Klenteng Konghucu Itu Kokoh Berdiri Diantara Komunitas Muslim - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Sabtu, 15 Maret 2014

Klenteng Konghucu Itu Kokoh Berdiri Diantara Komunitas Muslim

courtesy : meandconfucius.com
Sejak aku masih anak-anak di era 1970-an, bangunan klenteng Konghucu, atau kami menyebutnya tepekong itu, sudah berdiri disana. Bangunan yang berada diatas dataran tinggi, di tepi jalan umum, dulunya berupa bangunan kecil yang tak beda dengan bangunan rumah warga di sekelilingnya, yang membedakannya adalah warna yang didominasi merah dan kuning emas, serta ornamen diatas atap bangunan yang khas negeri Tiongkok.

Kini bangunan klenteng itu sudah besar dan megah, letaknya masih disana seperti puluhan tahun silam. Padahal klenteng tersebut berada di pemukiman warga yang mayoritas menganut agama Islam, serta cukup fanatik (etnis Banjar). Namun selama ini tak pernah terdengar apapun yang keluar dari mulut warga; protes maupun keberatan adanya bangunan klenteng disana.
Disamping itu, beberapa puluh meter dari bangunan klenteng terdapat sebuah mesjid milik Ormas Muhammadiyah, dan juga tak seberapa jauh dari beberapa surau dan mesjid lainnya.


Itu di kampung kelahiranku, yang kutahu juga merupakan tanah kelahiran Denny Indrayana, Wamenkum dan HAM RI, di sebuah kota kabupaten di Pulau Laut yang termasuk dalam wilayah propinsi Kalimantan Selatan.
Berbagai suku bangsa menghuni kota kami; Banjar, Bugis, Mandar, Bajo, Jawa, dan lainnya dengan agama mereka masing-masing, tanpa saling mengganggu, kami tetap rukun sejak beberapa dekade lalu.


Karena kota kami tak terlalu luas namun cukup padat, keberadaan tempat ibadah disana letaknya saling berdekatan, bahkan terdapat yang saling berhadapan.
Di bagian lain yang masih di kota kami, terdapat sebuah mesjid yang nyaris berhadapan dengan sebuah gereja milik jemaat Kristen Indonesia Bagian Barat. Keberadaan gereja tersebut juga telah ada sejak aku masih anak-anak (sudah duduk di SD), dan tak sampai berjarak 200 meter dari mesjid yang cukup besar itu, terdapat pula sebuah gereja milik jemaat Katholik, yang justru dikepung oleh rumah-rumah yang dihuni warga Muslim.
Aman ! Itulah satu kata yang bisa aku nyatakan tentang kehidupan beragama di kota kelahiranku dan bung Denny Indrayana.
Kalau terdapat di daerah lain yang ricuh terkait pendirian tempat ibadah, tentu berbeda jauh dari kota kami. Meski daerah kami berada terpisah dari daratan pulau Kalimantan, tak begitu ramai, namun patut dijadikan contoh toleransi kehidupan beragama oleh daerah lain yang sering ricuh.


“Kotabaru gunungnya bamiga, bamiga umbak manampur di sala karang, umbak manampur di sala karang…….Malam tadi tamimpi badatang, badatang lawan si ading kuning manggading, lawan si adng kuning manggading………..”
Itulah beberapa bait syair lagu yang bercerita tentang kota kami yang berjudul “Paris Barantai”, sudah sangat terkenal di seantero negeri ini. Salam dari Pulau Laut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.