Subsidi kok Duitnya Ngutang ? - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Jumat, 14 Desember 2018

Subsidi kok Duitnya Ngutang ?

courtesy : analysadaily
"Tahukah kalian tiap bayi lahir di Indonesia ini sudah menanggung utang ?"

Nah, kalau belum tahu tanyakan ke Mbahmu bagaimana asal muasal utang yang menggunung itu.

Mendadak kini banyak yang memikirkan utang yang telah dibuat oleh para Penguasa di negeri ini, padahal utang ke tetangga saja sulitnya minta ampun diminta bayar, sampai tetangga bolak balik berkali-kali menagih pun tetap saja anteng dengan berbagai dalih untuk tidak bayar.

"Penak jamanku tho ?"

Enaknya dimana ? Subsidi sana sini dari uang hasil utangan dari Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia, dari IMF, ambil utang misalkan 1 trilyun; setengah trilyun dikorupsi berjamaah, setengah trilyun lagi untuk subsidi BBM yang ujungnya cuma jadi asap polusi di jalan-jalan umum.

Mbok ya kalau mau kasih subsidi ke rakyat itu jangan duit atau uang dari hasil utangan. Sok-sokan pakai subsidi segala untuk menyenangkan (menipu) rakyat dari hasil utang yang pada dasarnya cuma dalih pencitraan dan memperkaya kelompok.
Kalau pun mesti berutang itu duitnya dipakai untuk membangun infrastruktur, fasilitas umum agar semua; kaya ataupun miskin dapat menikmatinya.

Ambil contoh saja subsidi untuk BBM, siapa yang diuntungkan ?
Yang untung tentu saja para pemilik maupun perusahaan angkutan umum yang tak perlu beli BBM kelas industri.
Yang menikmati subsidi BBM tentu saja yang memiliki kendaraan bermotor bukan yang jalan kaki dan bersepeda onthel.
Coba ingat berapa dekade subsidi BBM memanjakan para pemilik kendaraan bermotor, hasilnya apa untuk negara ini ? Cuma polusi asap yang tertiup angin, sirna.

Enaknya punya kendaraan bermotor yang BBM-nya disubsidi pula. Makanya tak sedikit keluarga mampu di negeri ini beli kendaraan bermotor 1 untuk ayah, 1 untuk ibu, 1 untuk anak, 1 untuk pembantu belanja ke pasar. Isi BBM di SPBU dengan harga subsidi, isinya per unit mobil katakanlah minimal 25 liter untuk beberapa hari. Lalu yang cuma punya sepeda motor pun ikut-ikutan senang bisa membeli BBM bersubsidi 5 sampai 15 liter, padahal yang punya mobil jauh lebih banyak bisa membeli BBM bersubsidi. Yang begini apa dapat disebut adil ? Bagaimana dengan yang tak punya kendaraan bermotor ? Gigit jari jadi pengamat, misuh-misuh menyesali kemiskinan diri ? 

Subsidi BBM tak sedikit membuat para pencurinya menjadi hidup senang. Para Pelangsir BBM bersubsidi rela antri di banyak SPBU untuk mendapatkan Solar puluhan hingga ratusan liter untuk kemudian dijual ke pelaku industri dengan harga sedikit dibawah harga Pertamina, tak perlu pakai yang namanya DO (Delivery Order) kalau beli langsung dari Pertamina.

"Tapi dengan subsidi BBM dicabut biaya angkutan jadi naik dan berimbas ke harga bahan pokok ?"

Tak masalah, itu namanya konsekuensi untuk satu kemandirian bagi rakyat negeri ini agar tak manja dengan berharap apa-apa serba disubsidi.
Nyatanya meski tak ada subsidi kita masih bisa berdiri tegak, negeri ini tak kiamat kok, ibu rumah tangga bawa duit Rp 20 ribu ke pasar masih dapat sayuran, ikan dan telor, coba saja kalau tak percaya.

Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang katanya konon untuk rakyat miskin, yang mana ? Tiap kali ada pembagian BLT di kantor pos dulu, apa luput dari perhatian kita kalau yang datang mengambil BLT itu ada mereka yang sama sekali bukan kategori miskin; datang naik sepeda motor meski kreditan, pakai perhiasan logam mulia pula, inikah yang kita sebut rakyat miskin. BLT, subsidi banyak salah sasaran.

Sudahlah kita lupakan saja subsidi apapun. Tak usah sok ikut memikirkan utang negara, padahal masih banyak diantara kita yang belum bayar pajak penghasilan, belum bayar PBB, pajak kendaraan bermotor dan sebagainya. Serahkan saja urusan utang ini ke para elit penguasa, karena mereka lah yang membuat utang. Tugas kita adalah memastikan kalaupun nanti harus berutang, pastikan utang itu untuk keperluan dan kepentingan seluruh rakyat bukan kepentingan kelompok dan golongan apalagi pribadi-pribadi.

Kalau kita ikut memikirkan sesuatu yang bukan kapasitas kita untuk itu, maka kita akan jadi stres, sakit bahkan mungkin gila. Ayo kita pikirkan saja bagaimana caranya agar kita bisa bayar utang kontrak rumah, angsuran Perumnas, kreditan sepeda motor, utang Sembako di warung tetangga, tak usah memikirkan utang yang kita pribadi tak pernah ikut membuatnya. Kerja, kerja, kerja.........jangan cuma mimpi enak tapi dengan berkhayal, koplak, hahaha.......


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.