Jakarta Berubah Nama Jadi Victory City? - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Kamis, 06 Maret 2014

Jakarta Berubah Nama Jadi Victory City?

foto : talkmen.com

Saya menulis ini terinspirasi seseorang, yang membahas masalah nama daerah yang dialih bahasakan ke bahasa mancanegara (karena menurut saya tak ada lagi bahasa asing) terkait kunjungan wisata.

Menurut saya nama daerah ataupun nama kota, desa, tempat, daerah, wilayah, tak mesti dialih bahasakan ke bahasa lain dengan tujuan agar mereka mudah menemukan jika ditulis dalam bahasa mereka. Justru dengan nama aslinya, akan mengundang keingin tahuan mereka, paling tidak informasi terkait nama daerah atau tempat tersebut.

Misalkan saja, nama-nama kota di wilayah propinsi kami di Kalimantan Selatan, seperti Banjarmasin, tak perlu menjadi ‘Banjar’ atau berbaris, dan ‘Masin’ atau asin, dialih bahasakan ke bahasa Inggris menjadi dua kata dipadukan; SALTROW, pasti tak akan ditemukan di peta pulau Kalimantan.
Kemudian nama kota Banjabaru, dijadikan NEWROW, Tanah Laut jadi SEALAND, Tanah Bumbu > SPICESLAND, Kotabaru > NEWTOWN, Tanjung > CAPE, Kandangan > FENCING, Batulicin > OILYSTONE, dlsbnya.

Lalu bagaimana jika nama Jakarta dirubah ke bahasa Inggris, Jaya = kemenangan, Karta = kota, kota kemenangan menjadi VICTORY CITY, kemudian Surabaya; Sura = hiu, baya = buaya, jadi SHARKCROCODILE, Medan dan Padang = FIELD, Lampung (dari pelampung) = BOUY, LIFERAFT, Palu = HAMMER, Banyuwangi = FRAGRANTWATER, Surakarta = SHARKTOWN, dlsbnya.

Saya pastikan para pelancong dari mancanegara itu akan bingung dan pusing banyak keliling, karena tak menemukan satu pun nama-nama tersebut di peta Indonesia.

Memang ada beberapa nama dialih bahasakan ke bahasa mancanegara, khususnya bahasa Inggris. Tapi nama-nama tersebut hanya untuk menyesuaikan lidah dan penyebutan dalam bahasa mereka. Misalnya kata JAVA untuk Jawa, yang lain tetap saja tak berubah meski ada memiliki nama lainnya, contohnya Sumatera tidak Andalas, Sulawesi bukan Celebes, Kalimantan lain Borneo, dll.

Lalu mengenai embel-embel arah mata angin di suatu wilayah, tak mesti pula dialih bahasakan jika malahan justru tambah membingungkan. Misalkan saja NTB menjadi WEST SOUTHEASTERN NUSA, lalu NTT jadi EAST SOUTHEASTERN NUSA.
Masih mendingan kalau WEST JAVA, CENTRAL JAVA dan EAST JAVA. Lalu NORTH dan WEST SUMATERA, NORTH/CENTRAL/WEST/SOUTH SULAWESI, dan WEST PAPUA, sudah cukup familiar dan dikenal.

Kekurangan kita di negeri ini adalah, sangat bangga dan menilai dianggap intelek bila dapat menggunakan bahasa mencanegara. Padahal di banyak negara, bahasa Indonesia justru dipelajari agar mereka pun dapat berbahasa Indonesia dengan baik dan benar supaya tak perlu penerjemah jika berada dan bekomunikasi di Indonesia. Betapa baiknya jika kita meniru bangsa Jepang dan Jerman, yang sangat menghargai dan bangga dengan bahasa mereka. Jepang apalagi, tak cuma bahasa, sampai-sampai tulisan pun mereka utamakan menggunakan aksara Kanji; Hiragana dan Katakana sebelum memakai aksara Latin. Atau bangsa lainnya di Asia yang bangga menggunakan aksara mereka sendiri, seperti Thailand, China dan India, lalu kenapa kita tak menggunakan aksara Pallawa milik sendiri ? Atau menggunakan aksara Jawa; Honocoroko, kenapa tidak ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.