Sarung dan Sajadah Terakhir Ibu - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Sabtu, 22 Maret 2014

Sarung dan Sajadah Terakhir Ibu

Aku memacu sepeda motor Yamaha RX King dengan kecepatan cukup tinggi. Temanku, Heru beberapa kali mengguncang bahuku agar aku tidak ngebut. “Jangan terlalu kencang, memangnya kita lagi mengejar apa ?” Suara Heru di belakangku nyaris hilang ditelan suara raungan mesin sepeda motor.
“Tenang saja, sob. Aku masih konsen kok,” ujarku tanpa mengendurkan gas.

Sebetulnya kepalaku agak berat, karena sebelum berangkat tadi aku dan Heru menghabiskan 2 botol minuman keras Mansion House. Namun karena terkena hembusan angin selama di perjalanan, kepalaku berangsur agak ringan.
Mumpung belum ada kerjaan, aku mengajak Heru untuk menengok ibuku yang tinggal di kota lain, sekitar 80 kilometer dari tempat tinggalku. Entah kenapa dalam beberapa hari ini aku selalu teringat ibu, wajah beliau selalu terbayang di pelupuk mataku.

Perjalanan dari tempat tinggalku ke tempat ibu, yang biasanya kutempuh selama sekitar satu setengah jam dengan mengendarai sepeda motor, kali ini hanya memakan waktu satu jam lebih beberapa menit. Aku mengendarai sepeda motor seperti sedang mengejar sesuatu yang dapat hilang.


Rumah ibuku tampak lengang. Pintu depan meski terbuka lebar, namun tak tampak ibu di ruang depan. Biasanya ibu akan keluar bila mendengar ada suara kendaraan bermotor yang memasuki dan berhenti di halaman.
Kami pun melangkah memasuki rumah. Sementara Heru duduk di ruang depan, aku memasuki kamar tidur ibu, tapi beliau tak ada disana. Akhirnya aku pun mencarinya ke belakang, disana tampak ibu sedang duduk di muara pintu belakang. Beliau bergeming atas kehadiranku, seolah beliau hanya sendiri di rumah itu. Tapi ternyata dugaanku salah, “mana temanmu ?” tanya ibu tanpa menoleh ke arahku.
“Ada di ruang depan, bu,” jawabku.
“Ayah sama Andre kemana, bu ?” tanyaku menanyakan ayah dan adik bungsuku.
“Ayahmu sejak tengah hari tadi katanya ke rumah temannya, si Andre pergi main bola bersama temannya,” jawab ibu masih tanpa menoleh ke arahku.

Aku heran, tak seperti biasanya ibu bersikap dingin begitu.
“Ibu sakit, ya ?” tanyaku khawatir.
“Ibu sehat kok,” sahutnya.
Aku pun duduk di samping ibu, meraih tangannya dan menciumnya.
Ibu menggeser posisi duduknya sehingga aku dan ibu berhadapan. Tanpa berkata apapun ibu menatapku, tanpa ekspresi. Ditatap ibu, aku menjadi salah tingkah dan jengah.
“Ada apa sih bu, ada yang aneh ?” tanyaku tanpa menatap muka ibu.
Menanti jawaban ibu, beberapa menit kemudian baru keluar kalimat dari mulut beliau, pelan, sangat pelan bahkan, “tidak apa-apa.”

Merasakan dan melihat ibu tak kurang sesuatu apapun, aku beranjak ke ruang depan menemui Heru. Namun baru saja aku menghempaskan pantat di kursi, ibu juga menyusul. Tak terdengar bunyi tapak kaki ibu di lantai, beliau sudah berada di hadapan kami, dan duduk berseberangan.
Masih tak seperti biasa ibu selalu banyak pertanyaan ke aku maupun kepada temanku.

Heru memang sudah lama ibu kenal ketika keluarganya dan keluarga kami bertetangga di kota kecil dimana aku tinggal kini. Namun semenjak ayah dimutasi, kami tinggal berjauhan.
Ibu cuma menatap sejenak ke Heru yang sedang asyik membolak balik halaman majalah yang memang selalu tersedia di kolong meja tamu.
Kembali ibu menatapku, tanpa kata, tanpa ekspresi.
Ditatap seperti itu aku mengalihkan suasana dengan mengatakan kepada ibu bahwa kami akan kembali balik tidak menginap.
Mendengar perkataanku, ibu beranjak masuk ke kamar tidurnya. Beberapa saat kemudian keluar sambil membawa bungkusan. “Ini ada sarung dan sajadah untuk kamu pakai shalat. Ingat, kerjakan shalat kalau punya waktu,” pesan ibu pelan sambil menyerahkan bungkusan plastik berwarna hitam.
“Insya Allah, bu,” sahutku sambil meraih tangannya dan menciumnya.

Kami pun bersiap-siap untuk kembali melakukan perjalanan pulang.
Ketika itu menjelang shalat isya, kami pun pamit ke ibu.
“Hati-hati bawa sepeda motor. Jangan ngebut nanti tertabrak orang,” pesan ibu saat mengantar kami ke halaman. Mendengar pesan ibu, aku hanya mengangguk.

Dalam perjalanan pulang pikiranku terbagi antara berkonsentrasi ke jalan dan memikirkan perilaku ibu yang tak seperti biasa. Aku pun tak lagi ngebut mengendarai sepeda motor, sementara Heru cuma diam di belakangku. Tampaknya ia juga merasakan hal yang sama sepertiku mengetahui perilaku ibuku yang biasanya selalu ceria dan banyak omong jika ketemu siapapun.

Sudahlah pikirku, mungkin saja ibu sedang ada masalah pribadi yang tak mungkin beliau ungkapkan kepadaku. Aku pun akhirnya membuang jauh pikiranku terhadap perilaku ibu tadi. Aku berkonsentrasi mengendarai sepeda motor sambil mengingat pesan ibu agar berhati-hati.


Hari itu usai shalat ashar, seorang temanku mendatangiku tergopoh-gopoh ke sebuah warung kopi di tepi jalan.
“Kamu tadi dicari pak Suripto,” ujar Aan sambil tersengal.
“Ada apa polisi itu mencariku ?” gumamku.
“Katanya tadi ada yang penting, coba kamu cari dia,” saran Aan sambil duduk.
“Ya, aku sebentar ke rumahnya, kamu tunggu aja disini,” ujarku ke Aan yang sedang memesan kopi.

Aku berjalan kaki dari warung kopi itu ke rumah pak Suripto, yang berjarak sekitar 200 meter. Memang biasanya dia sering mencariku untuk dimintai tolong membuat panel-panel data di kantornya.
Kebetulan saat aku tiba di rumah pak Suripto, orangnya sedang duduk-duduk di teras bersama istrinya.
“Tadi aku terima pesan teleks dari kantor ayahmu, katanya ayahmu meninggal barusan sekitar 2 jam lalu,” ungkap pak Suripto tanpa sempat aku duduk.
“Sakit apa ya ayah, kok meninggalnya mendadak ?” gumamku.
“Aku juga tak mengetahuinya, karena pesannya singkat saja,” ujar pak Suripto.
“Sebaiknya kamu cepat-cepat berkemas untuk menengok orangtuamu,” istri pak Suripto ikut bicara.
“I….ya bu. Terima kasih atas informasinya, pak,” kataku agak terbata karena disergap perasaan tak nyaman.

Aku kembali ke warung kopi dimana Aan menunggu.
“Ada apa pak Suripto mencarimu ?” tanya Aan.
“Dia cuma memberi kabar,” sahutku sedih.
“Kabar apa sehingga kamu kelihatannya kurang senang begitu ?” tanya Aan lagi.
“Ayahku…….meninggal,” jawabku sedih.
“Innalillah…………,” cuma ucapan itu yang keluar dari mulut Aan.

Beberapa saat kami terdiam. Aku menghabiskan kopiku.
“Aku duluan aja, mau mencari Heru untuk kuajak menengok orangtuaku,” ujarku.
“Iya, sebaiknya kamu cepat kesana, hati-hati di jalan, tinggal aja nanti aku yang bayar minumanmu,” kata Aan.
“Terima kasih,” sahutku.

Aku dan Heru berangkat menengok orangtuaku. Saat itu menjelang shalat isya. Kami berdua menumpang taksi angkutan luar kota.
Selama dalam perjalanan aku selalu memikirkan apa penyebab ayah meninggal. Karena selama ini ayahku jarang sakit. Kalaupun sakit, penyakitnya cuma flu, pilek dan batuk ringan. Lagi pula badan ayah tidak gemuk, tidak juga kurus, badan ayah itu menurutku proporsional. Menurutku ayah adalah sosok yang sehat tanpa mengidap dan menyimpan penyakit berbahaya.

Pikiranku terhadap ayah tak sempat usai, mobil taksi yang kami tumpangi tak terasa sudah berada di depan rumah orangtuaku.
Di halaman banyak sekali sepeda motor dan mobil yang parkir. Suasana rumah orangtuaku menjadi ramai.
Aku pun turun diikuti Heru. Dari tempat aku turun kulihat tampak ayah sedang menyalami orang-orang yang datang. Perasaanku pun heran, ternyata ayah masih hidup. Jangan-jangan pikirku pesan teleks itu cuma bohong-bohongan untuk mengerjaiku agar aku pulang.
Ah, aku malas memikirkannya terlalu jauh. Kebetulan adik perempuanku menyambut kedatanganku.
“Ada apa ini kok ramai-ramai ?” tanyaku.
“Ibu kita meninggal, bang,” jawab adikku.
“Ibu sakit apa kok meninggalnya mendadak, kan beberapa hari lalu ibu sehat aja ketika aku datang kesini ?” tanyaku lagi.
“Ibu ditabrak sepeda motor yang sedang ngebut ketika akan menyeberang jalan sore tadi,” ungkap adikku.

Aku, Heru dan adik perempuanku memasuki rumah melalui pintu belakang tanpa terlebih dulu menemui ayah yang sedang sibuk menyambut para pelayat.
Kami langsung masuk ke kamar tidur ibu. Disana adikku tampak sedang membacakan surah yasin sambil menghadapi sesosok jasad yang sedang ditutup dengan kain bermotif batik, sosok itu adalah jasad ibuku.

Usai adik-adikku membacakan surah yasin, aku pun berjongkok di hadapan jasad ibu, membuka kain penutup wajahnya, tampak wajah ibuku yang sudah tak bergerak lagi, namun tampak seperti sedang tersenyum. Sambil menahan keharuan dan kesedihan yang dalam, aku mencium kening jasad ibu.
Dengan susah payah aku menyelesaikan membaca surah yasin, karena aku membacanya sambil terisak dan mengusap air mata yang tak kuasa kutahan. 

Maafkan aku ibu. Aku tak bisa membaca pertanda kepergianmu. Yang aku ingat selalu adalah pemberianmu terakhir; sarung dan sajadah itu yang selalu kugunakan sehingga tak melupakanmu di saat memanjatkan doa buatmu. Bagiku kau tak pernah mati, ibu cuma sedang beristirahat di tempat yang sangat jauh, menungguku untuk beristirahat bersama.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.