Beristri 1 Belajar, Belajar Beristri 1 - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Minggu, 02 Maret 2014

Beristri 1 Belajar, Belajar Beristri 1

Topik poligami tampaknya cukup menarik untuk dibahas karena menuai berbagai macam pendapat dan kontroversi di kalangan masyarakat, baik yang pro maupun yang anti poligami.

Sebetulnya masalah poligami ini menurut saya kita kembalikan saja kepada para pelakunya serta ke para wanita yang dipoligami. Baik pria yang berpoligami maupun para wanita yang bersedia dipoligami, punya alasan-alasan tersendiri yang kemungkinan tak sependapat dengan pemikiran orang-orang yang diluar lingkaran poligami. Silakan siapapun yang ingin berpoligami, kenapa yang tak setuju poligami mesti repot-repot berdebat satu sama lain.

Di kalangan etnis kami (suku Banjar di Kalimantan) kebanyakan pria yang sudah mencapai taraf hidup mapan dan makmur, melakukan praktik poligami, dan bahkan yang setengah mapan ekonominya pun tak sedikit yang berpoligami. Sehingga ada semacam anekdot di kalangan etnis kami ; beristri 1 itu belajar, beristri 2 adalah wajar, beristri 3 baru namanya “urang Banjar”, sedangkan beristri 4 kurang wajar (karena menyamai Rasul).

Terkait poligami ini ada juga yang berasalan begini ; shalat, puasa, zakat dan sedekah, serta haji kita tak mungkin bisa menyamai Rasulullah, maka yang bisa diikuti adalah beristri lebih dari 1 seperti yang pernah dilakukan oleh Rasulullah (hehehehe……)

Urusan poligami ini kebanyakan yang meributkan adalah mereka yang berada diluar lingkaran pelaku poligami. Sementara yang berpoligami ataupun yang dipoligami tenang-tenang saja. Kalaupun terjadi konflik rumah tangga hingga berujung kepada penceraian, adalah hal yang wajar. Di rumah tangga yang monogami saja tak sedikit konflik yang berujung kepada penceraian.

Saya jadi teringat kepada anak saya yang masih duduk di bangku kelas 5 SD. Turun ke sekolah di pagi hari anak saya tersebut diantar oleh ibu kandungnya, pulang dari sekolah ia dijemput oleh ibu tirinya (istri saya lainnya), besoknya anak saya ini karena ia menginap di tempat ibu tirinya yang seorang lagi (istri ketiga saya), ia pun diantar ke sekolah oleh ibu tirinya itu. Suatu ketika seorang teman sekolahnya bertanya kepada anak saya (kebetulan tanyanya di depan saya ketika giliran saya menjemput anak saya), “kemaren yang ngantar kamu sekolah siapa ?” tanya teman anak saya. Dijawab anak saya, “itu ibu saya.” Temannya tanya lagi, “terus yang kemaren menjemput siapa ?” Dijawab anak saya lagi, “itu juga ibu saya.” Nanya lagi tuh anak, “terus yang ngantar kamu tadi pagi ?” Anak saya jawab, “itu pun ibu saya.” Si teman anak saya nanya lagi, “istri ayah kamu berapa sih ?” Pertanyaan ini dijawab anak saya, “istri ayah saya banyak.” (Hahahaha…….dasar anak dari pria berpoligami).

Kepada istri-istri saya selalu tekankan bahwa yang namanya anak merupakan amanah Allah, titipan, tak perlu mengingat dan memandang dari rahim mana ia lahir. Makanya anak-anak saya hubungannya dengan kedua ibu tirinya baik-baik saja. Anak saya yang mulai tumbuh besar sering menginap di tempat para ibu tirinya, dan anak saya itu memanggil para ibu tirinya dengan sebutan ibu sama seperti kepada ibu kandungnya sendiri.

Rumah tangga saya bukan tak ada konflik, sering saya bertengkar dengan salah seorang istri-istri saya. Kebanyakan pertengkaran saya itu dipicu oleh orang-orang diluar rumah tangga kami yang suka menggunjing perihal kehidupan rumah tangga kami. Namun selalu dapat saya redam dengan mengatakan ke istri-istri saya bahwa mereka yang suka menggunjingkan kami itu iri dengan kehidupan rumah tangga kami yang berbeda dengan mereka. “Mereka iri melihat rumah tangga kita. Mereka tak mampu seperti yang kita lakukan. Mereka senang bila kita hancur. Kalau kita hancur, yang rugi adalah kita, bukan mereka,” begitu sering kukatakan kepada para istriku.

Salam poligami dari kamar salah seorang istriku !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.