“Pamali”, Teguran Secara Tak Langsung - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Sabtu, 15 Maret 2014

“Pamali”, Teguran Secara Tak Langsung

Ketika kecil dulu aku sering mendengar mendiang ibuku dan para orangtua di kampung kami selalu bicara tentang “pamali”, atau sesuatu yang tak boleh dilakukan. Tak jarang sesuatu yang dianggap pamali itu bertentangan dengan akal sehat atau tidak logis. Namun ternyata dibalik kata pamali itu tersimpan suatu teguran secara halus dengan tidak langsung mengarah kepada objek karena menggunakan peribaratan atau personifikasi.

Misalnya saja; seseorang pamali jika duduk diatas bantal karena bisa mengakibakan bisulan atau tumbuh bisul di pantat. Apa hubungannya antara duduk di bantal dengan bisulan ? Tentu sulit diterangkan secara logis dengan akal sehat. Ternyata maksudnya adalah; tidaklah sopan, bantal yang semestinya untuk kepala tapi diduduki.

Lalu, seorang remaja putri atau remaja putra dibilang pamali jika duduk di pintu masuk rumah, karena akan berat jodoh. Tentu tak ada pula hubungannya antara duduk di pintu masuk dengan jodoh seseorang yang hanya Tuhan yang tahu. Namun maksud dari pamali itu adalah; jika seseorang sedang duduk di pintu masuk, maka akan menghalangi orang lain yang mau masuk.



Kemudian lagi, aku ingat waktu kecil itu bila menjelang senja, mendiang ibuku akan melarang berada di tanah. Kata ibu, jika pada senja hari masih berada di tanah itu pamali; bisa diculik setan. Namun maksud sebenarnya adalah, menyuruhku agar berada di rumah untuk shalat maghrib.

Ada pula pamali yang lainnya. Jika makan nasi tak boleh berhamburan di lantai atau diatas meja. Menurut ibu, remah-remah nasi yang tertinggal tersebut akan menangis karena tak ikut dimakan. Maksud sebenarnya yakni, mendidik kita agar menghargai bagaimana sulitnya untuk mencari dan mendapatkan beras sehingga berbentuk nasi yang dimakan tersebut.

“Habiskan nasinya. Pamali jika tidak dihabiskan, nanti mati ayammu,” ujar ibu jika aku tak mampu lagi menghabiskan nasi di piringku.
Pelajaran yang dapat dipetik dari pamali diatas adalah; pertama, kita mesti menghargai usaha untuk mendapatkan nasi tersebut. Dan kedua agar tidak terbawa nafsu ingin banyak makan sehingga tak mampu akhirnya menghabiskannya.
Padahal bila kita pikir secara logis, jika kita menghabiskan nasi, maka justru ayam tak kebagian, dan kemungkinan ayam akan menjadi kelaparan dan mati, hehehe……….

Ada pamali yang lainnya, silakan pembaca menambahkannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.