Kami Sudah Bercerai........ - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Senin, 24 Maret 2014

Kami Sudah Bercerai........


Beberapa tetanggaku selalu bertanya kemana perginya istriku, karena sudah lebih 2 bulan melihatku cuma berdua dengan anakku satu-satunya yang baru berumur lebih 2 tahun.
“Mana ibunya Febri kok tak pernah kelihatan,” tanya tetangga dekatku yang bersebelahan dinding di rumah kontrakan kami.
“Ibunya Febri pulang kampung, merawat ayahnya yang sedang sakit,” jawabku sekenanya dengan nada datar agar tetanggaku tak curiga.
“Kok anaknya tak diajak, kan merepotkan ayahnya kalau mau pergi berkerja ?” lanjut tetanggaku menyelidik.
“Si Febri tak begitu dekat dengan ibunya. Kalau mau berkerja aku titipkan di tempat bibi,” jawabku lagi.

Begitulah selama lebih 2 bulan ini setiap kali mau pergi berkerja, apalagi keluar kota, anakku kutitipkan ke seorang bibi, sepupu sekali ayahku. Bibiku sudah mengerti apa yang sedang terjadi terhadap rumah tanggaku, sehingga ia bersedia mengasuh dan merawat anakku jika aku sedang pergi berkerja.

Apa yang kualami ini bermula pada suatu malam sekitar lebih 2 bulan lalu itu. Istriku, Mariana pulang dari kampungnya usai menengok orangtuanya.
“Besok aku minta cerai,” cetus Mariana tanpa ekspresi.
Aku yang sedang membuat laporan hasil pekerjaan, terasa bagai disengat kalajengking.
“Kenapa ? Apa alasanmu sehingga meminta cerai ?” tanyaku dengan suara agak serak karena menahan gejolak emosi.
“Tak perlu ada alasan kalau cuma untuk bercerai,” sahut Mariana masih tanpa ekspresi, ia begitu tenang.
“Tidak bisa, harus ada alasan yang tepat dan dapat diterima akal,” balasku dengan suara yang mulai normal, aku sudah bisa mengontrol emosiku.
Sementara aku dan Mariana bicara masalah keinginannya untuk bercerai, Febri anak kami sedang tidur dengan nyenyak. Kupandangi wajah anak kami yang tertidur dengan tenang, sementara aku sedang menahan gejolak emosi yang sedang berkecamuk.

“Kalaupun Abang tak mau menceraikan, aku tetap akan meninggalkan rumah ini, meninggalkan Abang,” kata Mariana seperti tanpa beban perasaan apapun.
Cukup lama aku terdiam, berpikir bagaimana mengambil keputusan.
“Tak perlu bercerai melalui Pengadilan Agama, aku minta selembar surat pernyataan saja,” lanjut Mariana sambil mengemasi pakaiannya, memasukkan kedalam tas.
“Dan aku tak ingin mengajak Febri, silakan Abang yang memelihara,” cetusnya.
“Biarkan aku memikirkannya malam ini,” ujarku akhirnya.

Malam itu mataku sama sekali tak dapat terpejam. Aku sedih memikirkan anakku yang masih membutuhkan kasih sayang ibunya. Aku juga memikirkan betapa harga diriku sebagai suami sedang diuji. Sementara itu Mariana kulihat tertidur dengan nyenyaknya sambil membelakangi Febri, anaknya, anak kami berdua.

Apapun dan bagaimanapun kondisiku dan anakku, pikirku aku mesti mengambil keputusan. Tak ada lagi waktu dan kesempatan buatku untuk bertahan dan memperbaiki kondisi rumah tanggaku. Mariana sudah tak bisa dibujuk dengan apapaun lagi.

“Tunggu saja di rumah, aku akan membuat surat cerai seperti yang kau inginkan,” kataku pagi itu dengan mata yang terasa mulai mengantuk karena semalaman tak dapat tidur.
Aku pun meninggalkan rumah, menemui beberapa familiku.
“Bikinkan saja sehelai surat keterangan cerai, nanti kami yang tanda tangan sebagai saksi,” ujar Om Syam, sepupu ayahku dengan nada meyakinkan.
“Istri seperti itu ceraikan saja, kukira dia itu sudah berselingkuh selama ini, dan akan nikah dengan pria selingkuhannya itu, makanya bersikeras akan meninggalkanmu,” suara Bibi Fatimah, istri Om Syam dengan nada jengkel.

Akhirnya kubikin sehelai surat peryataan cerai yang kutanda tangani dengan Om Syam dan Ketua RT di lingkungan tempat aku tinggal sebagai saksinya.
Menerima sehelai surat itu, Mariana hari itu meninggalkan rumah dengan membawa semua barang-barangnya. Tangisan Febri anak kami tak ia hiraukan. Dengan susah payah akau meredakan tangisan Febri yang ditinggal ibunya begitu saja tanpa mencium, tanpa menoleh sekejap pun.

Karena selalu mendapat pertanyaan tetangga terkait keberadaan istriku, akhirnya aku pun mengatakannya,” kami sudah bercerai sejak lebih 2 bulan lalu.”
Para tetanggaku cuma bisa terpana mendengarnya. Sebelum mereka sempat bertanya lebih jauh, aku buru-buru masuk ke rumah dan menutup pintu seperti aku menutup perasaan dan rahasia rumah tanggaku selama ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.