Gratifikasi Proyek Bagi Wartawan - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Senin, 31 Maret 2014

Gratifikasi Proyek Bagi Wartawan


Gratifikasi.

Satu kata yang akhir-akhir ini sering disebut oleh berbagai media massa. Gratifikasi; adalah pemberian dalam arti luas, yakni meliputi pemberian biaya tambahan (fee), uang, barang, rabat (potongan harga, diskon), komisi pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma, dan fasilitas lainnya. (Wikipedia bahasa Indonesia)

Gratifikasi jadi konotasi negatif dan dianggap melanggar/melawan hukum ketika pelaku gratifikasi memberikannya kepada seseorang yang memiliki kewenangan dan kekuasaan, utamanya pejabat, atau seseorang yang memiliki jabatan baik di pemerintahan maupun non pemerintahan.

Gratifikasi pun kini berkembang tak hanya pemberian berupa beberapa item yang tersebut diatas, tapi juga muncul gratifikasi seks.

Gratifikasi proyek.

Dalam perkembangannya gratifikasi terus mendapatkan benguknya yang lain. Bukan mustahil gratifikasi dalam bentuk proyek sudah berlangsung cukup lama, namun masih disembunyikan agar tak muncul ke permukaan.

Gratifikasi dalam bentuk proyek ini, menurut pengamatan saya seperti yang dilakukan oleh DPRD Tanah Bumbu terhadap beberapa wartawan dari berbagai media massa yang bertugas di wilayah Kabupaten Tanah Bumbu Propinsi Kalimantan Selatan.

Bukan rahasia lagi beberapa wartawan di Tanah Bumbu mendapatkan proyek kategori PL (Penunjukkan Langsung) yang nilai proyeknya dibawah Rp 200 juta, yang dapat diperoleh tanpa melalui proses lelang. Bahkan satu orang wartawan ada yang bisa memperoleh beberapa proyek.

Pemberian proyek kepada para wartawan itu untuk apa jika bukan bertujuan agar para jurnalis itu hanya menyajikan pemberitaan yang baik-baik saja tentang DPRD. Nah, kalau sudah begini apa nama dan sebutannya bila bukan gratifikasi ?

Sayangnya selama ini baik Dewan Pers maupun organisasi wartawan atau jurnalis sama sekali tak melirik permainan kotor yang merusak reputasi para pelaku jurnalis ini.

Ironis memang, sementara media massa selalu gencar memberitakan gratifikasi para pejabat, di sisi lain di internal mereka justru menyembunyikan kebobrokan.

Semut di seberang lautan tampak di mata, tapi gajah di pelupuk mata sedikit pun tak ditampaki.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.