Mengganti Kalender Masehi di Indonesia, Mungkinkah? - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Senin, 31 Maret 2014

Mengganti Kalender Masehi di Indonesia, Mungkinkah?


Meski banyak imbauan kepada umat Islam agar tidak merayakan pergantian tahun baru dari 2013 ke 2014 menurut perhitungan kalender Gregorian (Masehi), namun tampaknya imbauan di kalangan umat Islam tersebut dianggap sepi.

Nyatanya peringatan menyambut tahun baru tersebut tetap ramai dimana-mana di tiap jengkal bagian dan sudut negeri yang mayoritas dihuni oleh umat Islam ini. Sudah dapat dipastikan yang lebih banyak merayakan moment pergantian tahun ini dilakukan oleh umat Islam, karena umat beragama lain khususnya umat Nasrani (Katholik dan Protestan) merupakan minoritas.

Berbagai dalih dan alasan serta dalil-dalil dikemukakan oleh kalangan umat Islam yang kontra terhadap acara pergantian tahun yang nota bene sangat terkait dengan umat Nasrani ini. Masalah yang sudah klasik, terus menerus dicuatkan ke permukaan setiap jelang akhir tahun Masehi.

Sebenarnya menurut saya yang awam ini, mereka yang kontra terhadap acara peringatan moment pergantian tahun Masehi dikarenakan lebih kepada adanya tahun qamariyah (Hijriyah) yang dipakai oleh umat Islam namun kalah pamor dengan kalender Masehi. Maksud mereka adalah, semestinya pergantian tahun Hijriyah lebih berhak dirayakan besar-besaran menurut kepantasan daripada mesti merayakan tahun baru milik umat beragama yang lain.

Tak berapa lama lagi dipastikan akan ramai lagi pro kontra seputar perayaan tahun baru Imlek di kalangan umat Islam di negeri ini. Yang mungkin agak dekat adalah perayaan Hari Valentine di medio Pebruari nanti.

Kenapa tahun Hijriyah tak sepopuler tahun Masehi ? Jawabnya seluruh umat Islam dan tiap-tiap keluarga yang mengaku pemeluk Islam pasti sudah tahu. Sejak kecil, lalu ke bangku sekolah hingga dewasa, yang diajarkan adalah kalender Masehi berikut nama-nama hari dan bulannya. Saya pribadi berkeyakinan jika anak-anak dari keluarga Muslim ditanya tentang nama-nama hari dan bulan dalam kalender Hijriyah, dipastikan banyak yang bingung menjawabnya jika tak ingin dikatakan tidak tahu, terkecuali mereka yang sekolahnya memang di madrasah ataupun pesantren.

Salahnya dimana sehingga tahun Hijriyah tidak populer ? Ada pada penggunaan kalender Masehi secara umum dan nasional. Hari-hari kerja dan hari besar agama dan peringatan, serta hari libur nasional, semuanya dalam hitungan yang ditandai dengan tahun Masehi. Ini akan berbeda jika di beberapa daerah tertentu yang mayoritas berpenduduk Muslim menggunakan kalender Hijriyah untuk keperluan seluruh penduduknya termasuk penggunaan kalender Hijriyah untuk hari kerja resmi baik oleh pemerintah maupun swasta. Tapi apa mungkin ? Pasti tidak akan mungkin, banyak yang protes dan kontra. Indonesia bukan negara yang berlandaskan pada agama tertentu. Indonesia yang berlandaskan pada Ketuhanan Yang Maha Esa; lebih kepada negara sekuler, meski dalam beberapa hal negara masih turut campur dalam hal keagamaan.

Penggunaan kalender Masehi sudah berlaku umum di seluruh dunia tak memandang agama apa yang menjadi anutan mayoritas rakyatnya. Jadi apapun agama yang dianut oleh mereka yang merayakan moment pergantian tahun Masehi; menjadi tidak masalah terkecuali mereka yang terus menerus mempermasalahkannya. Akhirnya semua kembali kepada maksud, tujuan yang diawali niat masing-masing dalam merayakan apapun. Kalau tiap perayaan apapun yang dilakukan oleh siapapun tak berdampak kerugian bagi orang lain dan umum, kenapa mesti repot mempermasalahkannya ? Saya merayakan moment pergantian tahun dari 2013 ke 2014 dengan tujuan kesenangan pribadi semata, masalah buat loe ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.