Mari Mengenal Dan Berbahasa Banjar - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Senin, 03 Maret 2014

Mari Mengenal Dan Berbahasa Banjar

foto : rizmarizma.blogspot.com

Bahasa Banjar adalah bahasa sehari-hari yang digunakan oleh suku (etnis) Banjar untuk berkomunikasi dalam pergaulan.


Suku atau etnis Banjar ini mayoritas mendiami wilayah Propinsi Kalimantan Selatan, sehingga identik dengan propinsi tersebut, apalagi kata “Banjar” sendiri melekat pada nama ibukota Propinsi Kalimantan Selatan yakni Banjarmasin, juga pada nama Kabupaten Banjar yang beribukota Martapura, serta Kota Banjarbaru yang dulunya merupakan Kota Administratif.

Perihal bahasa Banjar ini terbagi menjadi 2 dialek; bahasa Banjar Hulu, dipergunakan oleh masyarakat yang berada di kawasan yang kini disebut Banua Anam (Benua Enam) yang dulunya sebelum terjadi pemekaran kabupaten masih disebut Banua Lima. Kawasan Banua Anam ini terbagi menjadi beberapa kabupaten yakni; Kabupaten Tapin, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Balangan dan Kabupaten Tabalong.

Kemudian bahasa Banjar dialek lainnya adalah Bahasa Banjar Kuala (Muara). Dialek ini dipergunakan oleh masyarakat etnis Banjar yang mendiami kawasan Kabupaten Banjar, Kota Banjarbaru, Banjarmasin, Kabupaten Barito Kuala, Tanah Laut, Tanah Bumbu dan Kotabaru.

Perbedaan kedua dialek Bahasa Banjar ini terletak pada kosa kata, pengucapan, dan penggunaan huruf vokal. Pada dialek Bahasa Banjar Hulu terdapat banyak kosa kata yang sudah jarang digunakan pada dialek banjar Kuala. Kemudian cara pengucapan kalimat pada percakapan, dimana Banjar Hulu terdapat irama tertentu, serta cara pengucapannya yang agak cepat sehingga mereka yang belum mengerti bahasa dan dialek tersebut akan kesulitan menangkap arti dan maksudnya. Kemudian penggunaan vokal pada dialek Banjar Hulu yang dipakai hanya vokal A, I, dan U, sedangkan pada Dialek Banjar Kuala sebaliknya menggunakan seluruh huruf vokal yang tersedia.

Jadi pada dialek Banjar Hulu tak dikenal penggunaan huruf vokal O, E, dan E pepet. Bahkan untuk huruf vokal O lebih lazim disebut sebagai “U bulat”, sedangkan vokal U sendiri disebut dengan “U pecah”.

Adapun dialek Banjar Kuala sebagian besar sudah hampir mirip dengan Bahasa Indonesia.

Susunan cara membentuk kalimat dalam Bahasa Banjar tak berbeda jauh dengan Bahasa Indonesia, yakni menggunakan pola SPO (Subjek + Predikat + Objek) dan keterangan waktu.

Subjek dalam Bahasa Banjar adalah : AKU (saya), IKAM (kamu), KITA (kita), BUBUHANNYA (mereka), dan INYA (dia lelaki/perempuan). Namun beberapa subjek tersebut akan mengalami perubahan jika lawan bicara lebih tua atau merupakan orang yang dituakan, dan atau untuk orang yang dihormati. Misalnya ; subjek AKU berubah menjadi ULUN (sopan), IKAM menjadi PIAN (sopan), dan INYA menjadi SIDIN (sopan). Kemudian diantara subjek itu akan berubah pula jika penyebutannya dalam dialek Banjar Kuala, yakni subjek AKU berubah menjadi UNDA, dan IKAM menjadi NYAWA, namun pengunaan perubahan ini biasanya digunakan pada percakapan terhadap orang yang sebaya, jarang digunakan untuk percakapan yang melibatkan beberapa orang yang berbeda level baik usia maupun strata sosial.

Lalu predikat atau kata kerja dalam Bahasa Banjar, pada kata dasarnya kebanyakan hampir mirip dengan yang digunakan pada Bahasa Indonesia. Hanya saja dikarenakan ada beberapa huruf vokal yang diganti (pada dialek Banjar Hulu), tapi hampir tak terjadi pada dialek Banjar Kuala. Misalnya, kata kerja MENULIS (kata dasarnya TULIS) akan menjadi MANULIS, membaca (baca) > MAMBACA, menangis (tangis) > MANANGIS, berjalan (jalan) > BAJALAN, berangkat > BARANGKAT, mengetik (ketik) > MANGATIK, tertawa (tawa) > TATAWA, meloncat (loncat) > MALUNCAT, dlsbnya.

Namun banyak pula terdapat predikat atau kata kerja dalam Bahasa Banjar yang sama sekali tak sama, tak serupa dengan Bahasa Indonesia. Ini contoh beberapa predikat tersebut ; GURING (tidur), GAWI (kerja), TULAK (pergi), KAMIH (buang air kecil), HIRA (buang air besar), GANA (diam/tinggal), HADANG (tunggu), TUNTUNG (selesai),dllnya.

Untuk keterangan waktu adalah > RAHATAN atau RAHATANNYA (sedang mengerjakan), SATUMAT (sebentar), SATUMAT LAGI (sebentar lagi), LAWAS (lama), HARI INI (hari ini), WAYAH INI atau biasa disingkat WAHINI (saat ini), KAINA (nanti), KAMARIAN KAINA (sore nanti), SAMALAM (kemaren atau beberapa hari lalu), ISUK (besok), KA’ISUKANNYA (besok lusa), MALAM TADI (tadi malam), MALAM SAMALAM (malam lalu), MINGGU SAMALAM (minggu lalu), BULAN SAMALAM (bulan lalu), TAHUN SAMALAM (tahun lalu).

Contoh kalimat :

“AKU RAHATAN GURING PAS IKAM DATANG KA RUMAHKU” (Aku sedang tidur ketika kamu datang ke rumahku).

“LAWAS KAH LAGI HANYAR TUNTUNG GAWIAN IKAM ?” (Masih lama kah pekerjaanmu selesai ?)

“AKU ISUK HANDAK TULAK KA BANJARMASIN” (Aku besok akan pergi ke Banjarmasin)

“HADANGI AKU SATUMAT” (Tunggu aku sebentar)


- Berhitung dalam Bahasa Banjar

Berhitung dalam Bahasa Banjar juga terdiri dari 2 dialek. Untuk dialek Banjar Hulu berhitung adalah ; satu, dua, talu (tiga), ampat, lima, anam, pitung (tujuh), dalapan,sanga (sembilan), sapuluh, sawalas (sebelas), duawalas (duabelas), dan seterusnya, kemudian, duapuluh, duapuluh satu atau salikur, duapuluh dua, duapuluh talu, duapuluh ampat, salawi (duapuluh lima), dan seterusnya, talungpuluh(tigapuluh), patangpuluh (empatpuluh), pitungpuluh (tujuhpuluh), dan seterusnya, saratus, taluratus, patangratus, pitungratus, saribu, taluribu, pitungribu, sajuta, dan seterusnya.

Adapun berhitung dalam dialek Banjar Kuala, sama halnya dengan berhitung dalam penyebutan Bahasa Indonesia.

Contoh :

(1) “Kami bagana di Banjarmasin ini sudah talu hari” (dialek Banjar Hulu)

(2) “Kami bagana di Banjarmasin ini sudah tiga hari” (dialek Banjar Kuala)

Artinya : Kami tinggal di Banjarmasin sudah tiga hari

(3) “Haraga salawar ini pitungpuluh ribu” (dialek Banjar Hulu)

(4) “Haraga salawar ini tujuhpuluh ribu” (dialek Banjar Kuala)

Artinya : Harga celana ini tujuhpuluh ribu

- -  Penyebutan jumlah

Untuk penyebuatan jumlah suatu benda atau orang dalam Bahasa Banjar, baik dialek Banjar Hulu maupun Banjar Kuala hampir tak ada bedanya, yakni ; untuk jumlah orang menggunakan artikel “urang” dan “ikung”. Namun artikel “ikung” ini dapat juga dipergunakan untuk menyebut jumlah hewan atau binatang.

Contoh :

“Ada barapa urang nang handak tulakan ?”

Artinya : Ada berapa orang yang akan berangkat ?

“Haraga talu ikung hayam ini pitungpuluh lima ribu”

Artinya : Harga tiga ekor ayam ini tujuhpuluh lima ribu.

Adapun untuk penyebutan jumlah benda lainnya menggunakan artikel ; “bungkus” (bila berupa bungkusan), “biji atau bigi” (berupa biji atau buah), “lambar” (jika bentuknya lembaran), selanjutnya melihat kepada bentuk benda yang akan disebut.

Contoh :

“Tulung pang tukar akan nasi lima bungkus”

Artinya : Tolong belikan nasi lima bungkus.

“Barapa haraganya nyiur anum ini sabiji (sabigi) ?”

Artinya : Berapa harga kelapa muda ini satu biji ?

“Abahku manukar akan baju gasan aku 2 lambar”

Artinya : Ayahku membelikan baju untukku 2 helai.

- - Kata kepunyaan (kepemilikan)

Untuk menunjukkan atau mengungkapkan kepunyaan atau kepemilikan dalam Bahasa Banjar yakni dengan mencantumkan kata “ampun” yang berarti milik.

Contoh : ampunku atau ampun unda atau ampun ulun (milikku), ampun ikam atauampun nyawa atau ampun pian (milikmu), ampunnya, ampun inya, atau ampun sidin(miliknya), ampun kita (milik kita), ampun bubuhannya (milik mereka).

Contoh kalimat :

“Sapida mutur itu ampunku”

Artinya : sepeda motor itu milikku.

“Ulun handak ba-ilang ka rumah sidin”

Artinya : Saya mau bertamu ke rumahnya (sopan).

“Kamana ma-andak ampun bubuhannya tadi ?”

Artinya : Kemana meletakkan milik mereka tadi ?

Nah, sampai disini dulu perjumpaan kita, akan disambung kembali pada tulisan berikutnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.