuk mencari kenikmatan duniawi sesaat. Para pelacur tak perduli apakah yang menjadi tamunya adalah orang terpandang, ustad, pendeta, pejabat, maling, rampok, koruptor diluar sana. Karena memang mereka yang datang dan masuk ke bilik kenikmatan itu tak pernah ditanya siapa dan agamanya apa.

Sementara berada di wisma, wanita pelacur itu menanggalkan agama yang jadi busana keimanannya terhadap Tuhan. Akan kembali ia kenakan ketika telah berkumpul bersama keluarganya di kampung. Secara formalitas agama tertera pada selembar KTP yang hanya akan ia keluarkan jika ada pemeriksaan oleh pihak yang berwenang. Ia malu mengaku beragama karena ia hanyalah seorang pelacur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.