Harga BBM di Kota Kami Telah Lama Naik - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Rabu, 05 Maret 2014

Harga BBM di Kota Kami Telah Lama Naik

Akhirnya hari ini di kota kami, ada juga pihak yang memprotes rencana kenaikan harga BBM yang akan dilakukan pemerintah pada April mendatang.

Padahal sebelumnya, beberapa lama ini, atau tepatnya selama ini warga di kota kami, tak pernah ada yang peduli terhadap kenaikan harga BBM. Warga kota kami terlalu sibuk bekerja mencari dan mengumpulkan duit guna memenuhi berbagai kebutuhan, termasuk untuk BBM pula tentunya.

Di kota kami, sebuah ibukota kabupaten di Kalsel, terdapat beberapa SPBU yang saya katakan mengepung kota kami. Tapi apa lacur, setiap hari tampak pemandangan kendaraan bermotor yang antri panjang untuk memperoleh BBM. Namun jangan salah, kebanyakan yang ikut antri tersebut justru para “pelangsir”, sebutan untuk mereka yang membeli minyak dalam jumlah banyak untuk kemudian dikumpulkan, lalu dijual ke perusahaan-perusahaan pertambangan batubara yang jumlahnya puluhan bahkan ratusan di wilayah kabupaten kami.

Yang menjadi sasaran para pelangsir BBM itu tak cuma jenis solar, tapi juga bensin. Adapun BBM jenis bensin mereka jual ke para pengecer yang kemudian dijual kembali oleh para pengecer itu ke umum. Para pelangsir solar menjual ke para pengumpul, rata-rata memperoleh kuntungan sebesar Rp 1.500 per liter. Sedangkan pelangsir bensin menjual hasil perolehannya dari SPBU ke para pengecer, rata-rata mendapat keuntungan sebesar Rp 1.000 per liternya.
Bayangkan jika dapat melangsir 100 liter solar saja dalam sehari, maka keuntungan di tangan sudah pasti Rp 150 ribu, sedangkan untuk bensin sebesar Rp 100 ribu.

Para pelangsir solar kebanyakan menggunakan mobil, ada juga yang menggunakan jeriken. Sedangkan para pelangsir bensin, selain ada yang menggunakan jeriken, banyak juga yang menggunakan sepeda motor dengan kapasitas tangki berukuran besar.

Bila pemerintah nantinya benar-benar menaikkan harga BBM, khususnya bensin menjadi Rp 6 ribu per liter, warga di kota kami dipastikan tak akan kaget. Karena selama ini saja kami sudah sering membeli bensin di eceran dengan harga segitu, bahkan kini harga bensin di eceran sudah bervariasi dari Rp 7 ribu hingga Rp 10 ribu per liter.
Kalaupun misalnya mau berhemat juga dengan membeli bensin di SPBU, silakan menunggu berjam-jam. Ini artinya rugi waktu, rugi lain-lainnya pula. Jika anda punya janji yang harus ditepati, dengan ikut antri berjam-jam untuk beli bensin di SPBU, maka dipastikan anda tak bakal bisa tepat janji. Dan bila hal ini dilakukan berkali-kali, itu artinya anda bisa-bisa dicap sebagai orang yang tak tepat janji, atau dinilai wanprestasi. Jadi silakan pilih, beli bensin lebih mahal di eceran, atau anda dicap orang yang tak tepat janji (?)

Oh ya, hari ini tadi yang unjuk rasa protes terhadap rencana kenaikan BBM itu adalah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) DPD Tanah Bumbu. Para pengunjuk rasa tersebut berjumlah sekitar 80 orang, sedangkan anggota polisi dari Polres Tanah Bumbu yang diturunkan untuk mengawal dan berjaga-jaga berjumlah 50 orang. Syukurlah unjuk rasa itu berlangsung tertib, tenang, dan aman. Mereka para pengunjuk rasa tersebut cuma berorasi sambil menyusuri jalan protokol di kota kami.

Yang pasti di kota kami tetap beli bensin yang selalu lebih mahal setiap hari. Jangankan bensin, minyak tanah saja tak jarang harganya lebih dari Rp 5 ribu per liter, mesti antri pula berjam-jam, namun tetap saja dibeli oleh warga kota kami tranpa protes. Tak sedikit yang berkata, “kalau barangnya masih ada, meski lebih mahal harganya, tetap akan kami beli. Meskipun harganya murah, tapi mencari barangnya sangat sulit, percuma saja.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.