Mappanre Tasi, Wisata Daerah yang Minim Fasilitas - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Kamis, 06 Maret 2014

Mappanre Tasi, Wisata Daerah yang Minim Fasilitas

Tanggal 9 April 2012 mendatang, beberapa hari lagi, Pemkab Tanah Bumbu Kalsel, akan menggelar sebuah acara rutin tahunan. Acara ini merupakan semacam ritual yang dilakukan oleh para nelayan yang bermukim di wilayah sepanjang pantai Pagatan Kusan Hilir Kabupaten Tanah Bumbu Kalsel.

Ritual tersebut dikenal dengan sebutan ‘mappanre tasi’, yang secara harfiah berarti memberi makan laut, namun kemudian secara kontekstual dimaknai dengan pesta laut. Telah dilaksanakan sejak beberapa dekade lalu, hingga masuk dalam kalender pariwisata nasional.


Waktu pelaksanaan ritual tersebut digelar pada setiap bulan April, karena pada bulan ini cuaca di laut jawa yang menyapu tepian pesisir pantai Pagatan, cukup ekstrem; berombak besar dan angin bertiup sangat kencang. Sehingga para nelayan pun beristirahat melaut, dan waktu senggang inilah mereka manfaatkan untuk menggelar ritual yang dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Pada awal tahun 1980-an, ritual tersebut hanya disaksikan oleh kalangan internal para nelayan dan warga sekitarnya. Kemudian di pertengahan 1980-an mulai dilaksanakan secara besar-besaran dengan promosi keluar daerah, juga dibarengi acara lainnya sebagai pelengkap, seperti pameran hasil seni tradisional, pasar malam, kontes seni dan budaya, serta berbagai hiburan, dsbnya.

Dengan demikian, pesta laut ‘mappanre tasi’ tak lagi berdiri sendiri sebagai acara ritual semata, namun sudah merupakan ajang promosi, tentunya bidang kepariwisataan.
Tahun ini Pemkab Tanah Bumbu tidak saja menggelar ritual mappanre tasi, tapi juga hari jadi atau ulang tahunya yang ke-9 dan MTQ tingkat Propinsi Kalsel. Dapat dibayangkan betapa akan sibuknya Pemkab Tanah Bumbu tahun ini.

Seperti pada acara mappanre tasi tahun-tahun sebelumnya, dapat dipastikan para pengunjung membeludak yang datang tak saja dari wilayah Tanah Bumbu, tapi dari berbagai daerah di Kalimantan, bahkan luar pulau.
Kedatangan para pengunjung ke acara ini tampaknya lebih banyak ingin menikmati pemandangan pantai dan menyaksikan hiburan. Dan kemungkinan yang benar-benar ingin menyaksikan ritual, sedikit.

Meskipun ritual mappanre tasi masuk dalam kalender tahunan pariwisata nasional, dengan lokasi pariwisata pantai Pagatan yang cukup panjang dan berpasir putih, tapi disini sangat minim fasilitas pendukung. Terdapat beberapa penginapan dengan minim fasilitas pula. Para pengunjung yang datang ke acara ritual mappanre tasi yang berasal dari luar daerah, biasanya menginap di rumah famili maupun kenalan, sedangkan lainnya yang tak kebagian kamar penginapan, lebih memilih mendirikan tenda sepanjang pantai, bahkan tak sedikit yang tidur didalam mobil.

Minimnya fasilitas pendukung di bidang kepariwisataan di daerah ini, bukan karena daerah ini minim penghasilan, tampaknya lebih kepada kurangnya perhatian dan kesungguhan Pemerintah Daerah setempat untuk pengembangan bidang pariwisata. Disamping itu pihak dinas terkait yang belum dapat menarik dan meyakinkan para investor untuk menanam modal di bidang pariwisata. Pemda setempat lebih fokus ke satu bidang, yakni bidang pertambangan; batubara dan bijih besi, yang mana aktivitas di bidang ini meski memberikan Penghasilan Asli Daerah (PAD) yang cukup besar, serta royalty ke Pemerintah Pusat, tapi tak sebanding dengan kerusakan lingkungan dan alam yang ditimbulkannya.

Inilah sebuah gambaran daerah yang menggarap SDA-nya hanya terfokus pada satu bidang yang dapat menghasilkan secara instant. Padahal banyak sektor dan bidang lainnya yang tak kalah prospektif untuk sebagai PAD di masa-masa akan datang yang selalu dapat terbarukan, seperti bidang pariwisata tersebut, perikanan, pertanian, perkebunan, jasa transportasi, dllnya. Apalagi Tanah Bumbu letaknya strategis sebagai pelabuhan alam yang cukup dalam tempat berlabuh kapal-kapal besar. Karena kota Batulicin berada diantara pertemuan laut jawa dan selat laut yang memisahkan daratan pulau kalimantan dan pulau laut Kotabaru. Disamping itu pelabuhan di Batulicin yang dimiliki oleh PT. Pelabuhan Indonesia III dan PT. ASDP, terlindung oleh sebuah pulau bernama Sewangi, sehingga kondisinya agak teduh.

Semoga Pemda setempat akan cepat menyadari betapa Tanah Bumbu ini memiliki kekayaan yang cukup luar biasa, dan kemudian cepat pula memanfaatkannya untuk kesejahteraan warganya.
Akhirnya, selamat HUT ke-9 Tanah Bumbu, selamat berkunjung ke mappanre tasi, dan sukses dalam melaksanakan MTQ tingkat Propinsi Kalimantan Selatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.