Bahasa Banjar; Ungkapan, Peribahasa dan Idiom (Bag 2) - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Rabu, 02 April 2014

Bahasa Banjar; Ungkapan, Peribahasa dan Idiom (Bag 2)

Untuk memperkaya khazanah bahasa daerah di Indonesia, kembali saya melanjutkan tulisan terdahulu tentang ungkapan, peribahasa dan idiom dalam Bahasa Banjar.

Bahasa Banjar memiliki banyak persamaan dengan Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia baik dalam struktur kalimat maupun kosa kata.
Bahasa ini banyak menyerap dan mengadopsi berbagai kata dari beberapa bahasa daerah di Indonesia. Dengan demikian tak heran jika dalam percakapan Bahasa Banjar terdengar kata-kata dalam Bahasa Indonesia.

a). KAYA WARIK TAJUN KA KACANG, artinya; seperti monyet terjun ke kebun kacang. Ungkapan ini bermakna untuk seorang atau lebih yang bersifat maupun bersikap lupa diri terhadap sesuatu, kemaruk.

b). GANAL-GANAL GADANG, artinya; besar-besar gedebok pisang; ganal (besar), gadang (gedebok pisang). Peribahasa ini ditujukan kepada seseorang yang fisiknya besar namun dungu.

c). KAYA SIPUT DIPAIS, artinya; seperti keong yang dimasak kukus. Kata DIPAIS asal katanya adalah PAIS yang mendapat awalan DI; memasak masakan/makanan dengan pembungkus daun pisang lalu direbus dengan cara dikukus maupun dipanggang. Ungkapan tersebut ditujukan kepada seseorang yang sok berani terhadap sesorang namun ciut dan diam jika sudah berhadapan dengan seseorang dimaksud.

d). MIANG, rasa gatal yang disebabkan oleh sesuatu yang tidak tampak, seperti disebabkan oleh hama atau sejenisnya. Namun sebagai ungkapan MIANG bergeser makna dan maksudnya. Ungkapan dengan kata MIANG ditujukan kepada seseorang yang sedang merasakan libido atau hasrat nafsu seksualnya meningkat (Inggris; horny). Misalnya; “ikam nih miang banar pinanya.” Maksudnya; “kamu tampaknya sedang horny.”

e). TALINGA RINJINGAN, artinya; memiliki kuping seperti kuping wajan. Ungkapan ini ditujukan terhadap seseorang yang panasan atau cepat emosi jika mendengar ucapan orang lain yang bernada tidak enak. Talinga (telinga, kuping), Rinjing (wajan untuk penggorengan).

f). MUHA DITAPAS WAN TAHI, artinya; wajah/muka/paras dicuci dengan tahi. Muha (wajah, muka, paras), Tapas (cuci), Tahi (tahi, kotoran). Peribahasa ini bermakna seseorang yang mendapat malu besar yang tak mudah menghilangkannya.

Cukup sekian dulu, nanti saya sambung lagi, semoga bermanfaat bagi yang ingin lebih tahu banyak tentang Bahasa Banjar.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.