Alhamdulillah, Tuhan Telah Memenuhi Segala Kebutuhan - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Sabtu, 15 Maret 2014

Alhamdulillah, Tuhan Telah Memenuhi Segala Kebutuhan

Seorang pengayuh becak tampak susah payah mengerahkan seluruh tenaganya agar becaknya dapat berjalan menaiki sebuah tanjakan. Sementara penumpangnya, seorang ibu rumah tangga yang lumayan gemuk dengan barang bawaannya, duduk nyaman didalam becak sambil asyik memencet ponselnya. Wanita itu tak perduli seberapa keras si pengayuh becak berusaha agar becak tetap jalan, tak mundur ke belakang. Juga tak perduli sebanyak apa keringat yang keluar menetes dari tubuh si pengayuh becak, ia hanya ingin sampai ke tujuan, dan bayar sesuai dengan tarif.

Panas cukup terik memanggang muka bumi. Usaha keras si pengayuh becak tak sia-sia, ia berhasil tiba di depan rumah si ibu rumah tangga dengan nafas yang terengah dan tersengal. Atas usaha kerasnya, si pengayuh becak menerima selembar uang kertas Rp 5 ribu dari penumpangnya. Sambil mengucap syukur yang nyaris tak terdengar dari sepasang bibirnya yang tampak kering, si pengayuh becak menciumi uang hasil usahanya itu, alhamdulillah.

Hari menjelang senja, tak berapa lama lagi waktu berbuka puasa tiba. Si pengayuh becak yang kini berada di pangkalannya, merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan seluruh hasil usahanya, beberapa lembar uang kertas yang tampak lusuh dan kumal. Ia kemudian menghitung, semua Rp 20 ribu, inilah rejeki dari Tuhan yang ia peroleh dari usaha semenjak pagi tadi hingga menjelang senja ini, ia kembali mengucap syukur, alhamdulillah.

Si pengayuh becak kembali mengayuh becaknya, kali ini tanpa penumpang. Ia menuju pulang. Ia mesti berada di rumahnya, sebuah kontrakan yang reyot, berkumpul dengan istri dan kedua anak mereka. Berbuka puasa bersama keluarga, itulah yang berada di benak si pengayuh becak, meski hanya dengan sepiring nasi berlauk sepotong ikan kering dan segelas air putih.

Dalam perjalanan pulang, si pengayuh becak melewati sebuah restoran yang sangat ramai. Puluhan mobil berdatangan memasuki halaman restoran tersebut, tukang parkir pun sibuk mengatur mobil yang berdatangan. Dari dalam restoran terdengar suara riuh rendah para pengunjungnya diantara suara mesin mobil yang datang. Si pengayuh becak sekilas berpaling ke arah suara ramai di restoran itu, lalu kembali memandang ke depan ke jalan menuju rumahnya. Sempat terlintas dalam angannya betapa enak dan nikmatnya orang-orang di restoran itu menikmati berbagai hidangan lezat untuk berbuka puasa. Bayangan itu cepat-cepat ia tepis, karena tak mungkin dapat ia lakukan.

Mendekati rumah kontrakannya, si pengayuh becak berpapasan dengan seorang lelaki tua berpakaian lusuh, kumal dan kotor, orang tak waras, ia menatap tajam ke arah lelaki tua yang linglung itu. Dalam benaknya ia membayangkan betapa penderitaan lelaki tua itu sehingga menjadikannya hilang ingatan. Si pengayuh becak itu kembali bersyukur bahwa ia lebih beruntung dari lelaki tua tak waras itu.

Sirine tanda berbuka puasa melengking dari sebuah mesjid tak jauh dari rumah kontrakan dimana keluarga pengayuh becak itu tinggal. Di depan pintu rumah yang mulai lapuk tanpa cat itu, si pengayuh becak disambut sang istri tercinta dengan senyum sumringah penuh harap. Ia pun masuk berkumpul dengan keluarga kecilnya yang sedang menghadapi hidangan berbuka puasa; tanpa kue, tanpa kurma, tanpa es buah, cuma nasi putih dari beras yang paling murah, beberapa potong ikan kering sisa sahur malam lalu, dan air putih yang direbus diambil dari sumur di samping rumah kontrakan. Allahumma laka sumtu wabika amantu wa’ala rizkika aftartu birahmatika ya arhamar rahimin, alhamdulillahi rabbil alamin……….

Tuhan belum tentu mengabulkan setiap permintaan dan permohonan hamba-Nya, tapi Tuhan sudah memenuhi segala yang dibutuhkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.