Bahaya Merokok Kurang Meyakinkan - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Senin, 10 Maret 2014

Bahaya Merokok Kurang Meyakinkan

Urusan orang bebas merokok, rasanya di Indonesia lah tempatnya. Tak salah bila ada yang mengatakan Indonesia adalah sorganya para perokok.
Dimana-mana, di berbagai tempat di negeri ini, dari kota besar yang sekelas metropolitan, kota kecil, hingga ke pelosok desa terpencil sekalipun, selalu dapat ditemui orang yang bebas merokok.


Kebutuhan merokok bagi banyak orang sudah seperti kebutuhan sekunder, bahkan ada yang rela menahan lapar asalkan bisa merokok. Berbagai alasan dan argumen dikemukakan oleh mereka yang merokok untuk melegitimasi perbuatan mereka. Saking getolnya merokok, sehingga ada slogan yang entah benar atau cuma gurauan, “lebih baik putus bercinta daripada putus rokok”.

Di negeri yang meorokok dapat dilakukan sebebas-bebasnya ini, iklan rokok dilarang memvisualisasikan orang merokok, bahkan bungkus rokok pun tak boleh muncul di tayangan iklan. Makanya kalau kita saksikan iklan rokok di berbagai media massa, tak ada yang ‘nyambung’ dengan produk yang ditawarkan.


Tak akan pernah ada iklan rokok yang bunyinya, “Rokok ini mengurangi pengeluaran anda karena harganya lebih murah”, atau “Rokok ini terbuat dari bahan herbal yang tidak berbahaya”, atau “Mengisap rokok ini anda akan tampak macho”.

Sementara iklan rokok tanpa visualisasi rokok dan orang merokok, tapi di lain sisi dimana-mana dapat ditemui orang-orang bebas merokok dengan gaya dan ekspresinya masing-masing. Apakah dengan iklan yang tidak memvisualisasikan rokok tersebut ada jaminan dapat mengurangi para perokok ?
Dan menurut yang kuketahui, para pengusaha kaya di Indonesia justru beberapa orang diantaranya merupakan pengusaha rokok. Artinya bila dikaitkan, mereka bisa kaya dan kemungkinan terus bertambah kaya karena produksi dan penjualan rokok terus meningkat dikarenakan para perokok pun terus bertambah.
Beberapa waktu lalu sempat ada fatwa merokok dianggap perbuatan haram, menuai berbagai tanggapan yang kontraversi, akhirnya pun reda, merokok tetap jalan.
Jika iklan rokok boleh divisualisasikan dengan orang merokok, saya teringat pernah melihat foto seorang penyair muda terkenal negeri ini yang berpose dengan rokok di tangan. Penyair muda tersebut memang benar-benar muda, karena dia meninggal dunia dalam usia muda oleh penyakit paru-paru yang dideritanya. Meninggal karena rokok ? Maybe yes, maybe no, karena penyakit paru-paru tak cuma dimonopoli oleh para perokok.


“Merokok DAPAT menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin.”
Itu bunyi kalimat peringatan yang tertera pada setiap kotak rokok. Sengaja kata ‘DAPAT’ saya tulis dengan huruf tebal. Karena bahaya merokok masih dianggap kurang meyakinkan, kecuali kata ‘DAPAT’ disitu diganti dengan kata ‘PASTI’.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.