Mungkinkah Presiden Indonesia Dari Non Jawa? - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Selasa, 11 Maret 2014

Mungkinkah Presiden Indonesia Dari Non Jawa?

Siapa saja dan etnis apa saja di negeri ini boleh bercita-cita dan berharap ingin jadi presiden NKRI, asalkan memenuhi segala persyaratan, dan lebih penting lagi; banyak duit.

Setiap warga negara punya hak untuk memilih dan dipilih jadi presiden, begitu bunyi konstitusi. Tapi terdapat beberapa hal yang tak termaktub dalam konstitusi tersebut yang juga mesti diingat, antara lain; presiden NKRI mestilah beragama Islam, serta dari etnis Jawa. Ini bukan SARA, tapi faktanya selama ini sudah berlaku dan sedang akan terus berlangsung. Hal tersebut karena; pertama, mayoritas rakyat NKRI beragama Islam, dan etnis mayoritas adalah suku Jawa, yang tersebar hampir di seluruh wilayah NKRI, dari Sabang hingga Papua.

Beberapa Presiden NKRI terpilih sudah jelas dari etnis Jawa; Soekarno, Soeharto, Abdurrahman Wachid, Megawati Soekarnoputri, dan Susilo Bambang Yudhoyono. Kalaupun kita masukkan 3 nama yang pernah menduduki kursi kepresidenan di NKRI ini yakni, BJ Habibie, beliau bukan presiden terpilih tapi pengganti sesuai aturan yang berlaku sebagai Wakil Presiden menggantikan presiden yang mengundurkan diri.
Kemudian Sjafroedin Prawiranegara, beliau ini dapat juga dikategorikan presiden, karena ditunjuk membentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia di Bukittinggi, mengisi kevakuman jabatan kepresiden ketika Bung Karno dan Bung Hatta diasingkan Belanda ke Pulau Bangka. Lalu Mr. Assaat, selaku Akting Presiden saat terjadi agresi militer Belanda atas Indonesia yang ibukotanya dipindahkan sementara ke Jogyakarta.


Para Calon Presiden dari non Muslim dan non Jawa, boleh saja berwacana untuk mengubah sejarah kepresidenan di negeri ini.
Kalaupun misalnya ibukota NKRI dipindah keluar pulau Jawa, belum tentu menjamin presiden terpilih nantinya berasal dari etnis non Jawa, karena diantara sekian banyak pemilih di negeri ini sudah pasti yang terbanyak merupakan etnis Jawa. Kita tak dapat memungkiri bahwa rasa kesukuan ataupun sentimen etnis di negeri yang multi etnis ini masih sangat kental.
Contohnya saja, jika berkenalan satu sama lain, selain menanyakan nama, yang akan akan ditanyakan selanjutnya adalah; orang mana, yang konotasinya adalah etnis apa. Masing-masing etnis di NKRI ini merasakan punya ciri khas dan cenderung menjadi kebanggaan.
Kita lihat saja 2014 nanti diantara Capres yang sudah mulai digadang-gadang itu siapa diantaranya yang akan terpilih, jika yang terpilih adalah Capres dari etnis non Jawa, itu suatu keajaiban.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.