Menghamburkan Duit ke Jakarta - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Rabu, 12 Maret 2014

Menghamburkan Duit ke Jakarta

Suatu ketika selama di Jakarta aku mengunjungi Pasar Senen untuk mencari koper dan arloji. Kebetulan letak pasar tersebut tak begitu jauh dari hotel tempatku menginap di daerah Kwitang Raya.

Sambil asyik melihat-lihat arloji di salah satu toko, pemilik toko menanyakan daerah asalku. Aku jawab saja dari Kalimantan, atau tepatnya Kalsel.

“Berarti abang ini kenal dengan Aman Jagau ?” tanya pemilik toko dengan bahasa Indonesia logat Padang.

“Dibilang kenal sebenarnya juga tidak, tapi sempat ketemu suami pedangdut Cucu Cahyati itu,” jawabku tanpa mengalihkan pandangan ke arloji yang kuinginkan.

“Berarti abang ini bertetangga dengan Aman Jagau ?” tanya pemilik toko itu lagi.

“Nggak lah, jarak dari rumahku ke rumah Aman Jagau itu hampir 300-an kilometer,” jawabku sekenanya sambil mengira-ngira jarak sebenarnya.

Pemilik toko yang rupanya berbakat jadi penyidik ini (mungkin cita-citanya jadi polisi kaleee ya), terus saja mencecarku dengan pertanyaan lainnya.

“Disana usahanya nambang batubara, ya bang ?” kembali pemilik toko bertanya.

“Nggak lah, cuma kerja serabutan aja,” jawabku lagi sekenanya.

“Tapi Aman Jagau kan kerjanya usaha pertambangan ?” cecar pemilik toko itu lagi.

Sebetulnya aku mulai malas menjawab pertanyaan pemilik toko yang sok jadi penyidik dadakan itu. Tapi aku jawab juga seperlunya.

“Abang ini ke Jakarta dalam rangka apa rupanya ?”kembali pertanyaan susulan.

“Cuma mau lihat-lihat Jakarta aja,” sahutku.

“O begitu…… Biasanya orang-orang Kalimantan datang ke Jakarta ini untuk menghamburkan uang; cari hiburan, malah cari perempuan,” terang pemilik toko sok tahu.

Sebelumnya ia menceritakan beberapa orang dari daerah kami yang sempat mengunjungi tokonya, dan menurutnya pula orang-orang yang sempat dikenalnya itu datang ke Jakarta untuk tujuan mencari hiburan dan perempuan.

“Apa abang ini juga sama seperti mereka, atau malah seperti Aman Jagau; datang ke Jakarta mau cari jodoh artis ?” lagi-lagi tanya.

“Nanti, kalau saya sudah jadi pengusaha tambang seperti Aman Jagau, akan cari istri pula,” jawabku sekenanya pula.

Percakapan panjang kami itu akhirnya bermuara ke transaksi sebuah arloji dengan harga Rp 50 ribu.
Aku pun balik ke hotel, dimana seorang teman sejak beberapa waktu lalu sudah menungguku.
“Wah arloji baru nih,” tegus temanku sambil senyum-senyum.

“Beli berapa, dimana ?” tanyanya.

“Beli di Pasar Senen, Rp 50 ribu,” sahutku.

“Mahal amat, di Pasar Tanah Abang arloji begituan cuma seharga separuhnya,” kata temanku.

“Ah nggak masalah, yang bikin mahal itu adalah daerah asal kita; Kalimantan, yang orang-orangnya dikenal senang menghamburkan duit bila berkunjung ke Jakarta,” jawabku kecut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.