Biarlah Rahasia Ini Kusimpan Saja - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Senin, 24 Maret 2014

Biarlah Rahasia Ini Kusimpan Saja


“Hubungan kita putus sampai disini saja,” itu yang diucapkan Tina kepada Fahmi ketika keduanya bertemu di sebuah acara pagelaran musik dangdut memeriahkan hari proklamasi.
“Apa salahku ?” tanya Fahmi terkejut sehingga tak bisa menguasai diri, suaranya nyaris mengalahkan bunyi musik. Beberapa orang penonton sempat memalingkan muka mereka ke arah Fahmi.

Fahmi menarik tangan Tina, mengajaknya ke tempat yang agak jauh dari para penonton.
“Kenapa sih kamu tiba-tiba memutuskan hubungan kita ? desak Fahmi.
“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin hubungan kita putus, aku ingin sekolah dengan benar, tidak sambil pacaran,” ujar Tina sambil menatap ke arah penggung hiburan.
“Aku tahu itu cuma alasanmu saja. Aku yakin ada yang lain selain aku,” kata Fahmi dengan suara bergetar menahan emosinya.
“Kita lihat saja nanti, yang jelas mulai malam ini kita tak punya hubungan apa-apa lagi,” sahut Tina sambil beranjak pergi.
“Tin, Tina !” Fahmi setengah berteriak memanggil Tina yang terus menjauh.

Perasaan Fahmi galau karena keputusan Tina. Jika saja ia tak memikirkan masa depannya, ingin rasanya ia berhenti sekolah.
“Kamu kenapa sedari tadi seperti orang sakit ?” tanya Amin, teman sekelas Fahmi di Kelas 1 SMA.
“Tak apa-apa, aku cuma tak enak badan hari ini,” sahut Fahmi sekenanya.
“Tampaknya ada sesuatu yang sedang kau alami. Cerita saja, kita kan teman, siapa tahu aku bisa bantu,” ujar Amin.
Fahmi cuma diam. Namun pikirnya tak ada salahnya berbagi kepada teman sendiri.

“Tina memutuskan hubungan kami,” tercetus juga akhirnya dari mulut Fahmi.
“Tina pacarmu itu ?” tanya Amin.
“Ya, siapa lagi. Aku tak habis pikir ia tiba-tiba memutuskan hubungan tanpa tahu apa salahku,” ungkap Fahmi sambil menelungkupkan wajahnya di meja.
“Sudahlah, tak perlu terlalu jadi beban pikiran, mungkin dia bukan yang baik untukmu,” hibur Amin.
“Aku mau pulang duluan saja. Tolong sampaikan ke Wali Kelas hari ini aku kurang enak badan,” ujar Fahmi.
“Ya, nanti akan kusampaikan. Memang sebaiknya kamu pulang saja daripada galau tak bisa berkonsentrasi menerima pelajaran,” balas Amin.

Sore itu tanpa sengaja Amin melihat Tina sedang berjalan bersama seorang lelaki. Tampaknya mereka bukan sekedar teman biasa, karena lelaki itu berjalan sambil memegang pinggang Tina. Mereka berdua kebetulan ke arah yang sama dengan Amin, ke taman kota yang selalu ramai di sore hari.
“Pantas saja si Fahmi ditinggal Tina, dapat yang lebih keren,” pikir Amin sambil menjaga jarak agar tak terlalu dekat dengan Tina dan lelaki bersamanya.

Tiga hari Fahmi tak masuk sekolah, di surat yang dikirim ke Wali Kelas melalui Ketua Kelas, Fahmi minta ijin karena sakit.
Sepulang sekolah Amin pun menjenguk Fahmi di rumahnya.
Fahmi tampak agak kurus.
“Kamu sakit betulan, Mi ?” tanya Amin.
“Beberapa hari ini aku tak keruan makan, tak berselara,” jawab Fahmi.
“Oh, pantas kamu kelihatan agak kurus,” ujar Amin.

Sebetulnya kedatangan Amin sekaligus ingin bercerita mengenai Tina yang ia temukan sedang bersama lelaki lain. Namun niat itu diurungkan Amin. Ia tak ingin melihat temannya semakin bertambah beban setelah mengetahui perihal Tina. “Biarlah masalah ini kusimpan saja sebagai suatu rahasia,” gumam hati Amin.

“Besok aku turun sekolah,” cetus Fahmi.
“Oh ya,” sahut Amin.
“Menurutku tak ada gunanya aku memikirkan masalah putusnya hubunganku dengan Tina. Sekolah lebih penting untuk masa depan daripada pacaran,” kata Fahmi dengan nada mantap.
“Sip, ini baru namanya Fahmi temanku,” sahut Amin sambil terkekeh seraya mengajak Fahmi kompak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.