Peninggalan Majapahit Tak Asli? - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Kamis, 06 Maret 2014

Peninggalan Majapahit Tak Asli?


Karena tak begitu suka belanja (disamping memang uangnya sedikit), aku tak suka berlama-lama berada di mall. Biasanya aku ke mall memang ada sesuatu yang dibeli, sesudah mendapatkan barangnya, aku keluar mall.

Begitupun bila aku keluar daerah, aku memilih ke tempat yang mengandung nilai sejarah ketimbang wara wiri di mall maupun tempat keramaian lainnya.
Seperti kali ini aku bersama teman ke Jawa Timur, aku memilih pergi ke tempat tujuan awalku mencari sebuah percetakan di Surabaya. Sementara temanku wara wiri mengunjungi mall yang nota bene dimanapun di wilayah di Indonesia, isinya sama atau mirip, barang dagangan yang itu-itu juga.

Ketika temanku menanyakan ke tempat mana yang akan kukunjungi, ia mau ikut rupanya, aku menjawab akan mengunjungi daerah Trowulan, tepatnya ke situs purbakala Wringin Lawang yang konon merupakan tempat yang berhubungan dengan kerajaan Majapahit.

Kami pun berangkat kesana. Sesampai disana temanku tampak kecewa. Karena dia pikir tempat itu ramai pengunjung. Padahal sebelumnya sudah kuceritakan tentang tempat itu, karena memang beberapa tahun lalu aku sempat kesana.
Pada saat kami tiba di Wringin Lawang, hanya ada sepasang muda mudi yang tampaknya sedang pacaran, serta dua orang petugas yang menjadi pengurus tempat bersejarah itu.

Setelah mengisi buku tamu dan memberi uang sekedarnya untuk biaya perawatan tempat itu, kami berkeliling lokasi untuk keperluan berfoto.
Agaknya temanku sedari dari terus memperhatikan bangunan mirip candi yang ada disitu, yang terbuat dari batubata merah. Dia katakan terkait bangunan mirip candi itu sebagai bangunan yang tampaknya baru dibangun. Entahlah, aku tak tahu persis apakah bangunan itu memang baru dibuat sesuai perkiraan dari bangunan aslinya.

Begitupun waktu perjalanan kami lanjutkan ke situs purbakala lainnya di wilayah Kabupaten Mojokerto, yakni candi tikus, sepi pengunjung. Selain kami, terdapat dua orang pengunjung cilik yang berseragam SMP.
Lagi-lagi setelah menyaksikan bangunan candi tikus yang justru tak mirip candi itu, temanku mengatakan hal yang sama. “Bangunan ini sepertinya juga baru dibuat,” ungkap temanku yakin.
Aku sebenarnya malas saja menyela ungkapan temanku, namanya juga situs, tempat atau bekas lokasi yang diperkirakan berdirinya bangunan kuno atau purbakala disana, lalu kemudian para ahli arkeologi mereka-reka bentuk bangunan, lalu mendirikan atau membangunnya kembali.

Perjalanan selanjutnya kami lanjutkan ke museum Majapahit yang menyimpan berbagai artefak dari jaman prasejarah dan yang terkait dengan kerajaan terbesar di nusantara setelah Sriwijaya itu.
Disinipun saat kami tanya ke petugas museum, banyak diantara artefak yang disimpan disana adalah duplikat, yang asli disimpan di museum nasional di Jakarta.
Untunglah meski cuma banyak artefak yang duplikat, kami masih diijinkan memfoto dengan syarat tak mengeluarkan cahaya (blitz). Karena menurut petugas museum, cahaya blitz kamera bisa cepat merusak fisik artefak.

Hari itu kami lewati dengan mengunjungi dan menyaksikan situs dan peninggalan purbakala. Dalam perjalanan pulang ke Surabaya, dalam mobil aku pun bertanya-tanya dalam hati, mungkin ada benarnya juga bangunan candi itu tak lagi sesuai aslinya, dibangun kembali, namanya juga situs, tak mesti asli sesuai dengan pertama kali dibangun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.