Mudahnya Jadi Wartawan di Negeri Ini - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Rabu, 05 Maret 2014

Mudahnya Jadi Wartawan di Negeri Ini

Saya kembali bicara tentang wartawan. Karena profesi ini menanggung risiko dan tanggung jawab yang saya nilai belum mendapatkan timbal balik yang pantas dari perusahaan media yang kebanyakan hanya memikirkan untung dari usahanya.

Banyak wartawan yang digaji masih tak sesuai dengan pekerjaan dan risikonya. Dan tak sedikit malah wartawan tak digaji, justru dibebani berbagai kewajiban seperti; bayar uang deposit untuk jaminan koran, bayar koran yang dikirim oleh perusahaan tiap edisi, mencari iklan atau advertorial selain berita, bahkan sampai urusan mencari pelanggan pun ada yang dibebankan kepada wartawan.
Meski begitu bukan menyurutkan orang untuk menjadi wartawan. Dengan berbagai cara mereka berusaha untuk memenuhi permintaan perusahaan media tersebut. Mereka pikir dengan begitu menjadi wartawan sangat mudah tanpa menempuh berbagai macam prosedur, yang penting sanggup bayar. Jadinya banyak wartawan yang tahunya cuma bisa cari duit dengan berbagai cara kotor namun tak piawai bikin berita.

Tulisan saya ini tak sekedar opini saya pribadi, tapi sudah bisa digolongkan reportase meski disana sini terdapat kekurangan. Saya sangat berharap pihak Dewan Pers melakukan investigasi terhadap semua perusahaan media terutama media cetak yang tak menggaji wartawannya malah justru membebaninya.

Banyak perusahaan media yang mencetak koran mingguan di wilayah Jawa Timur, yang saya ketahui tak menggaji para wartawannya, terutama wartawan yang bertugas diluar daerah.
Beberapa wartawan yang saya kenal di daerah saya, wartawan dari koran mingguan yang berbasis di wilayah Jawa Timur, mengaku tak digaji. Mereka saat ingin bergabung sebagai wartawan, dimintai uang deposit sebagai jaminan untuk menerima koran. Uang deposit yang dibayar bervariasi, tapi jumlahnya jutaan rupiah, dari 1 juta keatas hingga mencapai 10 juta rupiah.

Saya heran kenapa justru wartawan yang setor uang ke perusahaan media, tak sebaliknya wartawan itu digaji dan diberikan berbagai macam fasilitas pendukung untuk kelancaran tugasnya.
Saya pertanyakan kenapa mereka tak menggaji wartawannya, seorang Pemimpin Redaksi sebuah koran mingguan di Surabaya yang saya kenal menjawab,”kartu pers dan surat tugas yang kami keluarkan dan diberikan kepada wartawan itu, lebih daripada gaji. Karena dengan itulah sebagai senjata mereka untuk mencari duit dengan mudah.”
Alamak…….sebuah jawaban dan pernyataan yang sangat enteng dan berkonotasi negatif, berarti para wartawan itu sama halnya disuruh memburu dan menembak sasarannya untuk kemudian diporoti uangnya.

Saya pikir kalau cuma kartu pers dan surat tugas saja sebagai tanda atau atribut seseorang bisa dikatakan atau diakui sebagai wartawan, bukankah di jaman yang sudah sangat canggih dan modern ini setiap orang bisa saja membikin sendiri yang namanya kartu pers dan surat tugas (?)
Pantas saja dimana-mana sekarang ini banyak yang mengaku wartawan dengan cuma menunjukkan kartu pers atau ID card, padahal medianya tak pernah ada.
Tak dapat dipungkiri bila kini banyak bertebaran wartawan gadungan yang kerjanya mencari-cari kesalahan orang lain dan kemudian memerasnya.
Tak hanya itu, wartawan sungguhan pun yang tak digaji sudah dapat dipastikan akan melakukan cara-cara kotor untuk memperoleh duit guna membayar berbagai kewajiban yang dibebankan oleh perusahaan media kepadanya.

Saya kira apa yang terjadi di wilayah Jawa Timur itu juga terjadi di banyak daerah lainnya, terutama di Jakarta dimana Dewan Pers berkantor.
Melalui tulisan ini saya mengimbau agar Dewan Pers beserta berbagai organisasi profesi wartawan seperti PWI, AJI, dan lainnya, melakukan penertiban terhadap perusahaan media yang tak menggaji para wartawannya. Bila ada perusahaan media yang tidak sanggup memberikan gaji dan menyejahterakan wartawannya, sebaiknya tidak usah beroperasi, supaya tak setiap orang boleh dengan mudahnya mendirikan perusahaan pers. Sehingga yang jadi wartawan pun adalah mereka yang benar-benar selektif dan berkualitas, dan ini akan berdampak positif kepada perbaikan reputasi profesi wartawan.

Sekali lagi saya imbau kepada lembaga yang berwenang dan berkompeten terhadap masalah diatas, agar benar-benar menaruh atensi sebelum reputasi dunia pers di negeri ini makin terpuruk dan hancur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.