Ledis, Hostes Dan Pelacur - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Senin, 17 Maret 2014

Ledis, Hostes Dan Pelacur

Kalau mendengar kata “ledis”, pastilah ingatan kita kepada kosa kata dalam bahasa Inggris yang maksudnya wanita (halus, sopan). Asal katanya “lady”, karena dalam bentuk jamak, maka menjadi “ladies” atau jika dibaca berbunyi “ledis”.

Namun ledis yang akan aku bicarakan disini bukan masalah pengertian maupun maksud dari sebuah kosa kata itu, tapi lebih kepada mengetahui siapa dan bagaimanakah si ledis itu.
Menurutku istilah ledis ini merupakan pengganti dari istilah lain yang sudah jarang digunakan kini, yakni “hostes”, yaitu para wanita pekerja di tempat hiburan, kebanyakan tempat hiburan yang buka pada malam hari hingga menjelang subuh.


Di kampungku dulu jika seorang wanita sampai disebut seorang hostes atau berprofesi sebagai hostes, berarti sudah dianggap bermoral bejat yang tak lebih dari seorang wanita yang tak lagi memiliki kehormatan, sama saja dengan seorang pelacur.

Kini sebutan hostes sudah jarang terdengar, tapi bergeser dan berganti menjadi sebutan ledis. Pekerjaannya sama saja, di tempat hiburan, melayani para pengunjung tempat hiburan; pub, bar, karaoke room, maupun ruangan yang menampilkan live music. Para ledis tersebut setahuku selain mendapat bayaran dari pihak pemilik tempat hiburan, juga mendapat tip dari para tamunya diluar dari tarif per jam atau per paket (biasanya untuk 3 jam). Di beberapa tempat hiburan malam di daerahku, tarif per jam para ledis itu sebesar Rp 75 ribu dengan minimal di-booking untuk selama 3 jam.



Suatu hari aku diundang seorang kenalan yang merayakan ulang tahunnya di sebuah ruangan musik karaoke di sebuah hotel.
Bersama seorang teman aku datang ke undangan tersebut. Disana sudah menunggu kenalan yang mengundang itu bersama para undangannya yang lain berikut beberapa orang ledis yang berpenampilan seksi dengan busana belum jadi atau kekurangan bahan (sebutanku untuk busana minim).


Aroma asap rokok bercampur bir menyeruak ke seluruh ruangan. Para undangan yang tak terbiasa minum bir atau sejenisnya disediakan dan disuguhi minuman ringan.
Setelah acara wajib layaknya ulang tahun; tiup lilin sambil bernyanyi serta potong kue, selanjutnya acara bebas; minum-minum dan nyanyi yang diiringi perangkat musik karaoke.


Karena aku dan teman datang agak terlambat, maka kami berdua tak kebagian ditemani oleh ledis, karena pihak tempat hiburan kehabisan stok. Maka kami berdua jadi penonton yang cukup kecewa (jelas kecewa karena tak ditemani ledis seksi, hehehe).
Semua ledis yang berjumlah 11 orang yang menemani kami di ruangan tersebut ternyata sudah memang terbiasa dengan minuman beralkohol. Mereka semua sangat menikmati bir yang disediakan.


Cahaya listrik yang tadinya terang, diganti dengan cahaya yang redup. Suasana didalam ruangan pun jadi remang-remang. Beberapa lagi dangdut sudah mengalun dari para undangan. Ditambah dengan bir yang mengalir ke tenggorokan dan masuk ke perut, bergoyang mengikuti alunan musik dangdut yang bertempo cepat, suasana pun semakin meriah; yang ada hanyalah kemeriahan dan kesenangan (lupa kalau sedang punya utang), apalagi bergoyang sambil ditemani ledis seksi yang meliuk-liukkan badannya.

Beberapa diantara ledis itu tampak mulai mabuk. Kenalanku yang berulang tahun itu meminta kepada salah seorang ledis untuk mau berjoget dan bergoyang diatas meja minuman yang disulap instant bak panggung. Ledis yang sedang mabuk, berbusana minim itu pun naik ke atas meja, sementara yang lainnya berdiri di sekitar meja. Puncaknya adalah, kenalanku itu menawarkan uang sebesar Rp 1 juta kepada ledis yang bergoyang diatas meja itu untuk melepas bajunya sambil terus bergoyang. Wow, ternyata si ledis menerima tawaran tersebut dengan syarat bayar langsung. Kenalanku itu pun mengangsurkan uang yang dijanjikannya (siapa takut).
Si ledis mabuk pun melepas bajunya, tinggal bra penutup dada dan underrock-nya yang pendek hampir tampak selangkangannya. Payudara si ledis yang lumayan besar yang hampir separuhnya menyembul itu pun menjadi pemandangan gratis bagi semua pasang mata lelaki di ruangan tempat hiburan itu (termasuk juga aku, glek).


Di akhir acara, sebelum aku pamit dengan kenalan yang mengundang itu, ia sempat menawarkan kalau-kalau aku ada minat untuk booking seorang ledis buat “ngamar” di hotel. Aku yang penasaran bertanya berapa biaya yang mesti dikeluarkan untuk itu. Menurut kenalanku itu, mesti bayar uang charge dulu ke pihak pengelola tempat hiburan sela 20 jam (dengan hitungan tarif per jam ledis), yang berarti sevesar Rp 1,5 juta. Lalu menyewa kamar hotel (tarif termurah Rp 350 ribu), kemudian bayar jasa pelayanan ledis yang plus plis plus. Kuhitung-hitung jumlahnya cukup banyak. Akhirnya kuputuskan lebih baik pulang saja. “Lain kali kalau berminat, bisa saja datang dan nego sendiri, semua ledis itu bisa ‘dipakai’,” ungkap kenalanku itu sambil menggandeng seorang ledis cukup cantik dan seksi yang sejak awal menemaninya. Melihat kenalanku itu bayanganku adalah aktivitas mesum layak sensor di tempat tidur. Dan ternyata para ledis itu juga ada yang berprofesi ganda sebagai pelacur. Lalu tempat hiburan itu pun dapat dikatakan sebagai tempat prostitusi terselubung.

Selain yang telah kulihat sendiri aktivitas para ledis di tempat hiburan, juga aku mendengar cerita dari beberapa teman, yang mirip seperti yang kuketahui. Kupikir bila di tempat hiburan di daerahku, di sebuah kota kecil saja kehidupan para ledis sudah sedemikian rupa, bagaimana di kota-kota besar yang tingkat persaingannya tinggi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.