Curang Teriak Curang Karena Kalah Curang - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Selasa, 23 April 2019

Curang Teriak Curang Karena Kalah Curang

"Kali ini tingkatkan kecurangan kita daripada sebelumnya !" Parno setengah berteriak sambil menggebrak meja kayu di hadapannya juga di depan para anak buahnya yang tampak takut dan pucat.

Tak seorang pun dari anak buah Parno yang berani mengangkat wajahnya di hadapan bos mereka yang terkenal sangat berangasan dan tak sabaran.

"Kenapa kalian diam semua, dasar bajingan tukang molor semua kalian ini, sampah, muka miskin !" sembur Parno lagi, membuat semakin takut para anak buahnya.

Sudah 2 kali Parno gagal meraih jabatan Kepala Desa di kampungnya, ini kali ke 3 ia mencalonkan diri lagi, makanya seluruh anak buahnya ia kumpulkan agar mengatur strategi supaya kali ini bisa menang dan menduduki kursi Kepala Desa.

"Mana itu Mahli ?" tanya Parno dengan suara masih agak tinggi.

"Si...si..ap Gan," satu suara gugup terdengar dar antara anak buah Parno. Rupanya sedari tadi Mahli sudah ada diantara mereka yang berkumpul namun tak berani menampakkan mukanya.
"Sini kau !" panggil Parno.

Mahli, termasuk orang kepercayaan Parno ini pun berdiri dan melangkah pelan sambil membungkuk menuju tempat Parno duduk.

Kepada Mahli dan seluruh anak buahnya yang berkumpul di rumah Parno yang sangat megah, Parno memerintahkan agar melakukan kecurangan di proses pemilihan Kepala Desa yang akan dilaksanakan dalam beberapa minggu ke depan.

"Tak ada jalan dan cara yang lebih baik untuk menang selain melakukan kecurangan. Tapi ingat, kecurangan ini harus kita laksanakan secara masif dan terstruktur, juga secara samar-samar seolah pihak lawan kita yang melakukan kecurangan. Kita bikin berita hoax sebanyak-banyak untuk mencuci otak warga, mengubah opini mereka. Laksanakan ini mulai sekarang," ujar Parno memberi perintah sekaligus penjelasan.

Sejak dikeluarkannya perintah oleh Parno, maka banyaklah warga yang mulai percaya bahwa lawan Parno di Pilkades nanti, si Baidowi adalah anak seorang pemberontak yang sangat dibenci negara.

"Wah ternyata ibunya si Baidowi itu tak beragama, menyembah berhala," cetus seorang warga yang sedang nongkrong di warung kopi Bu Ijah.

"Kamu itu ketinggalan berita, saya sudah lama tahu masalah itu," sahut warga lainnya.

"Ah hoax semua itu, malah sebaliknya ibu si Parno itu yang ga jelas apa sesembahannya, sama kayak Parno juga begitu agamanya ga jelas," sanggah seorang warga yang mulai gerah dengan berita hoax beredar di kampungnya.

Suasana kampung Parno dan Baidowi menjelang Pilkades ini sudah cukup gaduh oleh beredarnya berbagai hoax dan janji. Parno sendiri berjanji ke para warga bila memilihnya maka akan menurunkan semua harga Sembako, semakin menarik minat dan simpati tak sedikit warga.

Sementara itu di pihak Baidowi juga tak tinggal diam untuk mengantisipasi gerakan kubu Parno. Meski Baidowi merupakan sosok yang cukup santun dan terkesan bersih, tapi kubu para pendukungnya tak mau begitu saja tinggal diam.

"Di Pilkades nanti si Parno itu sama kubunya pasti melakukan kecurangan agar bisa menang," ungkap Saimin, seorang pendukung setia Baidowi.

"Ya, prediksi aku sih juga begitu, tapi bagaimana strategi kita untuk menghadapi kecurangan itu ?" tanya Duloh yang potongannya tinggi besar dengan wajah brewokan.

"Jangan kuatir. Setiap kecurangan akan kita balas pula dengan kecurangan yang lebih curang. Ini strategi politik, kecurangan itu merupakan strategi dalam memenangkan politik. Ini Pilkades bung, bukan kontes Abang None. Pilkades ini akan menghabiskan banyak dana agar menang, maka kecurangan itu akan menjadi sah jika dilakukan oleh semua kontestan," jelas Abdian, ahli strategi yang berada di kubu Baidowi.

Selanjutnya Abdian meneruskan penjelasannya, "politik itu mesti ada yang namanya kecurangan bila mau menang. Mereka yang kalah dalam berpolitik sama dengan kalah dalam melakukan kecurangan, jadi kalau mereka berbuat curang maka balasannya adalah kita harus bisa lebih curang dari mereka."

Semua yang hadir pun setuju dengan penjelasan Abdian. Jargon Pilkades boleh-boleh saja menulis dengan huruf tebal dan besar harus jujur dan adil, tapi praktiknya menjadi sebaliknya asalkan dilakukan oleh semua pihak secara diam-diam. Kalau nanti ada yang teriak curang, maka yang teriak itulah yang membuka kedoknya sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.