Cerita Shalat Lebih Penting Dari Shalat? - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Minggu, 30 Maret 2014

Cerita Shalat Lebih Penting Dari Shalat?


Azan shalat Ashar sudah terdengar berkumandang dari beberapa mesjid dan surau. Aku pun bersiap untuk segera menyongsong seruan tersebut untuk melupakan sejenak urusan dunia untuk sujud kepada Sang Khalik.

Kebetulan dari warung tempat aku sedang istirahat untuk minum, terdapat sebuah surau yang berjarak kurang dari 20 meter. Di surau tersebut sedang diadakan yasinan, “yasinan rutin tiap hari jumat,” terang pemilik warung yang mengaku jarang ikut hadir. Kupikir karena sudah masuk waktu shalat ashar, yasinan di surau itu akan segera usai, karena aku memutuskan untuk shalat di surau tersebut.

Namun penantianku untuk shalat di surau itu agaknya tak berbuah. Hingga terdengar seruan iqamat, yasinan belum juga ada tanda-tanda akan berhenti, bahkan penceramah terdengar semakin bersemangat. Ya, bersemangat mengungkapkan berbagai amalan di bulan sya’ban kepada para hadirin yang terdiri dari puluhan ibu rumah tangga. Sudahlah, aku pun bergegas memacu sepeda motor ke surau terdekat lainnya yang berada di sekitar situ.

Usai melaksanakan shalat ashar, aku balik ke warung dimana aku istirahat untuk minum tadi. Ceramah di acara yasinan rutin mingguan di surau dekat warung itu masih berlangsung. Kutanya ke ibu pemilik warung apakah ceramah sempat dihentikan karena masuk waktu shalat, ia menjawab tidak; ceramah terus berlangsung tanpa hiraukan waktu shalat tiba, dan……mereka semua yang berada di surau itu menunda shalat ashar.

Cerita tentang shalat lebih penting daripada shalat.

Kali ini aku sedang berada di rumah, merampungkan beberapa bahan tulisan untuk sebuah penerbitan majalah lokal. Sudah sejak beberapa menit lalu aku berkerja sambil mendengarkan ceramah seputar cerita isra mi’raj Rasul SAW. Ceramah itu tampaknya dibawakan oleh seorang ustadz lokal, karena bahasanya bercampur dengan bahasa etnis setempat (Banjar). Cukup nyaring dan jelas terdengar di kupingku, karena jarak mesjid tempat peringatan isra dan mi’raj itu hanya berjarak puluhan meter dari rumahku, apalagi dengan menggunakan pengeras suara jenis Toa.

Tak berapa lama terdengar seruan azan shalat ashar dari beberapa tempat ibadah. Lagi-lagi seruan shalat ashar, dan kali inipun kebetulan hari jumat. Kupikir lagi pasti tak berapa lama si ustadz akan berhenti berceramah karena akan menyegerakan mengerjakan shalat ashar. Perkiraanku kali inipun ternyata salah. Ceramah terus saja berlangsung. Suara ceramah si ustadz malah mengalahkan suara seruan azan.

Aku pun menghentikan pekerjaanku, menyegerakan shalat ashar. Kupikir nanti juga berhenti ceramah itu. Ternyata hingga aku usai mengerjakan shalat ashar, ceramah masih juga berlangsung. Wah, ini sudah tidak benar kupikir. Ceramah tentang perintah shalat yang diterima oleh Rasul SAW yang tanpa perantara malaikat Jibril; langsung dari Allah, tapi si ustadz berikut hadirin yang menjadi pendengarnya justru tak beranjak dan bersegera melaksanakan shalat pada waktunya. Entah apa yang terdapat dalam pikiran si ustadz penceramah itu, dan entah apa pula dalam benak si penceramah di surau waktu yasinan rutin itu, yang jelas mereka mesti menanggung dosa seluruh hadirin yang tertunda shalatnya karena sudah menganggap ceramah mereka lebih penting daripada shalat itu sendiri. Semoga kejadian ini cuma ada di daerahku, tak terdapat di daerah manapun lagi di negeri ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.