Media Sosial dan Kampanye Politik - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Selasa, 10 Juli 2018

Media Sosial dan Kampanye Politik

Tak habis pikir saya tentang media sosial yang cuma tampak riuh di permukaan saja. Bagaimana tidak, satu akun media sosial milik saya dengan pertemanan nyaris 5 ribu, namun apa lacur tiap kali posting atau update TL (status kalo di Fb); yang like paling cuma berjumlah belas-belasan dan 2 atau 3 yang komentar.
Lalu teman saya yang jumlahnya ribuan itu kemana dan sedang apa ?

Mengalami kondisi sedemikian itu membuat saya hanya menghela nafas panjang pendek, tak berharap banyak, dan juga tak menjadi kebanggaan. Lha gimana mau bangga, menang jumlah tapi miskin reaksi.
Namun meski demikian tak sedikit orang begitu percaya dan yakin kalau media sosial itu punya pengaruh besar terhadap keinginan; keinginan tenar dan keinginan mendapat persetujuan dari pihak lain, hehehe.......

"Saya sudah kontrak dengan media sosial tertentu untuk kampanye menyambut perhelatan politik di 2019 nanti," cetus seorang teman yang sedang mengincar kursi legislatif daerah.
Ia dengan begitu yakinnya media sosial akan membantunya memuluskan cita-citanya itu agar dapat mendulang suara.

Namun sesederhana itukah dengan hanya mengandalkan media sosial dapat dengan mudahnya melenggang menuju apa yang dikehendaki ? Tentu tidak.
Para konstituen atau pemilih tak mudah digiring hanya dengan berbagai tayangan di media sosial. Mereka lebih dari itu tentu menginginkan sesuatu yang nyata atau secara real time.
Kampanye di media sosial tentu akan kalah jauh jika dibandingkan dengan langsung bertatap muka, berjabat tangan, mengobrol bahkan berdiskusi meski dilakukan dengan cara yang tidak formal misalkan sambil nongkrong di warung kopi, kedai nasi kuning dan ketupat, atau bahkan di tepi jalan sambil menikmati kuliner lokal pentol ikan atau pentol daging.

Wajah senyum dan sumringah yang telah diedit fotonya dengan aplikasi canggih, tetap kalah dengan wajah asli saat bertatap muka langsung, karena sosok yang hidup dan bergerak memiliki aura yang memancarkan sesuatu dari dalam diri ketimbang hanya foto-foto statis ataupun video yang tiap gerak dan bicara telah disetting sedemikian rupa.

Nah, apakah masih yakin dengan media sosial, atau real time ? Silakan, semua punya cara tersendiri, hehehe........

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.