Rasa Keprihatinan - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Sabtu, 01 Maret 2014

Rasa Keprihatinan

Di suatu sore, Sabtu yang hujan, aku terpaksa harus berteduh di tepi jalan umum, di tempat orang biasa menunggu taksi angkot. Aku menggigil kedinginan sambil menatap lalu lalang mobil, dan sesekali pengendara sepeda motor yang nekat menembus hujan, mungkin sedang ditunggu keluarga tercinta di rumah.

Pandanganku pada beberapa saat kemudian tertuju kepada sebuah mobil ber-plat merah yang penumpang dan pengemudinya tampak dari luar kaca. Pengemudinya seorang perempuan, penumpangnya anak-anak. Aku pikir mereka pasti keluarga pejabat kabupaten setingkat Kepala Dinas, Kepala Kantor, atau Kepala Bagian. Tak ada yang aneh memang jika seorang perempuan mengemudi mobil, kesetaraan gender, tapi bukan itu yang ada dalam pikiranku saat itu.
Yang terpikirkan olehku adalah, bukankah mobil dinas itu dibeli dari uang rakyat, dipergunakan untuk keperluan melayani rakyat, bukan dipakai diluar kepentingan melayani rakyat ?
Sisi lain hatiku mendebat, “kamu terlalu perasa, iri, karena kamu kini sedang menggigil kedinginan sebab cuma naik sepeda motor.”


Mungkin salah, mungkin ada benarnya perdebatan didalam hatiku. Salah karena aku tak bisa seperti mereka. Benar jika berada pada posisi kepentingan umum.
Hari libur, namun mobil-mobil dinas berseliweran di jalan umum, padahal mereka tak sedang bekerja. Kenapa fasilitas publik itu tak diparkir saja di rumah, atau dibawa sopirnya dengan mewanti-wantinya tak boleh menggunakan (?)



Mobil-mobil dinas di kotaku tak ada bedanya dengan mobil milik pribadi. Yang membedakan cuma plat nomor polisi yang tiap saat dapat diganti menjadi plat hitam (pribadi). Mobil-mobil dinas di tempatku tak diberi tulisan maupun logo pemerintahan.
Hati dan pikiranku terus merasa tak terima bila mengingat mobil dinas yang dipergunakan untuk kepentingan pribadi.


Hujan tak jua reda, hari mulai agak gelap. Hati dan perasaanku semakin berkelana seputar mobil dinas. Kenapa mesti beli mobil dinas yang mahal ? Bukankah jika beli yang agak murah, sisa anggarannya dapat dipergunakan untuk keperluan masyarakat yang lainnya ? Ini pertanyaan setengah “ngedumel” dalam hatiku.
Mobil dinas untuk Bupati, Wakil Bupati, dan Sekda saja sudah menghabiskan anggaran tak kurang Rp. 2 milyar. Coba bila seorang Bupati diberi mobil dinas sebuah Toyota Fortuner, Wakil Bupati dapat Nissan Terrano, dan Sekda pakai Toyota Kijang Innova (maaf terpaksa nyebut merk), pasti anggarannya bisa ditekan.
Lalu kemudian para Kepala Dinas dibelikan Toyota Avanza, Kepala Kantor dan Kepala Bagian dapat Daihatsu Xenia, dan para Camat dikasih Suzuki Super Carry, tentu banyak anggaran yang dapat diperuntukkan membangun peningkatan pendidikan dan SDM. Oh ya, mobil dinas Bupati di daerahku menggunakan Toyota Cygnus yang harganya diatas Rp. 1 milyar, Wakilnya memakai Toyota Fortuner, Sekda Nissan Terrano, sedangkan Kepala SKPD menggunakan Daihatsu Terrios, Toyota Rush, ada pula yang pakai Toyota Hilux (maaf terpaksa lagi nyebut merk dan type supaya dapat tahu harganya).


Ter…la…lu…! Mereka tak memiliki sense of crisist, senang diatas tatapan iri masyarakat.
Belum lagi bila saya bicara terkait seringnya para pejabat pergi keluar daerah, berapa biaya perjalanan dinas yang mereka habiskan tiap minggu, bulan, tahun ? Apakah kepergian mereka keluar daerah itu memang betul-betul ada manfaatnya bagi kemajuan daerah ? Jangan-jangan kerjanya cuma 1 hari namun berleha-lehanya beberapa hari ?
Lagi-lagi sisi hatiku yang lain mendebat, “kamu itu negative thinking karena tak akan pernah jadi pejabat seperti mereka.”


Soalnya seringnya para Pejabat di daerahku pergi keluar daerah terutama ke Jakarta, aku pernah menyindir mereka dengan mengatakan, para pejabat itu akan mendapat penghargaan dari Pemprop DKI Jakarta karena sudah ikut menyumbang untuk PAD mereka, yaitu PAD di sektor pariwisata, hotel, dan tempat hiburan.

Aku jadi teringat akan seorang pejabat di kotaku. Dulu sebelum ia mendapat jabatan, maksudku jadi Pejabat yang punya wewenang, ia dengan berlinang air mata berkata, “bila aku jadi pejabat yang duduk didalam mobil dinas yang dibeli dari uang rakyat, aku akan selalu ingat ini juga mobil rakyat yang boleh ditumpangi rakyat. Aku akan ajak mereka yang butuh tumpangan jika mobil masih muat.”
Tapi itu perkataannya dulu, kini sudah berbeda, kaca mobil dinasnya dilapis kaca film (rayban) tak tembus pandang, kacanya pun ditutup rapat. Jangankan berhenti untuk mengajak yang jalan kaki, membunyikan klakson pun tidak sehingga pejalan kaki sampai kaget disalip mobil dinas.


“Suka-suka aku dong, aku kan pejabat, berhak dapat fasilitas karena aku melayani masyarakat, rakyat.”

Bila sudah begini, maka aku lah yang patut disalahkan karena terlalu usil mempertanyakan hal-hal yang teramat sensitif, menyinggung perasaan, tak mengenakkan perasaan orang lain, menebar kebencian, menghina pejabat pemerintah, dan bisa dikenakan pasal Haatzai Artikelen.
Mohon maaf jika begitu, aku takut dengan pasal-pasal karet warisan kolonial Belanda itu. Tapi lebih takut lagi jika selalu dibilang “ngaret”, ulur-ulur waktu, tak punya kepastian, plin-plan, bunglon, ” timpakul”, dan lain-lain dan seterusnya.


Hujan tampaknya agak sedikit kompromi, beralih rintik-rintik. Hati dan pikiranku sudah menemukan semua jawabannya, yakni aku cuma wong cilik yang jika berteriak sampai serak pun cuma didengar oleh sesama wong cilik yang suaranya tak kalah seraknya dengan suaraku. Kupikir saatnya bagiku untuk introspeksi diri sendiri ketimbang terus berpikir macam-macam yang cuma menjadikan orang lain tak simpatik. Memberi contoh yang baik kepada orang lain akan lebih baik ketimbang bertutur kata yang baik. Karena antara tutur kata dan perbuatan sering kali bertolak belakang. Kini saatnya aku pulang ke rumah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.