Pemimpin dan Pejabat STMJ - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Senin, 31 Maret 2014

Pemimpin dan Pejabat STMJ

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Recite what is sent of the Book by inspiration to thee, and establish regular Prayer: for Prayer restrains from shameful and unjust deeds; and remembrance of Allah is the greatest (thing in life) without doubt. And Allah knows the (deeds) that ye do.
(Al Ankabut : 45)


Bacalah kitab yang dikirim dan diilhamkan olehNya kepadamu, dan dirikanlah shalat: sesungguhnya shalat itu mencegahmu dari perbuatan keji dan munkar: dan berzikirlah kepada Allah hal tanpa keraguan. Dan Allah mengetahui (perbuatan) yang kamu lakukan.

Para pemimpin dan pejabat publik di Selandia Baru (New Zealand) dan Denmark dipastikan nyaris tidak pernah tahu dan membaca ayat dari al qur’an diatas. Karena kedua negara tersebut para pemimpin dan pejabat publiknya sebagian besar adalah non Muslim.

Namun ada yang mencengangkan, menurut yang pernah saya dengar dari sebuah media, di Selandia Baru dan Denmark nyaris bebas dari korupsi. Para pemimpin dan pejabat di kedua negara itu tak malu berlaku hidup sederhana; jalan kaki, bersepeda dan memakai jas sederhana ke kantor mereka untuk memberikan pelayanan kepada publik. Kondisi seperti ini yang bertolak belakang jauh dengan yang terjadi di Indonesia yang mayoritas rakyat dan para pemimpin serta pejabatnya beragama Islam. Disini, di Indonesia, sebagian besar para pemimpin dan pejabat justru tak punya rasa malu. Mereka malu berlaku hidup sederhana di tengah rakyatnya yang sebagian miskin. Di Selandia Baru dan Denmark; para pemimpin dan pejabat publik tidak malu berlaku hidup sederhana diantara rakyatnya yang sebagian besar bisa dikatakan sejahtera.
Dan hebatnya lagi di kedua negara tersebut tidak ada yang namanya KPK maupun yang sejenisnya.


Kita tentu tahu sebagian besar pemimpin dan pejabat publik di negeri ini tampak atau tak jarang setidaknya menampakkan kereligiusan mereka, dan piawai jika bicara soal moral dan hukum agama. Mereka yang Muslim tak sedikit yang (tampak) taat menjalankan ibadah terutama shalat. Di tiap-tiap kantor pemerintah dan fasilitas umum hampir selalu diperlengkapi dengan tempat shalat. Tapi nyatanya apa ?

Mereka shalat, memohon agar ditunjukkan jalan yang lurus
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ dalam shalatnya, namun setelahnya tetap saja melakukan berbagai kemaksiatan; perbuatan keji dan kemunkaran, melakukan korupsi.
Kondisi yang sedemikian rupa mengingatkan saya pada akronim STMJ, bukan kepanjangan dari Susu, Telur, Madu dan Jahe yang dapat menyehatkan tubuh, namun kepanjangan yang diplesetkan SHALAT TERUS MAKSIAT JALAN.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.