Merah Putih Kalah dengan Keperluan Puasa dan Lebaran - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Sabtu, 15 Maret 2014

Merah Putih Kalah dengan Keperluan Puasa dan Lebaran

Perayaan HUT Kemerdekaan RI tahun ini di kotaku tampak tak semarak. Entah karena warga lebih fokus terhadap ibadah puasa, atau memang mereka sudah mulai tak peduli lagi dengan berbagai acara berbau seremonial.

Tak banyak lagi warga kotaku yang memasang bendera di depan rumah mereka. Kalau beberapa tahun lalu, di setiap rumah warga terdapat tempat untuk memasang tiang bendera, kini hampir seluruh rumah warga tak menyediakannya lagi. Kalaupun ada yang memasang bendera, tiangnya terdiri dari batang bambu, batang pohon kecil, atau bilah kayu berukuran kecil yang biasa digunakan untuk penopang atap rumah.
Yang tampak memasang bendera kebanyakan hanya kantor instansi, itupun dipasang menjelang hari peringatan, tidak jauh-jauh hari sebelumnya.

courtesy : jelajahbelitung.com

Suasana yang berbau merah putih yang dulunya mendominasi di tiap lingkungan warga, kini tinggal kenangan, kalah dengan perhatian dan keperluan warga yang lainnya.


Beberapa penjual bendera serta atribut khas peringatan kemerdekaan, yang menggelar jualannya di tepi jalan, tampak sepi. Warga lebih memilih menyerbu tempat-tempat yang menjual bermacam kue dan masakan untuk berbuka puasa, atau ke toko-toko pakaian dan Sembako untuk menyambut datangnya hari lebaran yang sudah di depan mata.

Jika dulu hampir setiap lingkungan RT, RW dan Desa, digelar berbagai macam perlombaan dan hiburan untuk memeriahkan HUT kemerdekaan, kini senyap. Tak ada lagi lomba balap karung, lomba makan kerupuk, lomba sendok kelereng, panjat pinang, pun tak ada artis kampung yang bergoyang di panggung hiburan dengan membawakan lagu-lagu yang diiringi joget para penontonnya.

Sudah begitu mulai menipisnya kah rasa kebangsaan warga ? Entahlah. Mungkin mereka kini lebih memikirkan dan mengedepankan berusaha memenuhi kebutuhan hidup yang semakin hari semakin kian mencekik. Mungkin juga mereka sudah terlalu bosan dengan hal-hal yang berbau seremonial sambil perlahan memendam nostalgia perjuangan para pahlawan perebut kemerdekaan.
Tak menutup kemungkinan ada pula yang berpikir semua itu masa lalu; mengisi kemerdekaan lebih sulit daripada sekedar upacara dan acara seremonial yang tentunya memerlukan dana.


Dirgahayu Indonesia !
Maafkan warga kota kami yang terlalu sibuk memikirkan masa depan mereka masing-masing.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.