Ketika Empati dan Simpati Dijadikan Euforia - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Minggu, 30 September 2018

Ketika Empati dan Simpati Dijadikan Euforia


Saya tak akan ikut-ikutan euforia kasih dukungan dan belasungkawa atau apalah apalah namanya untuk korban gempa di Palu dan Donggala Sulawesi Tengah. Bukan saya tak peka, tak punya empati dan simpati, tapi saya cuma berpikir sederhana saja; banyak di depan mata saya yang nasibnya sama bahkan lebih buruk daripada mereka yang tertimpa musibah itu.

Terkadang pikiran kita berangkat dari hal-hal di luar jangkauan kita sementara melupakan hal yang sangat dekat yang berada dalam jangkauan bahkan rengkuhan kita. Ibarat pepatah gajah di seberang lautan bisa tampak sedangkan semut di pelupuk mata tak kelihatan. Inilah protipe yang tak jarang menghinggapi kita agar dianggap wah dan nganu, hehe.....

Saya setuju dengan pendapat seorang teman yang tak ikutan memajang ungkapan empati dan simpati terhadap bencana di Lombok, Palu dan Donggala. Menurut teman saya yang kurang suka pamer publisitas di media sosial ini; saya lebih suka berbuat secara diam-diam untuk urusan empati dan simpati terhadap mereka yang sedang dalam kesusahan, biarlah Tuhan saja yang memberikan like ataupun emoticon, hiks,  hiks, hiks.....

Rentetan bencana dan musibah yang menimpa bangsa ini semoga hanya satu peringatan dan cobaan bukan hukuman apalagi kutukan dari Tuhan yang bebas melakukan apapun sebebas-bebasnya terhadap ciptaanNya. Dan kebetulan berada di tahun politik dimana apapun dapat dijadikan komoditi untuk jualan politik tak terkecuali korban bencana. Bebas saja, silakan untuk berpolitisasi terhadap hal apapun, tapi ingat Tuhan sedang dan selalu akan mengawasi tiap tindakan dan perbuatan makhlukNya. Hanya mereka yang benar-benar ikhlas berbuat yang akan dapat reward yang sepadan, sedangkan mereka yang berbuat untuk para sesembahan selain Tuhan tunggu saja hukuman dan azab yang pasti akan dibayar cash oleh Tuhan dalam bentuk kesulitan yang tak pernah disangka dan dikira oleh siapapun.

Sesuatu boleh saja menurut kita baik karena dikemas dengan penampilan yang baik pula. Kita dapat saja menipu sesama kita dengan kemasan yang bagus dan apik, tapi tak pernah sekalipun kita dapat menipu Tuhan, dan belum tentu apa yang kita anggap baik itu pun baik menurut Tuhan.

Mungkin saja sudah menjadi ketetapan Tuhan yang telah memprogramkan Kotabaru, tanah kelahiran saya, dengan selalu mengirim api sebagai penyebab bencana. Saya boleh saja berempati dan simpati terhadap musibah sesama anak bangsa di tempat yang jauh, namun tentu tak akan mengalahkan empati dan simpati saya terhadap mereka yang berada di tanah kelahiran saya, yang sangat dekat dengan saya.

Kesimpulannya adalah yang dekat patut jadi prioritas, berbuat dan bertindaklah sederhana karena Tuhan tak pernah bermaksud mempersulit umatNya. Kesulitan semua berasal dari kita, sedangkan Tuhan hanyalah mempermudah kesulitan itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.