Kartu Sakti Bikin Oknum Polisi Kecele - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Rabu, 26 Maret 2014

Kartu Sakti Bikin Oknum Polisi Kecele

Pernah suatu kali saya berpergian keluar kota, ke ibukota propinsi di daerah saya.
Oleh seorang kenalan dekat, saya dipinjami mobil supaya enak dan leluasa ke tempat tujuan dan jalan-jalan.


Karena mobil itu pinjaman, saya tentu tak enak hati menanyakan kelengkapannya termasuk dokumen kepemilikannya; STNK dan BPKB. Saya pikir dikasih pinjaman saja sudah syukur, tak perlu tanya macam-macam.

Dengan mobil pinjaman tanpa kelengkapan kepemilikan, lengkaplah sudah dengan saya yang memegang SIM yang telah tak berlaku, serta KTP yang belum diperpanjang. Ah, peduli amat, yang penting mobilnya bisa berjalan lancar; tidak mogok-mogok, lumayan bila menyewa mesti membayar Rp 350 ribu per harinya di rental mobil.


Mobil boleh dapat dari pinjaman, tapi yang namanya mau dapat masalah, ada-ada saja.
Setibanya di kota tujuan, setelah menemui beberapa rekan, saya pun jalan-jalan berkeliling kota dengan mobil gratisan.
Di sebuah perempatan jalan dalam kota, tampak banyak mobil berhenti menepi. Dari dalam mobil saya melihat beberapa petugas kepolisian sedang memerintahkan tiap mobil agar menepi. Saya pikir pasti ada razia kendaraan bermotor. Sejenak dada saya berdegup, agak gugup juga mengetahui ada razia. Namun kemudian saya bisa tenang mengingat dalam dompet ada sesuatu yang mungkin bisa membuat anggota polisi itu mau mengerti.


“Selamat siang, pak. Tolong mobilnya menepi dan berhenti,” seorang anggota polisi berdiri disamping pintu mobil.
Saya pun menepikan mobil.


“Maaf, SIM bapak,” polisi itu meminta SIM saya.
“Waduh, SIM saya mati, pak,” jawab saya.
“KTP bapak,” pinta polisi pula.
“KTP saya belum diperpanjang,” sahut saya.
“Surat-surat mobil,” pinta polisi lagi.
“Maaf pak, mobil ini bukan punya saya, tapi dari pinjaman. Syukur-syukur saya dipinjami bukan malah tanya macam-macam ke pemilik mobil ini,” jawab saya sekenanya.


Anggota polisi yang menanyai saya itu tampak jengkel dan geram.
“Ada saja jawaban bapak ini. Terus yang bapak pegang apa; SIM, KTP, surat-surat mobil semuanya tidak ada,” kata si polisi dengan nada jengkel.


Mendengar perkataan polisi itu, saya menarik dompet dari saku. Si polisi berpaling ke arah lain membelakangi saya. Mungkin dalam benak oknum polisi itu saya akan mengeluarkan uang dan mengajak damai.
“Yang ada cuma ini saja, pak,” ujarku sambil menyodorkan sebuah kartu.
Ia pun menerima kartu tersebut. Sejenak terlihat dia tampak ragu setelah membaca tulisan di kartu itu.
“Kalau bapak tak percaya, silakan dihubungi alamat yang ada di kartu tersebut,” kataku.
“Tidak, saya percaya, hanya saja bapak tak bilang dari tadi. Bapak sudah membuang-buang waktu saya,” ujarnya sambil permisi dan berpesan agar saya berhati-hati menyetir mobil.


Kartu apakah yang saya sodorkan ke oknum petugas kepolisian itu ? Tak lain adalah kartu sakti, begitu biasa kami menyebutnya; kartu ID wartawan, dan saya memang seorang wartawan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.