Ramadhan dan Tradisi Antar Tukar Makanan - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Selasa, 04 Maret 2014

Ramadhan dan Tradisi Antar Tukar Makanan

Tiap menjelang datangnya bulan ramadhan hal yang selalu kuingat adalah saat masih duduk di bangku SD di era tahun 1970-an.

Keluarga kami waktu itu tinggal di sebuah kecamatan yang berada jauh di pelosok tenggara pulau Kalimantan. Meski tinggal kami berada di sebuah ibukota kecamatan, namun penduduknya setara dengan sebuah desa di pulau Jawa.

Dengan daerah yang tak begitu luas serta penduduknya yang juga tak begitu banyak, kami dengan mudah dan cepat dapat mengenal tetangga satu sama lain. Padahal daerah tempat kami tinggal terdiri dari beberapa suku, antara lain Banjar, Bugis, Pasir, Mandar, Jawa dan Madura.

Ada satu hal yang membuat saya selalu ceria pada saat di bulan ramadhan yang hingga di usia saya yang sudah separuh baya ini namun selalu saya ingat. Mendiang ibu saya waktu itu selalu menyediakan waktu dan anggaran untuk membikin makanan baik berupa masakan maupun kue-kue selepas shalat dhuhur di hari-hari bulan ramadhan.


Mendiang ibu membikin beberapa macam masakan dan kue-kue beraneka ragam khas dari resep sukunya. Kegiatan Mendiang ibu ini juga dilakukan oleh para tetangga kami yang berasal dari suku berbeda. Mereka juga membuat masakan dan kue beranega ragam khas suku mereka.

Masakan dan kue-kue hasil bikinan Mendiang ibu ini sesudah matang, ditempatkan di beberapa tempat yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Masakan dan kue yang diperuntukkan keluarga kami berbuka disisihkan terlebih dulu. Adapun sisanya yang lumayan banyak itu, adalah tugas saya mengantarkan ke beberapa tetangga terdekat, maupun kenalan dekat atau teman akrab Mendiang ibu yang bertempat tinggal cukup jauh dari kediaman kami.

Kegiatan mengantar masakan dan kue ke rumah tetangga sebenarnya lebih tepat bila dikatakan saling tukar makanan. Saya tak langsung pulang usai mengantar masakan dan kue-kue tersebut. Tapi saya menunggu untuk beberapa saat pengembalian tempat masakan dan kue yang sudah berubah isi dengan hasil masakan dan kue-kue bikinan tetangga.

Dan kegiatan antar mengantar masakan dan kue-kue ke tempat tetangga ini berlangsung setiap hari selama bulan ramadhan, bila bukan kami yang mengantar, maka kami yang jadi penerima antaran.

Saya dan adik sangat senang saat menghadapi banyak masakan dan kue beraneka ragam menjelang waktu berbuka puasa.

Belakangan setelah saya dewasa baru saya mengerti akan cara penduduk daerah kami membangun sebuah silaturahmi dengan para tetangga, yakni dengan antar-antaran masakan dan kue pada hari-hari di bulan ramadhan.

Setelah keluarga kami pindah meninggalkan daerah itu dikarenakan ayah saya dimutasi ke ibukota kabupaten, saya tak lagi menemukan kegiatan antar-antaran masakan dan kue. Para tetangga kami di tempat yang baru tak sekreatif tetangga kami dulu di kampung. Untuk berbuka puasa mereka membeli masakan dan kue-kue di “Pasar Wadai” atau bahasa kerennya Ramadhan Cake Fair yang tiap ramadhan digelar atau diselenggarakan oleh Pemerintahan setempat.

Di pasar yang menjual berbagai macam masakan dan kue ini, para pedagang menyewa stand untuk selama bulan ramadhan. Pengelolaan oleh pemerintah daerah setempat dimaksudkan selain menyediakan peluang mencari penghasilan selama ramadhan, juga untuk memperkenalkan berbagai makanan daerah, serta untuk menjadikannya sebagai tujuan wisata.

Pasar Wadai ini dapat ditemui selama ramadhan di seluruh tempat di wilayah Propinsi Kalimantan Selatan. Keberadaan pasar tersebut memang memudahkan bagi yang akan berbuka tak perlu repot membikin sendiri makanan, namun bagi saya keberadaannya telah menghilangkan tradisi silaturahmi dengan cara antar-antaran makanan seperti yang saya alami di tempat saya tinggal dulu nun jauh di pelosok.

Saya pun kini menyadari segala sesuatu itu memiliki waktu dan tempatnya tersendiri pada masanya. Yang saya alami dulu semasa masih anak-anak kini tak lagi dialami oleh anak-anak saya dan anak-anak tetangga saya. Marhaban ya ramadhan ! 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.