Iklan Rokok Tak Ada Gunanya - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Rabu, 19 Maret 2014

Iklan Rokok Tak Ada Gunanya

Aku ingat ketika masih SMA di tahun 1980-an, terdapat sebuah iklan produk rokok dengan menampilkan seorang bintang remaja yang sedang tenar saat itu; Onky Alexander sedang bergaya dengan sebatang rokok di bibirnya. Iklan rokok tersebut terpampang di tempat-tempat umum dan tepi jalan di kotaku waktu itu. Setiap berangkat ke sekolah, paling tidak beberapa papan iklan itu aku lewati.

Kini jangan harap ada iklan rokok seperti itu. Rata-rata iklan tentang rokok tidak “nyambung”, susah dicerna maksudnya apa dan bagaimana. Bahkan iklan mengenai rokok ini sampai diatur dalam Undang Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers; dilarang memvisualisasikan bentuk dan image tentang rokok. Lalu apa gunanya dan untungnya ada iklan tentang produk rokok di berbagai media massa ? Dalam pikiranku yang awam ini, iklan tentang produk rokok yang tidak nyambung itu cuma buang-buang duit, lebih baik duitnya disumbangkan kepada banyak warga miskin di negeri ini yang sangat memerlukan daripada membagikannya ke media massa.

Jika kita melihat setiap iklan produk, sudah dapat dipastikan mengungkapkan fakta-fakta kegunaan dan khasiat, serta keunggulan produk. Namun yang terjadi pada iklan produk rokok, semua itu tidak ada. Bagi mereka yang bukan perokok, kemungkinan tidak tahu kalau yang ditayangkan oleh media itu adalah produk rokok. Dan tak sedikit diantara para perokok sendiri yang juga ikut tak mengetahui produk rokok baru dengan merk yang tidak umum.

Dalam beberapa tayangan film di televisi, aku pernah melihat adegan orang merokok dimana visualisasinya di-blur alias ditutupi sehingga wajah si pemeran yang merokok itu tak tampak. Padahal di negeri ini setiap saat dimana-mana tempat terdapat banyak orang yang merokok secara fakta dan live di depan mata. Pemandangan tersebut jelas tak dapat tertandingi oleh tayangan media. Sangat kontras memang tayangan iklan rokok di media dikemas tanpa visualisasi rokok, sementara mereka yang menonton iklan tersebut sedang merokok.
Tulisan ini kututup saja dengan pengungkapan sebuah iklan rokok di televisi; seorang jin berpakaian adat jawa yang tiba-tiba muncul di depan seorang Wakil Rakyat yang minta jin agar menjadikannya seorang Ketua. Jin jawa itu pun menyulap si Wakil Rakyat menjadi Rakyat dengan menghilangkan Wakil di papan nama si pejabat, “ingin jadi Ketua, Wakil ya dibuang……”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.