Istana Bagi Para Anak Yatim - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Selasa, 04 Maret 2014

Istana Bagi Para Anak Yatim



Yang namanya istana dimana-mana bangunannya pasti besar dan megah, serta dihuni oleh Raja dan permaisuri berikut kerabatnya, atau dihuni oleh Presiden.

Istana yang bangunannya terdiri dari 3 lantai itu didirikan oleh H. M Zairullah Azhar, Mantan Bupati Tanah Bumbu saat ia masih menjadi Bupati dari tahun 2003 hingga 2010.


Melalui sebuah yayasan yang dibentuknya, Zairullah Azhar mendirikan istana bagi para anak yatim yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Disamping itu juga didirikan berbagai fasilitas lainnya bagi para anak yatim tersebut, antara lain asrama, sekolah dari tingkat TK hingga Perguruan Tinggi, serta klinik. Tujuan didirikannya istana tersebut oleh Zairullah Azhar sebagai penghargaan untuk memuliakan para anak yatim.


Semua fasilitas tersebut diperuntukkan bagi para anak yatim. Mereka ditampung, dipelihara dan dididik oleh yayasan secara cuma-cuma. Para anak yatim tersebut tak memikirkan yang lainnya selain belajar untuk meraih masa depan mereka masing-masing.

Para anak yatim disini tak hanya diberi pendidikan ilmu-ilmu umum, tapi juga ilmu-ilmu agama. Selain itu setiap Kamis malam pihak yayasan mendatangkan para ustadz maupun da’i untuk memberikan pencerahan rohani kepada para anak yatim tersebut. Terkait pencerahan rohani oleh para ustadz dan da’i ini tak hanya dihadiri oleh para anak yatim, tapi juga oleh warga yang selalu antusias ikut hadir berbaur dengan para anak yatim.

Beberapa ustadz dan da’i terkenal pernah memberikan siraman rohani di lingkungan Istana Anak Yatim, yakni Muhammad Arifin Ilham, Yusuf Mansyur, Nur Maulana, Uztadz Cepot, dan lainnya.

Datang ke Istana Anak Yatim, melihat kehidupan dan aktivitas para anak yatim, seperti menemukan miniatur Indonesia. Disini para anak yatim itu terdiri dari berbagai etnis; Banjar, Bugis, Jawa, Sunda, Madura, Ambon, Minang, Batak, Timor dan Papua. Meski mereka berasal dari berbagai latar belakang etnis dan budaya berbeda, yang mempersatukan mereka adalah kondisi, status dan rasa kebersamaan serta solidaritas.



Istana Anak Yatim ini tak hanya jadi kumpulan para anak yatim. Tak sedikit warga luar daerah yang datang berkunjung ke Batulicin yang menyempatkan diri kesana melihat-lihat ribuan anak yang telah tak memiliki orangtua itu. Dan tak sedikit pula para pengusaha dermawan yang datang untuk donasi, menyisihkan sebagian hartanya sebagai wujud kepedulian mereka terhadap sesama.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.