Nobody's Perfect, It's Life - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Sabtu, 01 Maret 2014

Nobody's Perfect, It's Life

Wajah bibiku cemberut berat seperti mulut sapi yang sedang memamah biak. Ia hilir mudik di ruang tamu sambil mengomel. “Sialan tuh Tuan Guru ! Padahal sudah kutandai patok, tapi tanah pekarangan dapurku dicaplok juga,” sungut bibi yang sepupu sekali ayahku.


Aku cuma bengong sebelum mengetahui duduk perkara yang sebenarnya.
Bibi cerita, disamping tanah pekarangan dapur rumahnya, tinggal seorang Tuan Guru (sebutan umum untuk orang yang punya ilmu agama). Minggu lalu bibi sudah memperingatkan si Tuan Guru terlalu jauh mematok batas tanah miliknya sehingga mencaplok milik orang lain. Namun ternyata peringatan bibiku tak juga digubris pria yang sering menyampaikan ceramah agama di berbagai majelis itu.


Si Tuan Guru cukup terkenal di kotaku. Dia sering dipanggil untuk berbagai hajatan, bahkan sering menjadi langganan para pejabat. Si Tuan Guru pun, pada musim kampanye untuk pemilihan Walikota baru, sangat sibuk keliling pelosok bersama Tim Sukses salah satu pasangan calon Walikota.

“Sudahlah bi, ikhlaskan saja tanah milik bibi yang dicaplok itu, tanah itu nantinya yang akan menjepit jasad si Tuan Guru,” ujarku asal bunyi.
“Enak saja, aku membeli tanah rumah ini pakai duit tabungan selama bertahun-tahun menyimpan sisa gaji pamanmu,” sembur bibi yang mukanya tambah kusut.
“Bicarakan lagi aja ke Tuan Guru itu supaya persoalannya jernih, dan tetap silaturahim,” saranku.
“Sudah bosan aku ngomong. Dasar Tuan Guru munafik, mulut dan hatinya berbeda, semoga ia dilaknat Tuhan,” bibi semakin emosi.


Aku hanya bisa diam akhirnya. Aku pikir semakin aku ikut nimbrung, bibiku akan semakin emosi, dan sumpah serapahnya akan tambah tak keruan.
“Yah, namanya juga manusia,” aku membathin. Nobody’s perfect on the world, ini ungkapan “Barat” yang paling pas, tak ada yang sempurna. Memang, tapi setidaknya mereka yang semestinya layak dijadikan panutan menyadari posisinya.


Di dunia ini sudah “disetting” terdapat 2 hal yang saling berbeda dan bertentangan. Bila mulut berkata kebaikan, tak menutup kemungkinan hatinya busuk, atau sebaliknya. Tak jarang seseorang merasakan kebahagiaan meski dalam kesendirian, dan merasa hampa di tengah hiruk pikuk. Aneh, it’s life !

(Bila ada kesamaan tempat, nama tokoh, atau karakter, itu cuma kebetulan saja, catatan ini cuma fiktif adanya di kota yang bernama Never Never Land, hehehe)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.