Inilah Dampak Penutupan Lokalisasi Pelacuran di Surabaya - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Senin, 31 Maret 2014

Inilah Dampak Penutupan Lokalisasi Pelacuran di Surabaya


Warga kota Surabaya boleh senang dan bangga dengan Walikotanya, Tri Rismaharini, karena berhasil menutup lokalisasi pelacuran disana. Setidaknya sudah 3 lokalisasi di Surabaya yang ditutup. Tahun depan, 2014, rencana giliran lokalisasi Dolly yang akan menjadi target penutupan.

Warga yang selama ini ingin sekali melihat kota Surabaya bebas dari lokalisasi pelacuran, tentu sangat berterima kasih kepada Walikota perempuan itu.
Tapi tahukah anda bahwa dengan tutupnya lokalisasi pelacuran disana, daerah kami di Kalimantan yang menjadi tujuan selanjutnya dari praktik pelacuran ?


Sudah sejak beberapa dekade lalu di daerah kami di Kalsel; Tanah Bumbu (dulu masih masuk Kotabaru), Pemda berupaya menutup lokasi (bukan lokalisasi, karena ilegal) pelacuran, namun selalu saja terbentur dengan rasa kemanusiaan.

Para PSK yang berada di lokasi pelacuran ilegal di Kapis di wilayah Kabupaten Tanah Bumbu Kalsel; seluruhnya berasal dari pulau jawa, dan sebagian besar berasal dari wilayah Jawa Timur; Lumajang, Jember, Situbondo, Jombang, dan Banyuwangi. Keberadaan mereka ini sebelum adanya penutupan lokalisasi pelacuran di Surabaya saja sudah ratusan jumlahnya. Kini keberadaan para PSK tersebut meningkat menjad dua kali lipatnya setelah adanya penutupan lokalisasi.

Belasan bangunan baru semi permanen dibangun di lokasi Kapis yang masuk wilayah Desa Batu Ampar Kecamatan Simpang Empat Tanah Bumbu. Wajah-wajah baru pun menghiasi tempat-tempat pelacuran yang berjarak sekitar 18 kilometer dari Batulicin, ibukota Kabupaten Tanah Bumbu.

Pemda setempat bukan tak ada upaya untuk menutup lokasi pelacuran luar itu. Semasa masih dibawah Pemkab Kotabaru, Kapis ditutup. Namun setelah pemekaran kabupaten menjadi wilayah Tanah Bumbu, para mucikari yang juga berasal dari pulau jawa, membukanya kembali.

Pemkab setempat pun pernah memulangkan para PSK ke pulau jawa, tapi tetap saja yang lain berdatangan. Entah sebab sia-sia memulangkan para PSK dan menutup lokasi, akhirnya dibiarkan begitu saja disamping tempatnya yang cukup jauh dari pemukiman warga, dan terasing.

Warga kota Surabaya boleh tersenyum gembira kini. Namun warga kami lah yang bakal menanggung akibat dari penutupan lokalisasi pelacuran di kota kalian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.