Kunjungi Kami Di Tanah Orang - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Rabu, 26 Maret 2014

Kunjungi Kami Di Tanah Orang

Bertemu dengan orang sesuku dan satu bahasa, apalagi seketurunan di kampung orang lain, bagi saya bukan main senangnya.

Hari itu sambil menunggu kedatangan teman-teman dari daerah untuk suatu keperluan ke Jakarta, saya mencari makan terlebih dulu di sebuah resto. Karena memang dari pagi belum sesuap nasi pun masuk kedalam perut.

Di sebelah meja dimana saya makan, terdapat 2 orang pria yang juga sedang makan. Mereka berdua sambil makan bercakap satu sama lain. Dan yang membuat kuping saya tergelitik adalah bahasa yang mereka gunakan bercakap, yakni bahasa daerah saya; bahasa Banjar.


Sambil makan saya terus mengikuti percakapan mereka. Selesai makan, keinginan tahuan terhadap mereka berdua sudah tak terbendung. Saya bangkit dan menanyakan apakah mereka dari Tanah Banjar, ternyata…..alamak, mereka berasal dari daerah lain. Seorang yang agak lebih tua mengaku berasal dari Kuala Tungkal di Jambi, dan temannya dari Indragiri Hilir Riau. Dan mereka berdua mengaku memang keturunan dari etnis Banjar yang migrasi keluar pulau Kalimantan ratusan tahun lalu.

Yang membuat saya salut adalah; mereka mengaku tetap mempertahankan adat istiadat, kesenian, dan bahasa, meski keduanya mengaku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki mereka ke tanah leluhur.

Dengan bahasa Banjar yang sangat fasih dan masih orisinal, keduanya bercerita tentang kehidupan orang-orang Banjar di tanah orang lain. Mereka bercerita tentang kesenian madihin, mamanda hingga wayang Banjar yang masih tetap hidup dan mereka pelihara meski tak berada di tanah leluhur. Sementara ketiga kesenian Banjar itu di tempat aslinya sudah hampir tak dilirik orang, kalah bersaing dengan kesenian modern hasil adaptasi dari negeri Barat.

Perbincangan kami yang hangat itu sehingga hampir melupakan tujuan kami masing-masing. Mereka berdua permisi untuk terbang ke Jambi, sedangkan saya menjemput teman-teman dari Banjarmasin. Kuala Tungkal Jambi, Tembilahan Indragiri Hilir Riau, dan Banjarmasin; tiga tempat berbeda dipisahkan oleh samudera luas, tapi percakapan sejenak kami membuat ketiga tempat itu menjadi dekat; di hati masing-masing. “Semoga kita bisa ketemu lagi. Bila ada kesempatan dan langkah, kunjungi kami di tanah orang,” kalimat perpisahan kami.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.