Kubersedia Jadi Istri Keempat - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Senin, 24 Maret 2014

Kubersedia Jadi Istri Keempat


Tiap kali kumengingatnya, ku selalu membayangkan wajah seorang penyanyi wanita muda terkenal negeri ini, Agnes Monica.
Ya, raut muka Agustini persis sama dengan wajah penyanyi terkenal itu.

Wajah cantik Agustini, masa laluku ketika aku sempat berkelana di belantara ibukota dari satu THM (Tempat Hiburan Malam) ke THM lainnya.
Aku mengenal Agustini di sebuah THM yang terletak di pinggiran ibukota. Aku terpesona kala itu menyaksikan penampilannya menyanyi di panggung. Tadinya kupikir Agnes Monica sedang menyanyikan lagu dangdut, ternyata aku terkecoh.

Aku pun mendatangi Agustini saat ia turun panggung, mengajaknya ke tempatku, memintanya untuk menemaniku malam itu.
“Perkenalkan namaku Ferry,” ujarku mengulurkan tangan.
“Agustini, panggil saja Agus atau Tini,” sambutnya seraya tersenyum sensual.
Sejak perkenalanku dengan Agustini, aku rajin mengunjungi THM dimana ia bekerja sebagai penyanyi disana.
Seperti pepatah Jawa; witing tresno jalaran soko kulino, aku pun merasakan ada sesuatu yang lain di perasaanku. Rupanya apa yang sedang kurasakan ini, juga dirasakan oleh Agustini.

“Kurasa aku telah jatuh cinta padamu,” ungkapku ke Agustini. Saat itu menjelang subuh, THM hampir tutup.
Agustini hanya memandangiku seolah tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.
“Kenapa diam ?” tanyaku sambil mengguncang bahunya.
“Apa yang diucapkan Abang tadi benar ?” Agustini balik bertanya.
“Benar, kamu tidak salah dengar,” ucapku dengan suara agak tergetar.
Agustini tak menjawab ungkapan perasaanku, ia kembali memandangiku dengan senyum yang kukira mengandung misteri.

Sesampainya di rumah kos dimana selama ini aku mengontrak di ibukota, aku kembali memikirkan sikap Agustini yang tak segera menjawab ungkapan perasaanku.
Aku juga memikirkan statusku yang telah beristri dan memiliki seorang anak di kampung. “Apa aku sanggup mendustai istriku, dan mendustai perasaanku sendiri,” gumamku dalam hati.
“Kenapa tidak, nekat saja,” teriak hatiku pula.

Kuputuskan saja untuk nekat mengikuti kemauan untuk berpoligami.
“Ada yang belum Abang ketahui dariku selama ini,” cetus Agustini ketika ia kuajak ke rumah kosku.
“Apa itu ? Ungkapkan saja semua agar aku tahu,” pintaku penasaran.
“Aku ini seorang janda, punya 2 anak di kampung yang dipelihara ibu,” ungkap Agustini tertunduk.
Aku sama sekali tidak terkejut mengetahui keadaaan Agustini, karena selama ini aku mengetahuinya dari beberapa rekan kerjanya.
“Tak apa-apa, aku sudah mengetahuinya,” sahutku sembari mendekap Agustini.

Kini tinggal aku yang mesti mengungkapkan kejujuranku kepada Agustini. Ada perasaan kuatir menyergapku bila Agustini mengetahui statusku yang telah berkeluarga. Batapapun nantinya jawaban Agustini setelah mengetahui statusku, aku harus menerimanya.
“Sebetulnya aku punya istri dan seorang anak di kampung,” ungkapku dengan nada cemas.
Mendengar ungkapanku itu kukira Agustini akan terkejut, ternyata ia lagi-lagi hanya tersenyum.
“Aku tak terkejut,” cetus Agustini masih tersenyum.
Aku semakin bingung dengan sikap Agustini.
“Jangankan jadi istri kedua atau ketiga, jadi istri keempat Abang pun aku bersedia,” ujar Agustini seraya menghambur dalam pelukanku.
Kami pun terhanyut dalam perasaan masing-masing, perasaan bahagia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.