Menuai Sumbangan di Tengah Jalan - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Senin, 10 Maret 2014

Menuai Sumbangan di Tengah Jalan

foto : rmol.co
Jika sedang berpergian, menelusuri jalan umum sepanjang ratusan kilometer dari daerah saya di bagian tenggara pulau Kalimantan ke Banjarmasin, tak sedikit jumlahnya yang akan kita temuai para peminta sumbangan untuk tempat ibadah (mesjid, surau, langgar).
Mereka ini melakukan aktivitasnya di tengah jalan umum, hampir di setiap kampung atau daerah yang dilewati, terdapat peminta sumbangan seperti ini.


Dalam melakukan aktivitas, mereka biasanya memasang tanda berupa penghalang jalan, sendiri, tak jarang beberapa orang berdiri maupun duduk di tengah jalan, dan tak sedikit disertai alat pengeras suara.
Keberadaan mereka ini apakah mengganggu aktivitas lalulintas atau tidak, tergantung persepsi para pengguna jalan itu sendiri.


Kesan yang saya tangkap secara pribadi adalah, sepertinya sangat sulit menjaring dana (wakaf, sedekah) secara langsung terhadap para penyumbang atau dermawan untuk mendirikan dan membangun tempat ibadah. Padahal di negeri yang mayoritas berpenduduk muslim ini, sangat banyak orang kaya di tiap daerahnya yang jika mereka sadar, sebetulnya tak mesti menggelar minta sumbangan di tengah jalan.

Suatu ketika sepulang dari Banjarmasin naik sebuah taksi umum, seorang penumpang di sebelah saya nyelutuk, “dalam agama kami, untuk mendirikan tempat ibadah tak perlu meminta sumbangan di tengah jalan seperti itu.”
Saya berpaling kepada tetangga kursi sebelah saya, tampaknya dia non muslim.


Dalam hati saya membenarkan celetukan penumpang di sebelah saya itu. Memang tak ada umat dari agama lainnya yang meminta sumbangan sambil pakai pengeras suara selain umat agama mayoritas di negeri ini.
Namun saya pun bersikap apologi dengan mengatakan, Islam di negeri ini terbagi menjadi beberapa Ormas. “Ada kok umat Islam dari salah satu Ormas Islam terbesar di negeri ini yang dari membangun mesjid, langgar, surau, mushala, klinik, rumah sakit, TK, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi, namun mereka tak meminta sumbangan di tengah jalan seperti itu,” ungkapku menjelaskan.


Bukan fenomena meminta sumbangan di tengah jalan itu saja. Hampir setiap hari di daerah tempat saya, ada saja para peminta sumbangan. Kalau tidak mengatas namakan tempat ibadah, ya pondok pesantren, maupun panti asuhan. Yang terkadang bikin saya terheran-heran adalah, mereka yang door to door minta sumbangan itu, kebanyakan berasal dari luar daerah, bahkan dari luar propinsi dan luar pulau.
Terkadang saya berpikir, sudah begitu terkikisnya kah rasa sosial mereka untuk menyisihkan sebagian kecil penghasilannya untuk keperluan ibadah dan sosial ? Atau mereka lebih merelakan uangnya untuk dihabiskan di tempat hiburan dan pelesiran ? Entahlah, semua kembalinya ke pribadi masing-masing saja.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.