Kenalanku yang Konghucu Itu Selalu Bayar Zakat? - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Jumat, 14 Maret 2014

Kenalanku yang Konghucu Itu Selalu Bayar Zakat?

foto : totabuanews.com
Suatu hari seorang kenalanku yang berasal dari etnis Tionghoa, dalam satu kesempatan aku berkunjung ke rumahnya, berkata; jika ingin memperoleh berkah dari hasil mencari nafkah, jangan lupa mengeluarkan zakatnya. “Setiap kali aku memperoleh penghasilan dari hasil usaha, aku sisihkan sebagian untuk orang yang tak berpunya,” ungkapnya.

Aku kaget mendengar penuturannya tersebut. Selama ini tak terlintas dalam benakku ada seorang non Muslim yang begitu empati terhadap sesama, dan menyadari bila diantara penghasilannya itu terdapat hak orang lain.
Mungkin yang dimaksud kenalanku itu adalah semacam sedekah, karena dilakukan setiap kali memperoleh rejeki dari hasil usahanya. Aku tahu dan ingat zakat manakala menjelang bulan puasa dan mendekati lebaran saja; zakat fitrah, itupun memilih-milih harga beras yang paling murah.
Sering kudengar para penceramah; ustadz, da’i, ulama, tuan guru, ataupun yang dipanggil habib, menyampaikan tausiyah yang berisi tentang mengingatkan adanya hak orang lain diantara hasil usaha yang kita peroleh. Namun apakah mereka yang menyuarakan dan menyampaikan perihal tersebut sudah terlebih dulu mempraktikkannya (?) Semoga saja kalimat peringatan yang keluar dari mulut mereka itu sudah didahului oleh tangan diatas yang bertindak, bukan tangan dibawah yang berharap kucuran.

Kenalanku tersebut mengaku bahwa ia dan keluarganya menganut kepercayaan Konghucu. Mendengar penuturannya yang lebih tepatnya memperingatkan itu, aku jadi malu hati. Aku yang mengaku Muslim, akan mati-matian membela Islam jika dihujat oleh orang lain, tapi ternyata tak lebih baik dari kenalanku yang etnis Tionghoa dan penganut Konghucu pula.

Selama ini aku pribadi jarang ingat, jarang berempati terhadap mereka yang kurang beruntung. Aku menganggap apa yang sudah kudapatkan, rejeki yang kuterima sebagai hasil dari jerih payah, memeras otak dan menguras tenaga, melupakan DIA yang Maha Berkehendak yang memberi rejeki kepada setiap makhluk.
Tak jarang sebagian dari kita justru menghardik para pengemis yang menadahkan tangan di depan pintu rumah kita, atau justru tanpa berkata sepatah pun kita membanting daun pintu, seolah yang sedang berdiri di depan pintu itu merupakan sosok yang sangat menjijikkan yang tak pantas dipandang dan digubris kehadirannya.
Ya Allah, ampuni dosa hamba ini, ampuni dosa-dosa saudara saudari hamba sesama Muslim baik yang masih hidup maupun yang telah mati, berikan kami kesejahteraan di dunia dan kesejahteraan pula di akhirat, serta hindarkan kami sekalian dari azab api neraka. Berikan pula rahmat dan hidayah-Mu ya Allah kepada kenalanku itu, amin……….


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.