Duitnya Diambil Tapi Disikat Juga - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Senin, 24 Maret 2014

Duitnya Diambil Tapi Disikat Juga

“Tidak bisa. Kami menjual batubara dengan harga begitu, keuntungan kami tak seberapa karena mesti setor ke oknum sana sini,” ujar H. Alwi menolak penawaran harga oleh seorang pembeli (buyer) yang mengaku sebagai keponakan salah seorang Direktur di Polda.
“Sudahlah pak Haji, kasih saya harga segitu supaya saya juga dapat untung, nanti saya bantu bila pak Haji ada punya urusan di Polda lewat Om saya,” bujuk pembeli itu.
“Maaf, harga batubara kami tak akan diturunkan dari harga itu,” tegas H. Alwi yang tampak agak kesal terhadap pembeli itu.


H. Alwi, penambang batubara yang banyak dicari para pembeli, karena ia termasuk salah seorang penambang yang besar. Omzet penjualan batubara dari hasil produksi tambang H. Alwi; dalam hitungan milyaran rupiah setiap bulannya. Namun itu sebanding dengan pengeluarannya kepada para oknum penegakan hukum yang ratusan juta rupiah juga per bulannya.
H. Alwi, penambang batubara yang tak memiliki ijin. Warga setempat menjuluki penambang seperti H. Alwi ini adalah penambang Spanyol; Sparo Nyolong.




“Penambang liar aja belagu, entar gue lapor ke Om gue biar semua kegiatan tambang di daerah ini dihentikan,” gerutu si pembeli yang barusan menemui H. Alwi.
“Iya itu Bos, orang-orang seperti itu perlu diberi pelajaran biar mereka tahu siapa sebenarnya Bos,” sahut anak buah si pembeli yang merangkap sebagai sopir pribadi.
“Lihat saja nanti dalam beberapa hari, dia akan menyesal tak mau menjual batubaranya seharga keinginan kita,” ucap pembeli itu dengan nada pasti.


Di rumahnya H. Alwi tampak uring-uringan, dia masih kesal terhadap si pembeli yang dia anggap memaksakan harga seenaknya saja.
“Enak saja minta harga murah, memangnya kita menambang batubara tinggal ambil aja. Kalau mau harga murah menambang aja sendiri,” sungut H. Alwi sambil menghempaskan pantatnya di sofa.


Sudah sejak tujuh tahun lalu H. Alwi menggeluti usaha di bidang pertambangan batubara. Mulanya Alwi (belum pergi haji) menekuni usaha jual beli minyak terutama jenis solar. Bermodalkan satu unit mobil tua, Alwi setiap harinya membeli solar bersubsidi di SPBU di kota kecamatan tempatnya tinggal. Lumayan dalam sehari Alwi bisa membeli 200 hingga 300 liter solar dari 2 SPBU. Solar tersebut kemudian ia jual ke para penambang dengan harga lebih tinggi; Alwi dapat untung 2 ribu rupiah per liternya.

Seorang penambang yang sering ia suplai solar menawari dan mengajak Alwi berkerjasama membuka usaha tambang baru. Nasib mujur rupanya berpihak, usaha pertambangan Alwi berkembang pesat dan selalu menghasilkan keuntungan. Tak ada seorangpun pembeli batubara yang tak kenal H. Alwi kini.

“Pak Haji, saya dapat informasi pihak Polda dan Polres bergerak besok untuk melakukan penertiban tambang,” lapor pengawas tambang, salah seorang karyawan kepercayaan H. Alwi.
“Hah, besok !? Sialan orang-orang itu, tak ada pemberitahuan sama sekali, padahal tiap bulan kukirimi duit ratusan juta,” geram H. Alwi.


Kesibukan tampak di lokasi tambang H. Alwi. Belasan dumptruk tronton sedang sibuk antri memuat batubara untuk dipindahkan ke pelabuhan. 3 unit alat berat excavator dibantu 1 unit buldozer dan 1 unit wheel loader juga ikut sibuk membantu pemuatan batubara supaya cepat terangkut, karena jika sampai masih ada di lokasi tambang, tak menutup kemungkinan di-police line oleh Kepolisian.
“Kerahkan semua armada angkut kita, bilamana perlu cari tambahan dari luar untuk kita sewa supaya batubara cepat terangkut,” perintah H. Alwi ke seorang karyawannya yang mengepalai divisi angkutan.
“Siap Bos,” sahut karyawannya seraya naik ke mobil dan pergi.


Sementara itu seorang Direktur di Polda sedang memberi perintah kepada para bawahannya.
“Semua tambang baik yang ada batubaranya ataupun tidak, serta batubara yang tak dilengkapi dokumen yang sah, amankan, beri police lain. Selain itu peralatan berat yang berada di lokasi tambang, sita semua kunci kontaknya,” perintah Direktur Reskrimsus.
“Siap Ndan !” Sahut para bawahannya.
“Mohon maaf Ndan, bagaimana dengan para pengusaha yang selama ini loyal memberikan setoran ?” sela seorang berpangkat perwira yang menjadi bawahan langsung Direktur. 

“Sapu saja semua, mereka itu urusannya nanti biar menghadap lagi ke kita,” sahut si Direktur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.