ATM; Piranti Pembayar Swalayan - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Minggu, 09 Maret 2014

ATM; Piranti Pembayar Swalayan

Setiap kali menemukan atau membaca kepanjangan ATM (Automatic Teller Machine) dalam bahasa Indonesia, saya jadi senyum-senyum sendiri dan merasa risih.

Senyum-senyumnya saya karena merasa geli membayangkan sosok kotak mesin untuk bertransaksi lewat bank itu yang biasanya ditempatkan didalam bangunan, sedangkan bangunan dimana perangkat itu berada jelas-jelas lebih tinggi.
Kata ‘Anjungan’ untuk menyesuaikan vocal A pada akronim, terasa sekali sangat dipaksakan.
Seingat saya dulu, kata ‘Anjungan’ ini biasa dipakai untuk bangunan yang agak tinggi pada bagian kapal. Kemudian dipakai pula untuk menyebut bangunan berupa rumah, misalnya; Anjungan berupa rumah-rumah adat yang berada di komplek TMII (Taman Mini Indonesia Indah), atau diperuntukkan bangunan sebagai tempat pengeboran minyak lepas pantai (Rig).


Anjungan Tunai Mandiri, inilah selengkapnya terjemahan untuk padanan akronim ATM dalam bahasa Inggris. Bila ATM diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia, mestinya kira-kira begini; Piranti Pembayar Swalayan, atau Mesin Kasir Swalayan. Disini sama sekali tak ada mengacu kepada kata-kata; bangunan/anjungan, tunai, dan mandiri.
Kata ‘tunai’ tak identik dengan kata ‘teller’, namun lebih dekat kepada kata ‘cash’ yang jika dijadikan pelaku akan berubah menjandi kata ‘cashier’.
Adapun kata ‘mandiri’, berarti melakukannya sendiri, atau dilakukan sendiri, atau kurang lebih srtinya dengan melayani diri sendiri (self service). Agak berbeda dengan ‘Automatic’, yang bila diterjemahkan bisa berarti terjadi dengan sendirinya.


Para ahli bahasa tampaknya sengaja menciptakan istilah yang salah kaprah, lebih parahnya lagi tetap memelihara kesalahan tersebut.
Sama halnya jika kita menyebut kata ‘bank’. Bunyi yang keluar dari mulut kita adalah ‘bang’ dengan bunyi yang sama saat kita memanggil kakak lelaki, ataupun pria yang lebih tua dari kita dengan panggilan ‘bang’. Atau kata lain untuk menyebut ‘azan’, panggilan untuk shalat. Padahal kata ‘bank’ dari sananya sebutannya agak sedikit berbeda, BAENG.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.