Sumpah Serapah “Rakyat” Borneo Untuk PLN - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Selasa, 18 Maret 2014

Sumpah Serapah “Rakyat” Borneo Untuk PLN

Dalam beberapa hari terakhir PLN di Borneo (saya lebih suka menyebutnya daripada nama Kalimantan), saya kira dibanjiri sumpah serapah, khususnya di wilayah Borneo Selatan.

Setiap hari, tidak siang, tidak malam, listrik yang dipasok oleh PLN padam secara mendadak tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Kondisi demikian memang sudah menjadi kebiasaan, namun karena semakin lama semakin parah, warga pulau Borneo pun menjadi kesal.

Adalah Forum Peduli Banua (FPB), yang mengatas namakan sebuah wadah diantara warga Borneo, berteriak lantang di jejaring sosial; facebook dan twitter. Mereka mengimbau kepada seluruh warga pulau Borneo agar mengumpulkan koin kepedulian untuk penyediaan listrik secara independen, serta menyerukan agar memboikot bayar iuran listrik kepada PLN yang dianggap sudah melakukan diskriminasi.

Teriakan FPB itupun disambut positif oleh warga pulau Borneo yang berada di jejaring sosial. Banyak yang melontarkan bahwa pemerintah pusat hanya mengeruk kekayaan SDA pulau Borneo namun mengabaikan pembangunan dan kemajuan lumbung tempatnya panen.

FPB pun beberapa hari lalu mengklaim telah melakukan unjuk rasa di Jakarta, mengajukan petisi terkait distribusi kelistrikan yang adil untuk Borneo yang kaya SDA terutama batubara yang digunakan untuk PLTU di pulau Jawa.
“Batubara kita yang membuat pulau Jawa terang benderang, tapi daerah kita yang listriknya tak keruan,” celoteh banyak warga di jejaring sosial.


Tak sedikit warga yang menganjurkan FPB memblokir pengiriman batubara dari Borneo ke pulau Jawa agar menurut mereka sama-sama menikmati krisis listrik.
Ironis memang kalau tak ingin dikatakan tragis; pulau Borneo, pulau ketiga terbesar di dunia yang SDA, namun seperti dijadikan sapi perahan.


Seorang tokoh dan pengusaha terkemuka daerah di Banjarmasin, H. Sulaiman HB menyatakan, dalam tempo sekitar 10 tahun lagi nasib batubara sama tragisnya dengan usaha di bidang perkayuan. Jadi menurutnya, masa depan warga pulau Borneo khususnya Borneo Selatan adalah di bidang perkebunan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.