Manifesto Komunis, Perjuangan Kaum - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Minggu, 02 Maret 2014

Manifesto Komunis, Perjuangan Kaum

Ini terkait pemikiran Karl Marx dan tulisan beberapa penulis terkait persesuaian dengan Islam.
Kalangan Islam yang menentang komunisme mengatakan bahwa komunisme dalam perjuangannya untuk mencapai tujuan menggunakan jalan kekerasan dan perjuangan kelas. Kaum komunis memang tak pernah menyembunyikan bahaya untuk mencapai tujuannya, yaitu hapusnya kapitalisme dengan menggunakan perjuangan kelas.

foto : alinbuku.blogspot.com
Sejarah semua susunan masyarakat yang ada hingga kini, kata Marx melalui ‘manifesto komunis’, adalah sejarah pertentangan kelas. Orang merdeka dengan budak, ‘patricier’ dengan ‘plebeyer’, tuan dan hambanya, tukang dan keneknya. Tegasnya, yang menindas dan yang tertindas terus menerus bertentangan, terkadang dengan cara sembunyi, terkadang dengan cara terang-terangan. Tetapi, pertentangan itu selalu berakhir dengan terjadinya perubahan-perubahan besar dalam masyarakat atau kelas-kelas yang bertentangan itu sama-sama binasa. Sejarah yang dimaksud Marx itu adalah sejarah tertulis hingga 1848, ketika manifes itu ditulis.
Sejarah yang lebih tua daripada susunan pergaulan hidup manusia, boleh dikata, belum diketahui orang.

Perjuangan kelas dilakukan karena kelas yang berkuasa tak akan secara sukarela menyerahkan kekuasaannya yang menindas. Kebebasan harus diperjuangkan. Direbut. Tak akan diperoleh dengan mengharap belas kasihan dari kelas yang menindas.

Yang jadi pertanyaan, apakah tujuan Islam untuk menjadikan kaum ‘mustadhafin’ (tertindas dan miskin) menjadi pemimpin di bumi dan mewarisi bumi ; seperti dikemukakan dalam surat Al-Qashash ayat 5-6 akan membumi, tanpa kaum ‘mustadhafin’ melakukan perjuangan kelas ?

Yang sudah jelas, dalam surat Ar Ra’du ayat 11 dikatakan, “Tuhan tidak akan mengubah keadaan suatu kaum bila kaum itu tidak mengubahnya sendiri.” Artinya, kaum tertindas dan miskin (buruh, petani, miskin kota, dan rakyat pekerja lain) akan tetap tertindas dan miskin bila mereka tak mengubah keadaan dirinya. Untuk mengubahnya, mereka harus mengorganisasikan diri, menyusun kekuatan, dan berjuang untuk mencampakkan belenggu yang dililitkan kaum ‘mustakbirin’ (para tiran, angkuh, dan kaya) di leher mereka.

Kaum mustadhafin tak bisa mengharap belas kasihan dari kaum mustakbirin yang membelenggu dan menindas mereka. Situasi untuk dapat terus menindas tentu akan dipertahankan mati-matian oleh kaum mustakbirin. Sedangkan kaum mustadhafin harus melepaskan belenggu penindasan dari leher mereka, baru dapat bebas.

Petunjuk surat Ar Ra’du ayat 11 cukup tegas kepada kaum mustadhafin untuk melakukan perjuangan kelas. Malahan, dalam perjuangan untuk tegaknya keadilan di bumi, Islam malah memperingatkan umatnya melalui surat An Nisa’ ayat 75 : “mengapa kamu tidak berperang untuk membebaskan orang-orang yang teraniaya ?” Peringatan Tuhan tersebut menunjukkan Islam lebih keras daripada perjuangan kelas yang diajarkan Karl Marx.

Kaum buruh tak perlu berperang untuk bisa mendapat upah dan jaminan sosial yang lebih baik, karena itu merupakan bagian dari perjuangan kelas itu sendiri.

Jadi, sesungguhnya Islamisme dan Komunisme sama-sama melakukan perjuangan kelas untuk mencapai tujuannya, yaitu hapusnya Kapitalisme. Hanya, bisa saja perbedaannya terletak pada istilah yang digunakan. Sedangkan akibatnya, mungkin sama. Marx menggunakan istilah “perjuangan kelas”, sedangkan Islam memakai “usaha kaum”. Usaha itu adalah perjuangan, kaum itu tak lain yaitu kelas dalam masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.