[Narkoba]; Jangan Bangga Berteman Polisi - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Senin, 24 Maret 2014

[Narkoba]; Jangan Bangga Berteman Polisi

Terinspirasi dari tema tayangan Bukan 4 Mata yang dipandu oleh Komedian Tukul Arwana di salah satu stasiun televisi swasta malam ini; Say No To Drug.
Kalimat tersebut sangat sering kita baca dan dengar, namun ia tetaplah hanya kalimat anjuran yang tak punya kekuatan apapun layaknya kalimat mantra. Sesering apapun kita membaca dan mendengar kalimat anjuran itu, pada akhirnya semuanya kembali kepada kekuatan mental masing-masing untuk tidak terseret dan ikut menggunakan Narkoba.


Aku jadi teringat seorang teman yang berkerja sebagai seorang karyawan pada BUMN yang mengelola pelabuhan di Indonesia. Temanku ini sangat akrab dengan penggunaan Narkoba, sehingga bisa dikatakan No a day without drug. Kukira seluruh gajinya cuma dihabiskan untuk Narkoba andai saja ia tak memiliki usaha lainnya yang bergerak di bidang pelayanan kepelabuhan, yang menghasilkan cukup banyak duit setiap bulannya.

Temanku tersebut tak jarang pesta Narkoba di rumahnya dengan beberapa oknum anggota polisi yang menjadi temannya sesama hobi.
“Ayo ikutan belajar ngisap, enak kok seperti orang merokok, ini malah jauh enak daripada sekedar merokok. Jangan kuatir, nggak ada yang nangkap, mereka ini polisi ikut ngisap juga,” tawar temanku itu sambil menunjuk ke arah teman-temannya.
“Aku lebih baik tidak berteman dengan kamu bila kamu mau menjerumuskan aku. Masih banyak orang diluar sana yang dapat kujadikan teman,” sahutku sambil permisi pulang.


Itu salah seorang temanku yang sudah kuanggap jadi budak Narkoba. Lainnya masih ada teman saya yang hampir mirip kelakuannya. Lagi-lagi menggunakan Narkoba dengan oknum polisi yang nakal.
“Kamu jangan bangga bisa berteman dan menggunakan Narkoba dengan anggota polisi. Suatu saat nanti polisi yang akan menangkapmu, bukan polisi temanmu itu, tapi teman-temannya yang lain,” ujarku memperingatkan teman itu.


Ada pula seorang kenalanku. Sehari-harinya cuma membantu istrinya membuka warung makan. Sebetulnya kenalanku itu merupakan pengedar Narkoba. Hanya saja ia bisa berlindung dibalik usaha warung makannya, sehingga tak begitu kentara.
“Nggak bakal polisi menangkapku, beberapa anggota sering minta duit dan ‘barang’ ke aku,” ungkapnya dengan bangga ketika aku mengetahuinya sebagai pengedar.


Mereka begitu bangga dan tak kuatir menggunakan dan menjual Narkoba karena kenal dekat dan berteman dengan oknum anggota polisi.
Akhirnya, temanku yang berkerja sebagai karyawan BUMN itu ditangkap polisi ketika sedang berpesta shabu dengan temannya seorang oknum anggota polisi. Keduanya dihukum 6 tahun penjara, keduanya pun sama-sama dipecat; dari Kepolisian, dan dari BUMN.


Temanku yang satunya lagi, tak berapa lama juga ditangkap polisi. Yang menangkapnya merupakan anggota polisi dari kesatuan yang sama dengan temannya si oknum polisi yang sering bersamanya menggunakan Narkoba.

Kenalanku si pengedar Narkoba itu pun ditangkap polisi juga. Tak ada seorangpun dari anggota polisi yang seperti ia katakan tak bakal menangkapnya itu yang membantunya agar terbebas dari hukuman. Jadi jangan bangga dapat berteman dengan oknum anggota polisi pengguna Narkoba, karena bukan mereka yang akan menangkap, tapi teman-temannya, dan tak ada seorang polisi pun kukira yang bersedia mempertaruhkan pangkat dan jabatannya untuk membela yang salah, pastinya mereka cuci tangan setelah usai makan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.