Aku Bukan Habaib, Tapi Habib - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Minggu, 02 Maret 2014

Aku Bukan Habaib, Tapi Habib

Beberapa kenalan dan temanku sangat antusias bila mendengar kata “Habaib”, yang di kampungku biasa dipanggil Habib.

Kedatangan para Habib ini ke kampungku biasanya dalam rangka melakukan tausiyah (ceramah) di beberapa majelis taklim ataupun mesjid. Warga pun berbondong-bondong biasanya menghadiri tausiyah tersebut.

Yang membuat saya heran adalah mereka begitu gandrung terhadap para Habib ini. Berbagai cara dilakukan agar dapat foto bareng, memeluk, cipika cipiki, atau cium tangan si Habib. Bahkan banyak pula yang membawa air kemasan untuk bisa dibacakan doa oleh si Habib.

Sering muncul dalam benak saya tatkala melihat tingkah laku mereka yang berlebihan terhadap para Habib, misalnya mencium telapak tangan, apakah mereka ini sudah memperlakukan kedua orangtuanya melebihi perlakuan mereka terhadap para Habib ? Bukankah kedudukan kedua orangtua (ibu bapak) itu paling utama setelah Allah dan Rasul-Nya ?

“Kamu bisa kualat bila tak mau mencium tangan Habib,” begitu yang kudengar dari beberapa kenalan dan temanku.

Aku tak pernah menghiraukan ocehan mereka itu. Bagiku kedua orangtuaku kedudukannya lebih daripada para Habib itu. Kenalan dan temanku meski sudah sering aku jelaskan pun mengenai ini, tak pernah mereka gubris pula, anggapan mereka terhadap para Habib tak pernah surut dan berubah (capek deh).

Aku selalu punya alasan tersendiri untuk tak meniru kenalan dan temanku. Aku katakan kepada mereka, aku tak terbiasa mencium tangan orang lain (apalagi tak kukenal) selain telapak tangan kedua orangtuaku, itupun hanya 2 kali setahun; lebaran idul fitri dan idul adha.

Ada seorang kenalan dekatku yang bertampang dan berpostur layaknya orang Timur Tengah, klop dengan nama yang disandang juga berbau Arabia; ……..Al-……..

Menurut kenalanku ini moyangnya memang berasal dari wilayah Timur Tengah yang datang ke Indonesia lebih dari seabad yang lalu. Tak sedikit yang mengenal kenalanku ini yang memanggil dirinya dengan sebutan Habib pula. Namun kenalanku yang aktif sebagai pengurus Muhammadiyah di kampungku ini, tak pernah mau, dan selalu menarik tangannya bila ada yang bermaksud menciumnya. “Saya ini bukan Habaib, tapi Habib (Hantu Bibinian),” ujar kenalanku ini berseloroh. Kata “Hantu Bibinian” ini bila diartikan menurut bahasa kami (suku Banjar) adalah, orang yang gemar main perempuan (hehehe….).

Tapi ada pula yang tak kurang akal memanggil kenalanku tersebut dengan sebutan “Said” (biasanya Sayyed, yang dilekatkan ke para pria kaum Alawiyyin). Kenalanku kembali menepisnya dengan mengatakan, “Saya bukan Sayyed atau Said, tapi Saith atau Syaithan”. Nah lho, mau panggil apa lagi, ya ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.