Cuma Ada Satpam di Situs Candi Tikus - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Selasa, 11 Maret 2014

Cuma Ada Satpam di Situs Candi Tikus

Hanya tampak seorang pria setengah baya yang duduk dalam pos setelah pintu masuk situs Candi Tikus di wilayah Kabupaten Mojokerto Jawa Timur. Aku lebih suka menyebutnya petugas Satpam ketimbang lainnya, karena pria itu lebih pas sebagai seorang Satpam ketimbang petugas pariwisata. Sebab pria itu sama sekali tak memberikan informasi apapun ke saya dan ketiga teman lainnya, kecuali mengangsurkan buku tamu dan kemudian meminta sumbangan sukarela untuk perawatan situs sejarah mala lampau itu.

Kami pun memasuki lokasi situs, tak tampak bangunan seperti candi seperti yang tampak pada candi Prambanan, Mendut maupun Borobudur yang terkenal itu. Yang tampak adalah bangunan seperti bata atau batako tersusun yang berada di tengah dan di tepi kolam yang tak terlalu besar dengan airnya yang kehijauan.
Seorang teman menggumam mempertanyakan kenapa dinamakan Candi Tikus, sedangkan dari detil bangunan candi itu tak satu pun yang mewakili sosok binatang pengerat yang dijadikan ikon korupsi itu.




Di siang yang panas itu hanya ada kami berempat yang menyempatkan waktu menyewa sebuah mobil taksi dari Surabaya dengan tujuan ingin menyaksikan secara langsung peninggalan kebudayaan Indonesia masa lampau. “Kalau cuma bangunan seperti ini, kita juga bisa membangunnya di daerah kita dengan memperkerjakan para warga transmigran dari pulau Bali,” cetus teman dengan nada kecewa. Saya cuma diam mendengar keluhan teman itu sambil melangkah ke arah susunan tumbuhan pinus yang tampak berjajar rapi mengurangi keterikan panas matahari. Dua orang murid SD yang berseragam Pramuka berselisihan dengan kami yang melangkah keluar dari lokasi situs purbakala itu. Tak ada kesan apapun yang dapat saya bawa pulang ke kampung halaman selain hanya beberapa frame foto di situs tersebut, dan cerita bahwa saya sudah mennyaksikan sendiri Candi Tikus.

Perjalanan kami selanjutnya adalah ke Museum Majapajit, yakni berbalik menyusuri jalan ke arah pulang. Di museum ini sangat berbeda dari yang kami temukan di situs Candi Tikus. Disini kami mendapatkan banyak informasi dari beberapa orang pemandu yang terus melayani pertanyaan kami terhadap setiap benda dan artefak yang terdapat disitu.
Kami pikir Pemerintah Daerah setempat khususnya Dinas Pariwisata seyogiyanya mesti menyediakan tenaga pemandu yang benar-benar mengerti dan menguasai hal-hal yang terkait dengan peninggalan kepurbakalaan, bukan hanya memasang seorang petugas Satpam. Akan percuma memasang promosi atau iklan tempat wisata jika tak diimbangi dengan informasi dan pelayanan bagus di tempat wisata terkait.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.