Ada Banyak Ramang di Lapangan Sepakbola - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Selasa, 25 Maret 2014

Ada Banyak Ramang di Lapangan Sepakbola

Tiang gawangnya cuma terdiri dari bambu. Lapangannya pun baru beberapa hari lalu dipotong dan dibersihkan rumput-rumputnya agar lebih pendek, terletak di pinggiran desa. Warga secara gotong royong membenahi lapangan tersebut untuk keperluan pertandingan sepakbola antar RT, dan sekaligus untuk upacara bendera memperingati HUT Proklamasi.

Pertandingan sepakbola akan digelar dalam rangka memeriahkan HUT Proklamasi. Hadiahnya cuma kaos seragam murahan, tanpa trofi ataupun piala, cuma semacam piagam penghargaan dari Kepala Desa setempat, yang mengumpulkan dana dari para warga.

Namun ada yang menarik dari pertandingan sepakbola di kampung itu, di kampung yang berada di pelosok pulau Kalimantan arah tenggara itu.
Meski tergolong terpencil, namun warganya termasuk hobi bermain bola, karena hanya inilah olahraga yang murah yang hemat biaya; ada tanah kosong, bola (tak jarang bola plastik), tiang gawang ala kadarnya, maka jadilah permainan dimulai.



Selain itu warga di kampung, terutama kaum lelakinya, sudah sangat hapal dengan satu nama pemain sepakbola hebat dan terkenal di Indonesia kala itu , siapa lagi kalau bukan; Ramang.

Yah, Ramang. Para pemain sepakbola yang dianggap hebat di lapangan kampung itu pasti diidentikkan dengan Ramang, bahkan dianggap sebagai titisan (reinkarnasi) Ramang.
Warga yang menonton pasti akan meneriakkan nama Ramang untuk pemain yang sedang menguasai bola dan menggiringnya ke gawang lawan.


Tapi yang justru aneh, pemain yang dianggap hebat-hebat dari kedua tim yang sedang berlaga, dipanggil Ramang. Ini berarti ada banyak titisan atau reinkarnasi Ramang yang sedang berlaga dan saling ingin mengalahkan.
Ramang tak cuma menjadi idola para orangtua dan orang dewasa, anak-anak pun ikut mengidolakan pemain hebat dari Makassar itu.
Anak-anak tanggung yang sudah kenal dan bisa bermain sepakbola, sangat bangga jika diteriaki dan mendapat sebutan Ramang.


Itu ceritaku ketika masih anak-anak di kampung pada tahun 1970-an.
Ramang memang sedang jadi idola waktu itu. Ramang ! Ramang ! Ramang………!! Kapan ada penggantimu lagi ?!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.