Daripada… - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Senin, 31 Maret 2014

Daripada…

“Kita mendapat dukungan DARIPADA sebuah perusahaan besar.”

Yang benar; “Kita mendapat dukungan DARI sebuah perusahaan besar.” atau bisa juga kalimatnya berbunyi “Kami didukung OLEH sebuah perusahaan besar.”

“Kami memperoleh petunjuk DARIPADA pak Gubernur.”

Yang benar; “Kami memperoleh petunjuk DARI pak Gubernur.” atau “Kami diberi petunjuk OLEH pak Gubernur.”

“Kami berdua sudah mendapat restu DARIPADA orangtua masing-masing untuk menikah.”

Yang benar; “Kami berdua sudah mendapat restu DARI orangtua masing-masing untuk menikah.” atau “Kami berdua sudah direstui OLEH orangtua masing-masing untuk menikah.”

Itulah beberapa contoh ungkapan kalimat percakapan yang tak jarang kita dengar. Dan ungkapan kalimat yang menggunakan DARIPADA tersebut adalah SALAH jika ditinjau dari tata bahasa Indonesia yang baik dan benar.

DARIPADA yang merusak bahasa.


Kata DARIPADA itu tidak sama dengan kata DARI, bukan pula untuk kata pengganti penghubung OLEH. Kata DARIPADA digunakan untuk membandingkan dua hal yang berbeda, atau untuk menyatakan suatu kondisi, misalkan;

“Si Budi lebih gemuk DARIPADA si Amir.”

“Kamu akan lebih baik tetap disini DARIPADA pergi.”

“Lebih baik saya melawan DARIPADA mati.”

“Kondisi sekarang lebih buruk DARIPADA beberapa tahun sebelumnya.”

Dan lain-lain.

Peran Media Massa.

Media massa tak pelak lagi bisa kita tuding telah ikut andil dalam memfasilitasi pengrusakan terhadap penggunaan Bahasa Indonesia. Mereka yang mengaku kaum intelektual, pun tak sedikit yang ikut merusak Bahasa Indonesia dengan mencampur adukkannya dengan kata-kata maupun kalimat dari Bahasa Asing yang tidak lazim digunakan. Para Selebriti, sudah tak perlu ditanya, mereka itu tak sedikit yang kacau dalam berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Jika sudah begini, kita merindukan adanya kembali sebuah program tayangan telepisi (sengaja saya tulis demikian, karena lenggunaan konsonan V dlam Bahasa Indonesia kurang lazim) seperti yang dulu diasuh oleh JS Badudu.

Ayo berbahasa Indonesia yang sederhana, mudah dimengerti oleh semua tingkat usia, pendidikan dan status sosial, tak perlu mencampur adukkannya dengan kata-kata yang sulit dimengerti (atau jangan-jangan yang menyebutnya pun belum mengerti).

Berbahasa Indonesia lah dengan tidak mencampur adukkannya pula dengan kata-kata dalam bahasa daerah (etnis), karena pasti tak setiap orang mengerti.

Ayo berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, kalau tidak kita sipa lagi, bila tidak sekarang kapan lagi?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.